Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Valentine Day (pexels.com/alleksana)
Valentine Day (pexels.com/alleksana)

Intinya sih...

  • Santo Valentinus adalah martir Kristen abad ketiga yang menunjukkan kesetiaan penuh terhadap keyakinannya meskipun harus menghadapi risiko kehilangan nyawa.

  • Ada beberapa tokoh bernama Valentinus, termasuk seorang tentara di Afrika dan dua tokoh lain yang lebih dikenal sebagai seorang uskup dari Terni dan seorang imam di Roma.

  • Kisah Santo Valentinus menikahkan pasangan muncul dari legenda, dan hubungannya dengan cinta dipopulerkan oleh sastrawan abad pertengahan seperti Geoffrey Chaucer.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap tanggal 14 Februari, jutaan orang di berbagai negara merayakan Hari Valentine dengan bertukar hadiah, bunga, dan pesan romantis sebagai simbol kasih sayang yang dianggap istimewa. Perayaan ini bahkan menjadi salah satu momen paling ramai dalam industri kartu ucapan, cokelat, hingga perhiasan karena identik dengan ungkapan cinta dan perhatian. Namun, di balik kemeriahan tersebut, tidak banyak orang benar-benar memahami asal-usul tokoh yang namanya digunakan untuk menamai hari itu.

Pertanyaan tentang siapa Santo Valentinus sebenarnya justru sering tenggelam oleh tradisi modern yang lebih menonjolkan sisi romantisnya. Padahal, kisahnya jauh lebih kompleks karena melibatkan sejarah Kekaisaran Romawi, tradisi gereja awal, hingga pengaruh sastra abad pertengahan. Untuk memahami siapa Santo Valentinus secara utuh dan bagaimana ia bisa berubah menjadi simbol cinta, mari kita telusuri lima fakta penting berikut ini.

1. Santo Valentinus dikenal sebagai martir Kristen abad ketiga

ilustrasi Saint Valentine (commons.wikimedia.org)

Untuk memahami siapa Santo Valentinus, kita perlu menengok kembali situasi Kekaisaran Romawi pada abad ketiga Masehi, ketika agama Kristen masih dianggap ilegal dan para penganutnya kerap menghadapi ancaman penangkapan hingga hukuman mati. Dalam sejumlah daftar martir gereja kuno, nama Valentinus tercatat sebagai salah satu orang yang dihukum mati karena mempertahankan iman Kristen di tengah tekanan politik dan keagamaan yang sangat keras. Tanggal wafatnya yang diperingati setiap 14 Februari kemudian ditetapkan sebagai hari penghormatan terhadap dirinya dalam tradisi gereja.

Sebagai martir, Valentinus diyakini menunjukkan kesetiaan penuh terhadap keyakinannya meskipun harus menghadapi risiko kehilangan nyawa. Pada masa itu, menjadi seorang Kristen berarti siap menghadapi diskriminasi sosial, pengawasan ketat, bahkan kekerasan dari otoritas kekaisaran. Karena itulah, para martir seperti Valentinus dipandang sebagai simbol keteguhan iman dan keberanian spiritual dalam tradisi Kristen awal.

Meski demikian, sumber sejarah yang benar-benar berasal dari abad ketiga sangat terbatas dan tidak memberikan detail lengkap mengenai aktivitas hariannya. Sebagian besar kisah tentang dirinya justru ditulis ratusan tahun setelah kematiannya, sehingga memunculkan kemungkinan adanya penambahan unsur legenda. Kondisi inilah yang membuat pertanyaan siapa Santo Valentinus menjadi semakin kompleks dan terbuka untuk berbagai interpretasi.

2. Ternyata ada beberapa tokoh bernama Valentinus

ilustrasi Saint Valentine (commons.wikimedia.org)

Ketika para sejarawan menelusuri lebih jauh tentang siapa Santo Valentinus, mereka menemukan fakta bahwa nama Valentinus ternyata cukup umum pada masa Kekaisaran Romawi. Nama tersebut berasal dari bahasa Latin yang bermakna “kuat” atau “berharga”, sehingga tidak mengherankan jika banyak orang menggunakannya, termasuk di kalangan umat Kristen awal. Hal ini kemudian memunculkan kebingungan karena terdapat lebih dari satu martir dengan nama yang sama.

Setidaknya ada tiga tokoh bernama Valentinus yang tercatat wafat pada 14 Februari. Salah satunya adalah seorang tentara di Afrika yang meninggal bersama dua puluh empat prajurit lainnya, meskipun informasi tentang dirinya sangat minim dan hampir tidak ada detail tambahan yang tersisa. Dua tokoh lain yang lebih dikenal adalah seorang uskup dari Terni dan seorang imam di Roma yang sama-sama dihukum mati pada masa pemerintahan Kaisar Claudius Gothicus.

Karena catatan sejarah mereka berkembang dalam bentuk kisah hagiografi atau riwayat suci yang ditulis jauh setelah peristiwa aslinya, banyak detail yang tumpang tindih dan akhirnya tercampur menjadi satu narasi besar. Dalam proses penyalinan dan penyebaran cerita di abad pertengahan, kisah-kisah tersebut sering digabungkan tanpa verifikasi yang ketat. Akibatnya, publik modern kerap memahami Santo Valentinus sebagai satu sosok tunggal, padahal kemungkinan besar ia adalah gabungan dari beberapa tokoh berbeda.

3. Kisah menikahkan pasangan muncul dari legenda

ilustrasi Saint Valentine (commons.wikimedia.org)

Cerita yang paling populer dalam menjawab siapa Santo Valentinus adalah kisah bahwa ia diam-diam menikahkan pasangan muda yang dilarang menikah oleh kaisar. Menurut legenda yang berkembang luas, Kaisar Claudius II melarang prajuritnya menikah karena menganggap pria lajang lebih fokus dan tangguh dalam peperangan. Valentinus disebut menentang kebijakan tersebut dengan tetap melangsungkan pernikahan secara rahasia bagi pasangan Kristen yang ingin bersatu.

Selain itu, terdapat pula kisah bahwa sebelum dieksekusi, ia sempat menulis surat kepada seorang perempuan yang dikenalnya selama masa penahanan dan menandatanganinya dengan kalimat “dari Valentinemu”. Narasi ini kemudian dianggap sebagai cikal bakal tradisi mengirim kartu Valentine setiap 14 Februari. Cerita tersebut begitu kuat memengaruhi budaya populer hingga dipercaya sebagai fakta sejarah oleh banyak orang.

Namun, para ahli menegaskan bahwa tidak ada dokumen kontemporer dari abad ketiga yang membuktikan kebenaran kisah tersebut. Sebagian besar cerita romantis itu baru muncul dalam teks-teks abad pertengahan yang bersifat naratif dan simbolis. Artinya, kemungkinan besar kisah pernikahan rahasia dan surat cinta tersebut adalah hasil perkembangan legenda yang memperkaya citra Santo Valentinus sebagai simbol cinta.

4. Hubungan dengan cinta dipopulerkan sastrawan abad pertengahan

ilustrasi Saint Valentine (commons.wikimedia.org)

Menariknya, keterkaitan antara Santo Valentinus dan cinta romantis tidak muncul pada masa hidupnya, melainkan berkembang berabad-abad kemudian melalui karya sastra. Salah satu tokoh penting yang berperan besar dalam perubahan makna ini adalah penyair Inggris Geoffrey Chaucer, yang dalam puisinya menyebut Hari Santo Valentinus sebagai waktu ketika burung-burung memilih pasangan. Gambaran simbolis tersebut kemudian mengaitkan tanggal 14 Februari dengan musim semi dan awal percintaan.

Karya Chaucer sangat berpengaruh di kalangan bangsawan Inggris dan Eropa, sehingga tradisi menghubungkan Hari Santo Valentinus dengan asmara semakin menguat. Para penyair lain mengikuti jejak tersebut dengan menulis puisi cinta yang dipersembahkan pada 14 Februari. Dari sinilah muncul kebiasaan menyebut kekasih sebagai “Valentine” dan menjadikan hari tersebut sebagai momentum romantis.

Perubahan makna ini menunjukkan bagaimana budaya populer dan sastra mampu membentuk ulang persepsi terhadap tokoh sejarah. Jika sebelumnya Valentinus dikenal sebagai martir yang dihormati karena iman dan mukjizatnya, maka sejak abad pertengahan ia perlahan berubah menjadi simbol cinta dan pasangan. Transformasi inilah yang membuat pertanyaan siapa Santo Valentinus memiliki jawaban yang berbeda tergantung pada sudut pandang sejarah atau budaya.

5. Statusnya dihapus dari kalender universal Gereja

ilustrasi Saint Valentine (commons.wikimedia.org)

Karena minimnya bukti sejarah yang benar-benar kuat dan adanya banyak versi cerita yang saling bertentangan, Gereja Katolik melakukan evaluasi terhadap sejumlah santo kuno pada abad ke-20. Pada tahun 1969, nama Santo Valentinus dihapus dari kalender universal santo karena kisah hidupnya dinilai kurang memiliki dasar historis yang jelas dan sulit diverifikasi secara akademis. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari pembaruan liturgi agar kalender gereja lebih berfokus pada tokoh-tokoh yang memiliki dokumentasi sejarah yang lebih kuat.

Meski dihapus dari kalender universal, umat Katolik tetap diperbolehkan menghormatinya secara lokal, terutama di wilayah yang memiliki tradisi devosi panjang terhadap namanya. Beberapa gereja di Eropa bahkan mengklaim menyimpan relikui yang diyakini sebagai bagian tubuh Santo Valentinus, meskipun identitas pastinya sulit dipastikan karena adanya lebih dari satu tokoh dengan nama yang sama. Tradisi ziarah dan penghormatan ini menunjukkan bahwa warisan spiritualnya tetap hidup di tengah komunitas tertentu.

Dengan demikian, penghapusan dari kalender universal tidak serta-merta menghapus keberadaan atau pengaruh Santo Valentinus dalam sejarah gereja. Justru langkah tersebut menegaskan bahwa kisahnya berada di antara wilayah sejarah dan legenda yang belum sepenuhnya terungkap. Hal ini semakin memperkuat alasan mengapa sosoknya terus menjadi bahan diskusi dalam kajian sejarah agama hingga hari ini.

Pada akhirnya, siapa Santo Valentinus tetap menjadi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal dan pasti. Ia bisa dipahami sebagai satu atau beberapa martir Kristen abad ketiga yang kisahnya berkembang melalui legenda, sastra, dan tradisi budaya selama berabad-abad. Perayaan Hari Valentine modern pun lebih merupakan hasil evolusi panjang antara sejarah, kepercayaan, dan budaya populer yang terus berubah mengikuti zaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team