Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Pria Suka Nongkrong Tanpa Banyak Foto? Ini Alasannya!
ilustrasi es kopi (pexels.com/lii Chun)
  • Banyak pria memilih menikmati momen nongkrong tanpa sibuk foto karena ingin fokus pada obrolan dan kebersamaan, bukan dokumentasi atau pencitraan di media sosial.
  • Mereka merasa tidak perlu validasi online; kebersamaan dianggap cukup dinikmati secara pribadi tanpa harus diumumkan lewat unggahan atau story.
  • Kebiasaan ini juga dipengaruhi citra maskulinitas dan keinginan menjadikan nongkrong sebagai ruang santai bebas tekanan serta tuntutan sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Fenomena kebiasaan banyak pria yang memilih nongkrong bersama teman tanpa banyak mengambil atau membagikan foto di media sosial.
  • Who?
    Para pria dari berbagai kalangan yang lebih menikmati waktu kebersamaan secara langsung dibanding mendokumentasikannya.
  • Where?
    Kegiatan ini umumnya terjadi di tempat nongkrong seperti kafe, warung, atau ruang santai bersama teman-teman.
  • When?
    Kebiasaan ini berlangsung pada masa kini, terutama di era media sosial yang serba visual dan digital.
  • Why?
    Mereka ingin fokus menikmati momen, menjaga privasi, menghindari kesan berlebihan, serta menjadikan nongkrong sebagai pelepas tekanan.
  • How?
    Mereka berinteraksi secara langsung tanpa sibuk berfoto, lebih memilih berbincang dan menikmati suasana tanpa dokumentasi berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau diperhatikan, banyak pria yang nongkrong bareng teman tapi minim dokumentasi. Tidak ada pose estetik, tidak sibuk cari angle, bahkan kadang tidak ada foto sama sekali. Padahal momennya seru dan tempatnya juga menarik.

Fenomena ini sering bikin heran, apalagi di era media sosial yang serba visual. Namun di balik kebiasaan itu, ada beberapa alasan yang cukup masuk akal. Berikut penjelasannya.

1. Lebih fokus ke momen daripada dokumentasi

ilustrasi pria minum latte di pagi hari (pexels.com/Vanessa garcia)

Bagi banyak pria, nongkrong adalah soal obrolan dan kebersamaan. Mereka lebih menikmati cerita, candaan, atau diskusi serius tanpa terganggu aktivitas foto-foto. Kamera dianggap bisa memecah fokus dan mengubah suasana jadi lebih formal.

Karena itu, mereka memilih menyimpan momen di ingatan, bukan di galeri. Selama suasananya asyik, dokumentasi bukan prioritas utama. Yang penting adalah interaksi, bukan konten.

2. Tidak merasa perlu validasi media sosial

ilustrasi pria makan di tempat (pexels.com/Mikhail Nilov)

Sebagian pria tidak terlalu memikirkan bagaimana momen nongkrong terlihat di feed atau story. Mereka tidak merasa harus membagikan setiap aktivitas sebagai bentuk eksistensi. Nongkrong ya cukup dinikmati, tanpa perlu diumumkan.

Bagi mereka, kebersamaan tidak harus dibuktikan lewat unggahan. Justru kadang momen yang tidak diposting terasa lebih personal dan autentik. Ada kepuasan tersendiri dalam menjaga privasi.

3. Gengsi dan citra maskulinitas

ilustrasi pria makan di cafe (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Tidak sedikit pria yang merasa terlalu sering foto bisa dianggap berlebihan. Ada anggapan bahwa terlalu banyak pose atau selfie kurang sesuai dengan citra maskulin yang ingin mereka tampilkan. Akhirnya, foto hanya diambil seperlunya saja.

Budaya pertemanan pria juga cenderung lebih santai dan tidak ribet. Jarang ada yang menginisiasi sesi foto panjang. Kalau pun ada, biasanya cepat dan tanpa banyak gaya.

4. Nongkrong sebagai ruang lepas dari tekanan

ilustrasi nongkrong di cafe (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Bagi sebagian pria, nongkrong adalah momen melepas stres. Mereka ingin bebas dari tuntutan kerja, target, dan bahkan citra diri di media sosial. Tanpa foto-foto, suasana terasa lebih ringan dan natural.

Tidak perlu memikirkan pencahayaan, ekspresi, atau caption. Cukup duduk, makan, minum, dan ngobrol. Justru kesederhanaan itu yang membuat momen terasa nyaman.

5. Bukan berarti tidak peduli kenangan

ilustrasi nongkrong di cafe (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Minim foto bukan berarti tidak menghargai kebersamaan. Banyak pria justru menyimpan momen penting dalam bentuk cerita yang diingat lama. Mereka mungkin tidak memposting, tapi tetap mengenang.

Kalau ada acara spesial seperti ulang tahun atau perpisahan, biasanya tetap ada dokumentasi. Hanya saja untuk nongkrong biasa, mereka merasa tidak selalu perlu. Prioritasnya tetap pada kualitas waktu bersama.

Kebiasaan pria nongkrong tanpa banyak foto bukan berarti tidak seru atau tidak solid. Itu lebih soal cara menikmati momen yang berbeda. Ada yang suka mengabadikan, ada juga yang lebih suka merasakan langsung tanpa perantara kamera.

Selama kebersamaan tetap hangat dan komunikasi lancar, dokumentasi hanyalah bonus. Pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa banyak foto yang diambil, tapi seberapa dalam koneksi yang terbangun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team