Cara anak muda memandang pernikahan sedang berubah. Percakapan soal “kapan nikah” perlahan bergeser menjadi “dengan siapa membangun hidup” dan “bagaimana prosesnya lebih aman serta terarah.”
Di tengah dinamika itu, sebagian pemuda Muslim mulai melirik pendekatan yang lebih serius seperti ta’aruf, proses perkenalan dengan niat jelas menuju pernikahan. Fokusnya bukan lagi sekadar chemistry awal, melainkan kesesuaian nilai hidup, visi keluarga, dan kesiapan berkomitmen.
Perubahan pola pikir ini sejalan dengan tren sosial yang lebih luas. Data menunjukkan mayoritas pemuda Indonesia pada 2025 masih berstatus belum menikah, mencapai 71,04 persen. Dalam satu dekade terakhir, angka pernikahan nasional juga menurun sekitar 30 persen, dari 2,1 juta pernikahan pada 2014 menjadi 1,47 juta pada 2024.
Bagi generasi muda, perjalanan menuju pernikahan kini terasa lebih kompleks. Tekanan ekonomi, perubahan prioritas hidup, hingga pengalaman relasi di ruang digital menjadi faktor yang ikut memengaruhi.
