Foto cover single Bread & Circus (Dok. THE SIGIT)
Lalu, hal kedua adalah dengan dirilisnya sebuah single anyar berjudul “Bread & Circus”. Single ini merupakan perkenalan dari wujud eksplorasi musik dan spektrum terbaru The SIGIT.
Single “Bread & Circus” membawa narasi tentang masalah struktural, yakni isu perampasan ruang dan abuse of power terkait pengelolaan sumber daya alam yang serampangan. Single ini juga menjadi pembuka narasi dari ekspresi penulisan The SIGIT di era kini. Sebuah pengingat, bahwa pada akhirnya, alam dan seisinyalah yang menanggung akibatnya.
Masih setia dengan guitar-driven rock, namun kali ini semakin kental dengan keterlibatan synthesizer dan instrumen elektronik—sebuah gambaran sempurna dari warna ‘psychedelic rock’ yang akan ditampilkan oleh The SIGIT di era barunya ini.
Juga diakui Rekti, bahwa keterlibatan Absar, Aghan, dan Ravel dalam proses produksi juga memberikan angin segar bagi The SIGIT dalam proses pengkaryaan.
“Kehadiran mereka jelas membawa nuansa yang berbeda pada hasil akhir karena cara bermain mereka yang sangat berbeda dengan kebiasaan formasi lama. Perspektif dan perbendaharaan musikal merekalah yang membuka cakrawala dalam pembuatan dan aransemen lagu,” kata Rekti.
Dari balik layar, The SIGIT dibantu oleh Tanya Ditaputri (Rattles) untuk mengisi vokal latar, Budianto Setyadi sebagai produser dan mixing engineer, serta Gunkbudi dan Refantho Ramadhan di departemen visual yang menggarap artwork dan foto untuk “Bread & Circus”.