Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)
Istilah materi "tepi jurang" biasanya merujuk pada bahasan yang secara sadar dimainkan sangat dekat dengan batas sensitivitas publik. Di Mens Rea, Pandji juga menyentuh sejumlah isu nyata yang pernah ramai diperbincangkan di Indonesia. Beberapa di antaranya:
1. Kasus mantan jenderal polisi yang terseret narkoba
Salah satu materi “tepi jurang” yang paling banyak muncul di media sosial adalah saat ia menyinggung kasus kejahatan eks jenderal polisi yang terseret kasus narkoba. Mengambil gaya satire yang khas, Pandji mengemas kisah gelap kasus tersebut menjadi lelucon yang memancing tawa sekaligus rasa getir.
Di satu sisi, mungkin penonton tertawa. Akan tetapi, mereka juga tentunya sadar bahwa balutan komedi tadi bukan cerita fiksi, melainkan gambaran ironi penegakan hukum di Indonesia.
2. Fenomena pemimpin dari kalangan artis
Pandji juga membahas perihal cara masyarakat memilih pemimpin. Menurutnya, masih banyak orang yang memilih pemimpin tidak dilihat dari bibit, bebet, dan bobot. Sebaliknya, mereka menjadikan aspek agama dan popularitas saat memilih pemimpin. Padahal, menurutnya hal demikian tak bisa menjadi tolok ukur untuk memunculkan pemimpin yang kompeten.
Sebagai contoh, Pandji menyoroti tren kemenangan politisi dari kalangan artis di Jawa Barat, seperti Dede Yusuf, Dicky Chandra, Deddy Mizwar, Sahrul Gunawan, hingga Jeje Govinda.
3. Politik balas budi
Pandji turut menyinggung kondisi demokrasi pasca-Pilpres 2024. Ia memberi sorotan untuk partai-partai yang sempat saling berseberangan namun akhirnya bergabung demi memperoleh jatah kursi menteri.
Menurutnya, minimnya kubu oposisi saat ini berpotensi membuat fungsi check and balances melemah, sehingga pemerintah berisiko menjalankan kebijakan tanpa kontrol yang kuat dari parlemen.
4. No viral no justice
Slogan ini memang sering bergaung di media sosial. Kritiknya mengarah kepada fenomena masyarakat yang tidak bisa dengan mudah mencari keadilan dengan cara melapor ke pihak berwajib. Biasanya, kasusnya akan lebih cepat ditangani apabola viral dulu di media sosial.
Menurut Pandji, fenomena ini membuat masyarakat jadi tidak bisa berharap kepada siapa-siapa, selain kepada diri sendiri. Ia kemudian menutup materinya dengan pernyataan menohok dan disambut standing ovation dari penonton.
"Berharap kepada siapa? Polisi kita membunuh, tentara kita berpolitik, presiden kita mau memaafkan koruptor, wakil presiden kita... Gibran," tutup Pandji Pragiwaksono.
5. Presiden dan keluarga
Dalam acara tersebut, Pandji juga menyampaikan kritiknya atas privilege yang dimiliki keluarga Joko Widodo. Ia menyebut Kaesang Pangarep, yang merupakan putra ketiga mantan Presiden RI ke-7, secara instan didapuk menjadi ketua umum partai hanya dalam waktu dua hari setelah mendaftar.
Tak hanya itu, Pandji juga turut menyenggol gaya kampanye Prabowo. Yang menarik, kritik Pandji terhadap Gibran Rakabuming kini menjadi bulan-bulanan warganet hingga mengundang tanggapan Tompi yang merasa kontra dengan pernyataan Pandji.