Tiar Simorangkir (dok. Tiar Simorangkir)
Tiar sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi, Universitas Riau. Oleh karena itu, perempuan berkacamata ini mengaku gak mendapat pendidikan mendasar tentang film secara resmi.
Momen jatuh cintanya pada dunia sinema dimulai sejak ia masih kecil. Saat itu, Tiar begitu keranjingan menonton aneka film yang tayang di televisi rumahnya. Ia tetap menyaksikan tayangannya walau film itu menggunakan bahasa Inggris yang belum ia pahami.
Ia berasal dari keluarga besar dengan kondisi yang sederhana. Ia juga selalu dididik untuk belajar dan bekerja keras demi menempuh kehidupan yang lebih layak. Singkat cerita, Tiar pun akhirnya berhasil menuntaskan gelar S1-nya dan merantau ke Jakarta untuk bekerja di salah satu perusahaan.
Setelah bertahun-tahun survive di Ibukota, Tiar kembali teringat akan impiannya untuk berkarya di dunia film.
"Tapi, hati saya selalu bilang kalau ada rasa penasaran pengen bikin film. Dan, saya pengen banget nulis skenario," ujar Tiar.
Di tahun 2011, tepatnya ketika Tiar berusia 32 tahun, ia pun memberanikan diri untuk mencari pekerjaan di dunia film. Dimulai dari mencari lowongan pekerjaan di koran sampai mengontak orang-orang asing di media sosial.
Dari salah satu percakapan di Facebook, Tiar pun berhasil mendapat magang untuk mempersiapkan pra-produksi untuk film Soegijapranata yang disutradarai Garin Nugroho. Saat itu, posisinya ia masih bekerja di perusahaan yang sama.
Setelah syuting 6 bulan di penjara untuk produksi film "Invisible Hopes" yang disutradarai dan diproduserinya, Tiar pun terpaksa kehilangan pekerjaan dan harus menjual mobilnya demi kelanjutan proyek film.
"Jadi, perjuangannya udah berat banget, tapi ya alhamdulillah sampai sekarang bisa kelar ya," katanya sambil tersenyum.