ilustrasi Saint Valentine (commons.wikimedia.org)
Karena minimnya bukti sejarah yang benar-benar kuat dan adanya banyak versi cerita yang saling bertentangan, Gereja Katolik melakukan evaluasi terhadap sejumlah santo kuno pada abad ke-20. Pada tahun 1969, nama Santo Valentinus dihapus dari kalender universal santo karena kisah hidupnya dinilai kurang memiliki dasar historis yang jelas dan sulit diverifikasi secara akademis. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari pembaruan liturgi agar kalender gereja lebih berfokus pada tokoh-tokoh yang memiliki dokumentasi sejarah yang lebih kuat.
Meski dihapus dari kalender universal, umat Katolik tetap diperbolehkan menghormatinya secara lokal, terutama di wilayah yang memiliki tradisi devosi panjang terhadap namanya. Beberapa gereja di Eropa bahkan mengklaim menyimpan relikui yang diyakini sebagai bagian tubuh Santo Valentinus, meskipun identitas pastinya sulit dipastikan karena adanya lebih dari satu tokoh dengan nama yang sama. Tradisi ziarah dan penghormatan ini menunjukkan bahwa warisan spiritualnya tetap hidup di tengah komunitas tertentu.
Dengan demikian, penghapusan dari kalender universal tidak serta-merta menghapus keberadaan atau pengaruh Santo Valentinus dalam sejarah gereja. Justru langkah tersebut menegaskan bahwa kisahnya berada di antara wilayah sejarah dan legenda yang belum sepenuhnya terungkap. Hal ini semakin memperkuat alasan mengapa sosoknya terus menjadi bahan diskusi dalam kajian sejarah agama hingga hari ini.
Pada akhirnya, siapa Santo Valentinus tetap menjadi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal dan pasti. Ia bisa dipahami sebagai satu atau beberapa martir Kristen abad ketiga yang kisahnya berkembang melalui legenda, sastra, dan tradisi budaya selama berabad-abad. Perayaan Hari Valentine modern pun lebih merupakan hasil evolusi panjang antara sejarah, kepercayaan, dan budaya populer yang terus berubah mengikuti zaman.