Foto profil THE SIGIT (Dok. THE SIGIT)
Roti dan sirkus, memiliki dua makna emosi yang berbeda. Roti merupakan representasi dari kebutuhan dasar manusia, yaitu makanan. Kemudian, sirkus merupakan elemen kepuasan mental terhadap manusia dalam bentuk hiburan.
Idiom ini berkembang di masa Romawi dan dijadikan strategi politik oleh pemerintahnya demi mengatur rakyat. Mereka memberikan jatah makan gratis, lalu menciptakan sebuah distraksi berupa hiburan massal, seperti pacuan kereta atau gladiator.
Kondisi ini menciptakan degradasi terhadap peran politik masyarakat. Secara perlahan, masyarakat mulai melepas peran politiknya dalam sistem demokrasi, karena sudah mendapatkan makan gratis dari pemerintah. Inilah yang menjadi sorotan Juvenal, karena taring masyarakat Romawi menjadi tumpul, usai disodorkan makanan gratis dari pemerintahnya.
Perspektif Juvenal kemudian ditranslasikan oleh Profesor dari Indiana University, Patrick Brantlinger, dalam bukunya, Bread and Circuses: Theories of Mass Culture as Social Decay, yang diterbitkan pada 1983 silam. Dalam bukunya, Brantlinger menyoroti perilaku masyarakat modern ketika pemerintah rajin memberikan bantuan sosial, hingga akhirnya merasa acuh terhadap peran politiknya.
Kemudian, dia juga menyoroti akses hiburan kepada masyarakat menjadi sangat luas lewat televisi, dan media lainnya. Dari situ, tercipta sebuah kondisi terjadinya degradasi moral. Masyarakat, karena terus dicekoki hiburan dan mendapatkan kepuasan batin, pada akhirnya malas berpartisipasi dalam aktivitas politik. Bagi Brantlinger, dua alat itu merupakan pengantar kehancuran sebuah negara yang pernah diungkapkan oleh Juvenal.