Dengan balutan musik art rock ala akhir 80-an dan awal 90-an yang digubah oleh Rendi, dan dibantu oleh musisi sekaligus sesama alumni PL yakni Dave Lumenta pada kibor dan synthesizer serta Leonardo Ringo pada vokal latar, The Hours of Silence terdengar seperti band dengan kematangan yang sesuai usia para personelnya namun disertai energi selayaknya sekumpulan pemuda yang untuk pertama kalinya merasakan euforia bermain musik dengan teman-teman yang satu frekuensi.
Single “Headlong Journey (Quarantine)” juga menegaskan bahwa kembalinya The Hours of Silence setelah vakum 23 tahun bukan sekadar ajang nostalgia bagi Yuka, Anda dan Quiddo, yang pada era kejayaan THOS di masa SMA dulu sempat menjual 500 kopi kaset berisi dua lagu orisinal. Kembalinya mereka, dengan mengajak Rendi, teman seangkatan mereka di PL untuk melengkapi formasinya, pada awalnya sekadar untuk tampil di reuni akbar sekaligus ulang tahun ke-50 almamater.
Namun, kini The Hours of Silence menuangkan pengalaman tak ternilai yang mereka dapatkan dari perjalanan hidup dan karier bermusik masing-masing, Yuka sebagai produser beragam artis seperti Sketsa dan Voice of Baceprot, Anda sebagai gitaris dan vokalis grup Bunga yang kemudian berkarier solo dan membentuk duo Matajiwa, Rendi sebagai anggota kuartet pop rock Bragi, ke dalam sebuah kolektif yang mengutamakan ekspresi dan eksplorasi sebebas mungkin melalui musik yang mereka ciptakan bersama. Oleh sebab itu, nantikan karya-karya berikutnya dari The Hours of Silence, band baru yang berusia 31 tahun ini.