Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi laki-laki sedang belanja
ilustrasi laki-laki sedang belanja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Intinya sih...

  • ENFP Cowok mudah tergoda oleh barang unik dan seru, belanja karena pengalaman emosional yang menyenangkan.

  • INFP Cowok membeli barang karena nilai emosional di baliknya, sering terpengaruh cerita atau filosofi produk.

  • ESFP Cowok hidup di momen dan suka kesenangan instan, sering berpikir tentang kepuasan saat ini dibanding dampak jangka panjang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu heran melihat cowok yang awalnya cuma mau lihat-lihat, tapi pulang dengan kantong belanja penuh? Katanya mau hemat, tapi ujung-ujungnya saldo terkuras karena keputusan impulsif. Bisa jadi tipe kepribadian MBTI-nya ikut berperan dalam cara dia mengambil keputusan saat belanja.

Beberapa tipe MBTI cowok dikenal lebih mengandalkan perasaan dibanding logika, apalagi saat tergoda diskon dan barang lucu. Mereka sering belanja karena emosi sesaat, bukan kebutuhan utama. Nah, kalau kamu penasaran tipe mana saja yang paling rawan boncos, simak daftarnya sampai habis.

1. ENFP

ilustrasi laki-laki sedang belanja (pexels.com/Antonio Sokic)

Cowok ENFP dikenal penuh semangat dan mudah antusias terhadap hal baru. Saat belanja, mereka sering terpikat oleh barang unik yang terlihat seru dan beda dari yang lain. Tanpa pikir panjang, barang langsung masuk keranjang karena rasanya sayang kalau dilewatkan.

Bagi ENFP, belanja bukan sekadar transaksi, tapi pengalaman emosional yang menyenangkan. Mereka sering berpikir, “Siapa tahu nanti terpakai,” meski belum tentu dibutuhkan. Inilah yang membuat ENFP rawan boncos saat suasana hati sedang bagus.

2. INFP

ilustrasi laki-laki sedang belanja (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Cowok INFP cenderung membeli barang karena nilai emosional di baliknya. Mereka bisa tiba-tiba membeli sesuatu hanya karena merasa terhubung dengan barang tersebut. Logika tentang harga sering kalah oleh perasaan nyaman dan makna personal.

Saat belanja, INFP juga mudah terpengaruh cerita atau filosofi produk. Barang yang punya kisah menyentuh hati lebih mudah membuat mereka mengeluarkan uang. Akibatnya, pengeluaran bisa membengkak tanpa terasa.

3. ESFP

ilustrasi laki-laki sedang belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

ESFP adalah tipe cowok yang hidup di momen dan suka kesenangan instan. Melihat diskon besar atau barang yang sedang tren bisa langsung memicu keputusan belanja impulsif. Bagi mereka, kesempatan seru harus dinikmati sekarang juga.

Cowok ESFP sering berpikir tentang kepuasan saat ini dibanding dampak jangka panjang. Selama belanja terasa menyenangkan, mereka akan lanjut tanpa banyak pertimbangan. Tak heran, struk belanja bisa bikin kaget setelahnya.

4. ISFP

ilustrasi laki-laki sedang belanja (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

ISFP sangat peka terhadap estetika dan keindahan visual. Saat belanja, mereka mudah jatuh cinta pada barang yang tampilannya menarik. Warna, bentuk, dan desain sering jadi alasan utama mereka membeli sesuatu.

Meskipun terlihat kalem, ISFP bisa cukup emosional saat berhadapan dengan barang favorit. Mereka merasa membeli barang cantik adalah bentuk self-reward. Sayangnya, hal ini bisa membuat pengeluaran jadi kurang terkontrol.

5. ENFJ

ilustrasi laki-laki sedang belanja (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Cowok ENFJ sering belanja bukan untuk diri sendiri, tapi demi membahagiakan orang lain. Mereka mudah tergerak secara emosional saat melihat barang yang cocok untuk pasangan, keluarga, atau teman. Tanpa sadar, pengeluaran jadi membesar karena niat baik.

ENFJ cenderung memprioritaskan perasaan orang lain dibanding kondisi dompet sendiri. Selama orang terdekat senang, belanja terasa sepadan. Namun, kalau tidak diatur, niat mulia ini bisa berujung boncos.

Belanja memang menyenangkan, apalagi kalau melibatkan emosi dan perasaan. Tapi, mengenali kecenderungan MBTI bisa jadi langkah awal agar dompet tetap aman. Jadi, sebelum memutuskan berbelanja, tanyakan terlebih dahulu ke diri sendiri apakah benar-benar butuh atau hanya lapar mata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team