Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Itu Hijrah dalam Islam? Ini Makna, Dalil, dan Jenisnya
ilustrasi membaca Al Qur'an (freepik.com/freepik)
  • Hijrah dalam Islam bermakna perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, mencakup perubahan sikap, keyakinan, dan perilaku demi ketaatan kepada Allah SWT, bukan sekadar perubahan penampilan.
  • Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah menjadi tonggak penting sejarah Islam yang menandai awal kalender Hijriah serta pembentukan masyarakat berlandaskan iman dan persaudaraan.
  • Hijrah berlaku sepanjang masa sebagai kewajiban spiritual untuk terus memperbaiki diri, meninggalkan dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah selama pintu tobat masih terbuka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Hijrah dalam Islam dijelaskan sebagai proses berpindah dari keburukan menuju kebaikan, baik secara fisik maupun maknawi, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjaga keimanan.
  • Who?
    Rasulullah SAW bersama para sahabat menjadi teladan utama dalam peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M untuk menyelamatkan dakwah Islam.
  • Where?
    Peristiwa hijrah berawal di Kota Makkah dan berakhir di Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah, tempat berkembangnya masyarakat Islam pertama.
  • When?
    Hijrah Rasulullah SAW terjadi pada tahun 622 Masehi dan dijadikan awal penanggalan Hijriah; kewajiban hijrah secara maknawi berlaku sepanjang masa hingga akhir zaman.
  • Why?
    Hijrah dilakukan untuk menjaga keselamatan iman, menghindari tekanan kaum Quraisy, serta membangun masyarakat yang berlandaskan keadilan dan ketaatan kepada Allah SWT.
  • How?
    Rasulullah SAW berhijrah secara sembunyi-sembunyi bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq menuju Madinah, lalu membentuk komunitas muslim yang bersatu melalui Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan sosial baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Istilah hijrah semakin sering kamu dengar dalam kajian agama, media sosial, hingga percakapan sehari-hari di kalangan anak muda. Banyak orang memaknai hijrah sebagai perubahan penampilan atau gaya hidup yang lebih religius, padahal maknanya jauh lebih dalam dari sekadar itu. Dalam sejarah Islam, hijrah merujuk pada perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M demi menjaga keselamatan dan keberlangsungan dakwah.

Namun, secara syariat, apa itu hijrah dalam Islam mencakup perubahan sikap, keyakinan, dan perilaku menuju ketaatan kepada Allah SWT. Pemahaman yang utuh tentang hijrah penting agar kamu tidak terjebak pada makna yang sempit atau sekadar tren sesaat. Supaya lebih jelas, berikut penjelasan lengkap tentang apa itu hijrah dalam Islam beserta dalil dan ragam maknanya.

1. Mengenal makna hijrah dalam Islam secara menyeluruh

ilustrasi beribadah (pexels.com/Michael Burrows)

Secara bahasa, hijrah berasal dari kata Arab “hajara” yang berarti meninggalkan, menjauh, atau berpindah dari satu keadaan menuju keadaan lain yang dianggap lebih baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hijrah diartikan sebagai perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama para pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menghindari tekanan dan ancaman kaum Quraisy. Pengertian ini menegaskan bahwa hijrah pada awalnya memang berkaitan dengan perpindahan fisik yang dilandasi tujuan menyelamatkan iman dan keselamatan diri dari ancaman nyata.

Namun, jika dipahami lebih luas, apa itu hijrah dalam Islam tidak hanya terbatas pada perpindahan tempat secara geografis, melainkan juga perpindahan dari keburukan menuju kebaikan dalam seluruh aspek kehidupan. Rasulullah SAW menjelaskan makna hijrah melalui sabdanya berikut:

الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa hijrah adalah proses meninggalkan segala bentuk larangan Allah SWT, baik berupa dosa besar maupun kebiasaan kecil yang menjauhkan diri dari ketaatan. Dengan demikian, hijrah menjadi bentuk transformasi diri yang membutuhkan kesadaran, komitmen, serta usaha yang konsisten agar perubahan tersebut benar-benar membawa dampak positif dalam kehidupan dunia dan akhirat.

2. Penjelasan hijrah dalam Al-Qur’an dan dalilnya

ilustrasi membaca Al Qur'an (freepik.com/freepik)

Al-Qur’an menyebutkan kata hijrah dalam berbagai ayat dengan konteks yang beragam, sehingga memperlihatkan bahwa maknanya tidak tunggal dan sangat luas. Salah satu ayat yang menjelaskan tentang hijrah terdapat dalam Surah Al-Ankabut ayat 26:

فَاٰمَنَ لَهٗ لُوۡطٌ‌ۘ وَقَالَ اِنِّىۡ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّىۡ ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُ

“Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku harus berpindah kepada Tuhanku; sungguh Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.’” (QS. Al-Ankabut: 26)

Ayat ini menggambarkan hijrah sebagai bentuk perpindahan yang dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjaga keimanan dari ancaman lingkungan yang tidak mendukung. Hijrah dalam konteks ini bukan sekadar keputusan sosial, tetapi bentuk ketaatan dan kepercayaan penuh kepada petunjuk Allah SWT yang diyakini membawa kebaikan.

Makna hijrah juga ditegaskan dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 5 yang berbunyi:

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji.” (QS. Al-Muddatstsir: 5)

Ayat tersebut memperjelas bahwa hijrah berarti meninggalkan segala bentuk perbuatan tercela, maksiat, dan keburukan yang dapat merusak akhlak serta keimanan seseorang. Dari sini dapat dipahami bahwa apa itu hijrah dalam Islam menurut Al-Qur’an mencakup dimensi spiritual, moral, dan sosial yang saling berkaitan dalam membentuk karakter seorang muslim yang bertakwa.

3. Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan latar belakangnya

ilustrasi membaca Al Qur'an (freepik.com/freepik)

Peristiwa hijrah Rasulullah SAW merupakan salah satu momen paling penting dalam sejarah perkembangan Islam yang membawa perubahan besar bagi umat muslim. Selama di Makkah, Rasulullah SAW dan para sahabat mengalami tekanan berat berupa boikot ekonomi, penyiksaan fisik, hingga ancaman pembunuhan dari kaum Quraisy yang menolak ajaran tauhid. Kondisi tersebut membuat hijrah menjadi langkah strategis yang tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga kelangsungan dakwah Islam agar dapat berkembang di tempat yang lebih kondusif.

Pada tahun 622 M, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggalkan Makkah secara sembunyi-sembunyi dan menempuh perjalanan panjang menuju Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai Madinah. Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW membangun masyarakat yang berlandaskan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar serta menyusun Piagam Madinah sebagai fondasi kehidupan sosial yang adil dan harmonis. Peristiwa hijrah ini kemudian dijadikan sebagai awal penanggalan kalender Hijriah karena memiliki makna strategis dan spiritual yang sangat mendalam bagi perjalanan umat Islam sepanjang masa.

4. Jenis-jenis hijrah yang perlu kamu pahami

ilustrasi beribadah (pexels.com/Thirdman)

Dalam praktiknya, hijrah tidak hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai proses yang bisa terjadi dalam berbagai bentuk di kehidupan sehari-hari. Para ulama kemudian mengelompokkan hijrah ke dalam beberapa jenis agar umat Islam lebih mudah memahami serta menerapkannya sesuai kondisi masing-masing. Dengan memahami ragamnya, kamu bisa melihat bahwa apa itu hijrah dalam Islam memiliki cakupan yang luas dan relevan di setiap zaman.

a. Hijrah makaniyah

Hijrah makaniyah adalah perpindahan secara fisik dari satu tempat ke tempat lain demi menjaga keselamatan iman dan kebebasan dalam beribadah. Contoh paling nyata dari hijrah jenis ini adalah peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah yang dilakukan karena tekanan dan ancaman dari kaum Quraisy terhadap umat Islam. Dalam konteks masa kini, hijrah makaniyah dapat dimaknai sebagai keputusan berpindah dari lingkungan yang merusak moral atau menghambat ibadah menuju lingkungan yang lebih kondusif untuk pertumbuhan spiritual dan penguatan karakter.

b. Hijrah maknawiyah

Hijrah maknawiyah adalah perpindahan yang bersifat nonfisik, yaitu perubahan dari kondisi batin, pemikiran, dan perilaku yang kurang baik menuju keadaan yang lebih sesuai dengan ajaran Islam. Bentuknya mencakup perbaikan akidah (hijrah i’tiqadiyah), perubahan pola pikir agar selaras dengan nilai Islam (hijrah fikriyah), pengendalian kecenderungan hati dan perasaan (hijrah syu’uriyah), serta perbaikan akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari (hijrah sulukiyyah). Melalui hijrah maknawiyah, seseorang tidak hanya berubah secara simbolik, tetapi juga berproses secara mendalam untuk meninggalkan kebiasaan buruk, meningkatkan kualitas ibadah, serta membangun kepribadian yang lebih matang dan bertanggung jawab.

Dengan memahami macam-macam hijrah tersebut, kamu bisa menyadari bahwa hijrah bukan hanya soal simbol atau penampilan luar semata. Hijrah adalah perjalanan menyeluruh yang melibatkan keyakinan, pola pikir, serta perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, setiap orang memiliki ruang dan kesempatan untuk berhijrah sesuai kapasitas dan tantangan yang dihadapinya.

5. Mengapa kewajiban hijrah berlaku hingga akhir zaman

ilustrasi membaca Al Qur'an (pexels.com/Alena Darmel)

Konsep hijrah tidak berhenti pada masa Rasulullah SAW, karena kewajiban untuk terus memperbaiki diri tetap berlaku selama manusia masih diberi kesempatan untuk bertobat. Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ، وَلَا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Hijrah tidak akan terputus sampai terputusnya tobat, dan tobat tidak akan terputus sampai matahari terbit dari barat.” (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa selama pintu tobat masih terbuka, maka kewajiban untuk berhijrah dalam arti meninggalkan dosa dan memperbaiki diri tetap berlaku bagi setiap muslim. Hal ini juga diperkuat dalam Surah Al-An’am ayat 158 yang berbunyi:

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا

Ayat tersebut menegaskan bahwa akan datang masa ketika iman dan tobat tidak lagi diterima, yaitu ketika tanda-tanda besar kiamat telah muncul. Oleh karena itu, hijrah menjadi kewajiban moral dan spiritual yang harus terus diupayakan selama manusia masih hidup dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya, apa itu hijrah dalam Islam bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan proses berkelanjutan untuk meninggalkan keburukan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hijrah adalah komitmen sadar yang menuntut kesungguhan, kesabaran, serta konsistensi dalam menjalankan ajaran agama di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. Selama pintu tobat masih terbuka, kesempatan untuk hijrah dan menjadi pribadi yang lebih baik akan selalu ada bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin berubah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team