Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi rumah tradisional Jepang
ilustrasi rumah tradisional Jepang (pexels.com/WON JONG LEE)

Intinya sih...

  • Ketahanan terhadap gempa bumi- Jepang berada di kawasan Pacific Ring of Fire, sehingga menggunakan kayu untuk konstruksi anti gempa.- Teknik Kigumi memungkinkan penyusunan kayu tanpa pengikat logam.

  • Kemudahan dalam pembangunan- Proses konstruksi menggunakan kayu tidak membutuhkan waktu lama.- Rumah yang terbuat dari kayu lebih mudah untuk diperbaiki dan menghemat anggaran.

  • Ketersediaan kayu yang berlimpah- 66% wilayah daratan Jepang adalah hutan, dengan dua jenis pohon utama: Hinoki dan Sugi.- Pohon-pohon ini digunakan untuk membuat rumah, furnitur, ukiran, dan kerajinan tangan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Arsitektur Jepang dikenal karena keanggunan, kesederhanaan, dan hubungannya dengan alam. Salah satu elemen paling penting dalam arsitektur tradisional Jepang adalah penggunaan kayu. Kalau kamu pernah ke Jepang atau melihat melalui sosial media pasti kamu sadar kalau rumah di Jepang lebih banyak menggunakan kayu.

Kayu bukan hanya digunakan untuk membuat rumah, tapi juga pagar. Penggunaan kayu ternyata berbahai faktor, salah satunya adalah kondisi alam dan kekayaan alamnya. Yuk, simak alasan kenapa rumah Jepang menggunkan kayu.

1. Ketahanan terhadap gempa bumi

ilustrasi rumah kayu di Jepang (pexels.com/Shive)

Jepang berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Lingkaran Api Pasifik. Di mana zona ini menjadi tempat terjadinya aktivitas seismik tertinggi di dunia. Jadi, gak heran jika Jepang sering terjadi gempa bahkan ada yang sampai berkekuatan 9,1 skala Richter.

Oleh sebab itu, Jepang mengembangkan metode kontruksi anti gempa dengan menggunakan kayu. Kalau batu atau beton punya tekstur yang kaku sehingga mudah hancur saat gempa, berbeda dengan kayu yang dapat bergoyang dan melentur. Oleh sebab itu, kayu dapat menyerap energi getaran tanpa menyebabkan bangunan langsung runtuh secara fatal.

Selain itu, Jepang juga menggunakan teknik konstruksi yang hebat. Salah satunya adalah teknik Kigumi yang sudah ada sekitar 4.000 tahun yang lalu, tepatnya pada zaman Jomon. Teknik ini memungkinkan penyusunan kayu tanpa menggunakan lem, paku, dan pengikat logam sehingga fleksibilitas.

2. Kemudahan dalam pembangunan

ilustrasi rumah kayu di Jepang (unsplash.com/Viviana Nysaether)

Selain karena kayu dapat mengikuti getaran gempa bumi, kayu juga menawarkan kemudahan. Sebab, proses kontruksi menggunakan kayu tidak membutuhkan waktu lama. Selain itu, materialnya pun relatif ringan dan mudah untuk dibentuk.

Mengingat Jepang sering mengalami bencana alam, rumah yang terbuat dari kayu lebih mudah untuk diperbaiki. Terlebih lagi bisa menghemat anggaran karena di Jepang menyewa pekerja kasar maupun profesional sangat mahal. Jika satu tiang rusak, tiang tersebut dapat diganti tanpa harus merobohkan seluruh struktur.

3. Ketersediaan kayu yang berlimpah

ilustrasi rumah kayu di Jepang (pexels.com/Ryutaro Tsukata)

Selain kemudahan dalam proses kontruksi, Jepang juga punya kemudahan mengakses kayu sebagai bahan pembuatan rumah. Secara geografis, 66 persen wilayah daratan Jepang adalah hutan, dengan luas total sekitar 25 juta hektar. Makanya, sebagian besar benda yang ada di sekitar masyarakat Jepang terbuat dari kayu, termasuk bangunan, furnitur, dan peralatan makan.

Ada dua jenis pohon yang biasanya digunakan untuk membuat rumah, yakni Hinoki dan Sugi. Contohnya Kuil Horyuji yang dibangun lebih dari 1.400 tahun yang lalu ini menggunakan Hinoki. Pohon ini bisa tumbuh hingga ketinggian 20 hingga 50 meter.

Pohon Sugi juga sudah lama digunakan masyarakat Jepang untuk membuat rumh maupun bangunan lainnya. Termasuk dalam pohon tertua di Jepang dan bisa tumbuh dengan ketinggian maksimal 50 hingga 60 meter. Kegunaannya sangat beragam, termasuk perumahan, furnitur, ukiran, dan kerajinan tangan, hingga perahu.

4. Daya serap dan retensi kelembapan yang tinggi

ilustrasi rumah kayu di Jepang (pexels.com/Leeloo The First)

Keadaan iklim di Jepang juga jadi alasan mengapa kayu dipilih sebagai bahan bangunan. Musim panas di Jepang sering kali disertai dengan kelembapan. Tingkat kelembapan bisa meningkat karena didahului oleh musim hujan atau tsuyu.

Kayu memiliki kemampuan alami sebagai pengatur kelembapan, sehingga dapat menyerap sebagian uap air saat udara lembab dan melepaskan kelembapan ketika udara panas atau kering. Selain itu, rumah di Jepang biasanya akan ditinggikan beberapa puluh meter agar kelembapan dari tanah tidak masuk. Sementara area ruang tamu akan diberikan tikar yang disebut tatami yang terbuat dari anyaman rumput rawa.

5. Kaitannya dengan agama Shinto dan Buddha

Kuil Horyuji di Jepang (pexels.com/Sam Schiro)

Penggunaan kayu di Jepang tidak lepas dari pengaruh kepercayaan Shinto dan Buddha yang sangat menghormati. Misalnya, Pohon Hinoki diyakini memiliki kekuatan spiritual dan kemurnian bagi masyarakat Jepang. Oleh sebab itu, Hinoki banyak dijadikan material untuk membangun kuil Shinto dan kuil Buddha.

Bagi penganut agama Shinto, kayu Hinoki yang halus dan pucat membangkitkan rasa kemurnian. Di mana kebersihan dan kemurnian spiritual sangat penting dalam ajaran Shintoisme.

Letak geografis dan kondisi iklim membuat masyarakat Jepang membutuhkan kayu sebagai material bangunan yang kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem. Dengan menggunakan kemajuan teknologi, Jepang terus menciptakan metode kontruksi yang dibutuhkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team