Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bread and Circus The SIGIT: Kritik Kontrol Politik dan Konsumerisme
Foto profil THE SIGIT (Dok. THE SIGIT)
  • The SIGIT merilis single baru berjudul Bread and Circus yang mengangkat kritik terhadap kontrol politik dan konsumerisme, terinspirasi dari idiom Romawi tentang strategi pemerintah mengalihkan perhatian rakyat lewat hiburan.
  • Lirik dan video klipnya menyoroti penyalahgunaan kekuasaan serta sikap apatis masyarakat, dengan simbolisme visual menggambarkan kehampaan di balik glamoritas dan budaya konsumtif modern.
  • Rekti menjelaskan lagu ini sebagai kritik struktural atas perampasan ruang dan eksploitasi sumber daya alam, sekaligus menandai era baru The SIGIT dengan sentuhan psychedelic rock dan formasi personel tambahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - The SIGIT akhirnya comeback dengan mengeluarkan single barunya yang berjudul "Bread and Circus". Menariknya, single ini memiliki dimensi kritik atas kontrol politik pemerintah lewat berbagai dimensi, baik kekuatan maupun atribut lainnya.

Ditinjau dari judul terlebih dulu, "Bread and Circus" sebenarnya merupakan idiom yang muncul dari karya penyair terkenal Romawi, Juvenal, edisi ke-10, dan diterjemahkan ke bahasa Latin: penem et circenses. Penem sama dengan bread jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, yakni roti. Sedangkan circenses memiliki arti serupa dengan circus, yakni sirkus.

1. Roti dan sirkus menjadi representasi strategi pemerintah Romawi

Foto profil THE SIGIT (Dok. THE SIGIT)

Roti dan sirkus, memiliki dua makna emosi yang berbeda. Roti merupakan representasi dari kebutuhan dasar manusia, yaitu makanan. Kemudian, sirkus merupakan elemen kepuasan mental terhadap manusia dalam bentuk hiburan.

Idiom ini berkembang di masa Romawi dan dijadikan strategi politik oleh pemerintahnya demi mengatur rakyat. Mereka memberikan jatah makan gratis, lalu menciptakan sebuah distraksi berupa hiburan massal, seperti pacuan kereta atau gladiator.

Kondisi ini menciptakan degradasi terhadap peran politik masyarakat. Secara perlahan, masyarakat mulai melepas peran politiknya dalam sistem demokrasi, karena sudah mendapatkan makan gratis dari pemerintah. Inilah yang menjadi sorotan Juvenal, karena taring masyarakat Romawi menjadi tumpul, usai disodorkan makanan gratis dari pemerintahnya.

Perspektif Juvenal kemudian ditranslasikan oleh Profesor dari Indiana University, Patrick Brantlinger, dalam bukunya, Bread and Circuses: Theories of Mass Culture as Social Decay, yang diterbitkan pada 1983 silam. Dalam bukunya, Brantlinger menyoroti perilaku masyarakat modern ketika pemerintah rajin memberikan bantuan sosial, hingga akhirnya merasa acuh terhadap peran politiknya.

Kemudian, dia juga menyoroti akses hiburan kepada masyarakat menjadi sangat luas lewat televisi, dan media lainnya. Dari situ, tercipta sebuah kondisi terjadinya degradasi moral. Masyarakat, karena terus dicekoki hiburan dan mendapatkan kepuasan batin, pada akhirnya malas berpartisipasi dalam aktivitas politik. Bagi Brantlinger, dua alat itu merupakan pengantar kehancuran sebuah negara yang pernah diungkapkan oleh Juvenal.

2. Liriknya juga menyoroti penyalahgunaan kekuasaan

Foto cover single Bread & Circus (Dok. THE SIGIT)

Bergeser ke lirik, jika ditinjau dan ditelaah lewat diksi-diksi yang digunakan, jelas ada kritik terhadap bagaimana masyarakat mulai acuh terhadap tindakan pemerintah akibat berbagai akses fasilitas serta hiburan. Selain itu, liriknya juga menyinggung pemerintah atas mandat, kesalahan dalam pengambilan keputusan, sikap tak tahu terima kasih, dan lainnya.

Video klip single ini juga begitu sarat makna. Latar yang berwarna-warni memberikan kesan sarat akan nuansa artistik. Namun, di akhir justru Rekti Yoewono sebagai vokalis, duduk terdiam, dengan tatapan kosong, didandani bak badut, menjadi sebuah gambaran adanya perasaan hampa bagi para penghibur di tengah suasana glamor.

Pose dan gaya Rekti saat itu, mirip dengan lukisan ikonik karya Jan Matejko, Stanzcyk, pada 1862 silam, yang terinspirasi dari fotonya sendiri. Lukisan itu menggambarkan seorang pelawak, Stanzcyk, yang duduk dengan tatapan hampa, tak bisa berekspresi, saat duduk di singgasana. Padahal dalam momen itu, terjadi keriuhan di sekitarnya. Suasana hatinya, ditengarai muncul karena konsumerisme dan glamoritas dunia yang saat itu berkembang.

3. Memang dikeluarkan demi kritik

biodata dan profil The Sigit (Instagram.com/thesigit_)

Single "Bread and Circus" memang diakui oleh Rekti sebagai narasi tentang masalah struktural, terkait isu perampasan ruang dan penggunaan kekuasaan berlebih terkait pengelolaan sumber daya alam serampangan. Single ini juga menjadi pembuka narasi dari ekspresi penulisan The SIGIT di era sekarang. Sebuah pengingat, pada akhirnya, alam dan seisinyalah yang menanggung akibatnya.

Masih setia dengan guitar-driven rock, namun kali ini semakin kental dengan keterlibatan synthesizer dan instrumen elektronik, sebuah gambaran sempurna dari warna psychedelic rock yang akan ditampilkan oleh The SIGIT di era barunya ini.

Diakui Rekti, dimensi dalam "Bread and Circus" menjadi lebih kaya ketika ada tiga personel tambahan yang masuk, Absar Lebeh (gitar), Aghan Sudrajat (bas), dan Raveliza (drum).

"Kehadiran mereka jelas membawa nuansa yang berbeda pada hasil akhir karena cara bermain mereka yang sangat berbeda dengan kebiasaan formasi lama. Perspektif dan perbendaharaan musikal merekalah yang membuka cakrawala dalam pembuatan dan aransemen lagu," kata Rekti dalam siaran pers single "Bread and Circus".

Editorial Team