Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Profil Rhoma Irama, Raja Dangdut yang Juga Main Film
Potret Profil Rhoma Irama (instagram.com/rhoma_official)
  • Rhoma Irama, lahir di Tasikmalaya tahun 1946, dikenal sebagai Raja Dangdut yang sukses mempopulerkan musik dangdut lintas generasi lewat Soneta Group dan karya-karya bertema sosial serta religius.
  • Ia juga berkiprah di dunia film dengan membintangi sejumlah judul populer seperti Satria Bergitar dan Camelia, memperkuat citranya sebagai seniman multitalenta di industri hiburan Indonesia.
  • Dalam politik, Rhoma pernah aktif di PPP dan Golkar sebelum mendirikan Partai Idaman pada 2015, menunjukkan perjalanan politiknya yang dinamis meski partainya gagal ikut Pemilu 2019.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Nama Rhoma Irama tentu sudah gak asing lagi di telinga. Di dunia musik tanah air, namanya sangat terkenal lewat karya-karyanya hingga dijuluki Raja Dangdut dan berhasil membawa musik dangdut dikenal lintas generasi. Jadi gak heran kalau profil Rhoma Irama selalu menarik untuk dibahas.

Mulai dari perjalanan karier, kehidupan pribadi, hingga pengaruhnya di industri hiburan Indonesia, sosoknya memang punya cerita panjang yang menarik untuk diikuti. Perjalanan hidupnya bukan cuma soal musik, ia juga seorang pendakhwah dan memiliki kiprah di dunia perfilman dan politik. Yuk, simak lebih lengkap profil Rhoma Irama dan fakta-fakta menarik tentang perjalanan hidupnya berikut ini!

1. Biodata Rhoma Irama

  • Nama Lengkap: Raden Oma Irama

  • Nama Panggung: Rhoma Irama

  • Tempat Tanggal Lahir: Tasikmalaya, 11 Desember 1946

  • Julukan: Raja Dangdut

  • Nama istri: Veronica Agustina (1972 - 1985), Marwah Ali (1991 - 1995), Ayu Soraya (1996)Gita Andini Saputri (1999), Angel Lelga (2003 - 2005), Ricca Rahim (1984 - sekarang)

  • Nama anak: Debbie Veramasari, Fikri Zulfikar, Romy Syahrial, Adam Ghifani, dan Ridho Irama

2. Perjalanan karier bermusik sampai film Rhoma Irama

Potret Profil Rhoma Irama (instagram.com/rhoma_official)

Rhoma Irama mulai menapaki dunia musik sejak era 1960-an dengan membentuk band bernama Gayhand pada 1963. Seiring berjalannya waktu, ia memilih fokus di jalur musik dangdut dan sempat bergabung bersama Orkes Chandra Lekaka. Dari sinilah perjalanan Rhoma sebagai salah satu legenda musik Indonesia perlahan mulai dikenal luas.

Rhoma dikenal sebagai salah satu tokoh penting yang membawa musik dangdut berkembang pesat di Indonesia. Ia sukses memadukan unsur musik Melayu, rock, pop, hingga nuansa India yang menjadi ciri khas berbeda dari musisi lain pada masanya. Tak hanya enak didengar, lagu-lagunya juga banyak mengangkat tema kehidupan, mulai dari cinta, agama, sampai kritik sosial yang dekat dengan masyarakat.

Pada Desember 1970, Rhoma mendirikan grup dangdut bernama Soneta Group yang kemudian menjadi ikon besar di industri musik tanah air. Beberapa tahun setelahnya, tepat pada Oktober 1973, ia memperkenalkan slogan “Voice of Moslem” sebagai bentuk visinya menggabungkan musik Melayu dengan berbagai aliran musik modern. Konsep tersebut membuat karya-karya Rhoma Irama punya warna unik dan mudah dikenali hingga sekarang.

Karier Rhoma Irama semakin bersinar setelah bersama Soneta Group dan menghasilkan banyak karya populer. Sepanjang perjalanannya, ia tercatat telah merilis belasan album yang sukses menarik perhatian penikmat musik dangdut dari berbagai generasi. Sejumlah album terkenalnya antara lain Begadang (1973), Darah Muda (1975), hingga Bujangan (1994) yang masih dikenal luas sampai saat ini.

Tak berpuas diri hanya dengan menjadi penyanyi, Rhoma Irama pun merambah pada dunia akting. Beberapa film yang pernah dibintanginya bahkan sukses besar. Di antaranya adalah Satria Bergitar (1983), Camelia (1979), dan Pengabdian (1984).

3. Rhoma Irama dalam kancah politik Indonesia

Pada 1977, Rhoma Irama terjun dalam dunia politik sebagai juru kampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) meski statusnya saat itu hanya simpatisan. Kehadirannya disebut ikut memberi pengaruh besar hingga suara PPP di Jakarta mampu menyaingi bahkan mengalahkan Golkar yang mendapat dukungan kuat dari rezim Orde Baru. Dan di masa yang sama, Rhoma beberapa kali menghadapi tekanan karena lagu-lagunya dianggap terlalu berani mengkritik pemerintah, bahkan ia sempat dilarang tampil di TVRI.

Tak cuma dikenal di dunia hiburan, Rhoma juga aktif di ranah politik nasional. Menariknya, ia pernah tercatat menjadi anggota MPR sebagai utusan Golongan Seniman dan Artis dari Golkar. Dan sejak itu, ia dibolehkan kembali tampil di TVRI hingga namanya Rhoma kembali bersinar di pentas musik dangdut Indonesia.

Menjelang Pemilu 1997, Rhoma Irama justru tampil sebagai juru kampanye Golkar. Langkah ini cukup mengejutkan banyak penggemarnya karena sebelum itu, sosoknya identik dengan PPP. Tentu saja hal tersebut memunculkan beragam reaksi dari masyarakat dan para pendukungnya.

Pada 2008, Rhoma kembali bergabung dengan PPP yang saat itu dipimpin oleh Suryadharma Ali. Ia kembali masuk ke partai tersebut bersama Zainuddin MZ yang sebelumnya juga sempat dekat dengan Golkar. Momen itu menjadi salah satu langkah politik Rhoma yang cukup menarik perhatian publik kala itu.

Siapa sangka, Rhoma Irama lantas mendirikan partai baru bernama Partai Idaman pada 2015 dan menjabat sebagai ketua umum. Partai tersebut dibentuk sebagai wadah politik baru dengan visi dan gagasan yang dibuat langsung oleh sang ketua. Sayangnya, Partai Idaman dinyatakan tidak lolos persyaratan dan tak bisa turut serta di Pemilu 2019.

4. Kontroversi Rhoma Irama

Potret Profil Rhoma Irama (instagram.com/rhoma_official)

Seperti musisi pada umumnya yang tak luput dari pemberitaan miring, Rhoma Irama juga beberapa kali tersandung berita kontroversi. Pada 2005, media sempat ramai memberitakan hubungan Rhoma Irama dengan penyanyi dangdut Angel Lelga. Keduanya awalnya membantah kabar telah menikah siri sebelum akhirnya mengakui hubungan tersebut ke publik. Tak lama setelah pengakuan itu muncul, Rhoma dan Angel memutuskan untuk berpisah.

Kemudian pada rapat dengar pendapat Komisi VIII DPR RI yang membahas RUU Pornografi dan Pornoaksi, Rhoma Irama pernah melontarkan kritik terhadap penampilan dan goyangan ngebor milik Inul Daratista. Rapat yang terjadi pada 18 Januari 2006 itu kemudian menjadi salah satu momen yang paling banyak dibicarakan publik kala itu. Komentar Rhoma terhadap Inul memicu pro dan kontra dari berbagai kalangan karena beberapa pihak mendukung pendapat Rhoma, sementara yang lain justru membela Inul dan menganggap penampilannya sebagai bagian dari hiburan.

Selain dikenal sebagai musisi dan pendakwah, Rhoma Irama juga pernah menyatakan keinginannya untuk maju dalam bursa calon presiden 2014. Ia mengaku mendapat dukungan dari sejumlah ulama dan habib di Jakarta untuk melangkah ke dunia politik yang lebih besar. Pernyataan itu disampaikan Rhoma saat menghadiri pengajian rutin di Majelis Taklim Al Habib Ali Al Habsyi, Kwitang, Jakarta Pusat.

Itulah profil Rhoma Irama yang seru buat diketahui. Ia yang tak sekadar bermusik, tapi juga turun main film hingga berpolitik menunjukkan sisinya yang serba bisa. Jadi, karya Rhoma Irama mana nih yang menurutmu paling menarik?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team