Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perfumery
ilustrasi perfumery (pexels.com/MART PRODUCTION)

Intinya sih...

  • Perfumery adalah seni dan sains yang melibatkan kreativitas dan pemahaman teknis, serta menuntut keseimbangan antara intuisi artistik dan logika kimia.

  • Jejak awal perfumery bisa ditelusuri hingga 5.000 tahun lalu, dimulai dari ritual penggunaan aroma dalam kehidupan sehari-hari kalangan bangsawan di Mesir kuno.

  • Perfumery mengalami lonjakan besar di Prancis pada abad ke-17, terutama pada masa Raja Louis XIV, dan berkembang lewat pendekatan ilmiah di dunia Islam.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perfumery bukan cuma soal wangi yang kita pakai sehari-hari, tapi tentang seni, sains, dan perjalanan budaya manusia sejak ribuan tahun lalu. Perfumery sendiri merujuk pada proses meracik berbagai senyawa aromatik menjadi satu aroma baru yang seimbang dan punya karakter. Perfumery juga gak bisa dilepaskan dari peran indra penciuman manusia yang terus berkembang seiring latihan dan pengalaman.

Dalam dunia parfum, orang dengan kemampuan penciuman terlatih dikenal sebagai a nose, yakni individu yang mampu membedakan ribuan aroma secara presisi. Hal ini identik dengan kemampuan manusia mengingat aroma dan emosi di baliknya. Yuk, simak sejarah awal hingga perkembangan perfumery dari masa ke masa berikut ini.

1. Perfumery sebagai perpaduan seni dan sains

ilustrasi perfumery (pexels.com/MART PRODUCTION)

Perfumery sering disebut sebagai seni sekaligus ilmu pengetahuan karena prosesnya melibatkan kreativitas dan pemahaman teknis. Meracik aroma gak bisa sepenuhnya mengandalkan mesin karena tetap bergantung pada kepekaan hidung manusia. Perfumery juga menuntut keseimbangan antara intuisi artistik dan logika kimia.

Dalam praktiknya, ini bukan cuma soal membuat parfum untuk tubuh. Dunia ini juga mencakup produk rumah tangga, makanan, sabun, sampo, hingga industri cat dan deterjen. Perfumery menunjukkan bagaimana aroma punya peran besar dalam kehidupan modern, baik secara fungsional maupun emosional.

2. Sejarah awal perfumery dari ritual hingga peradaban kuno

ilustrasi perfumery (pexels.com/Omkar Jadhav)

Dilansir dari UK Perfumers Association, jejak awal perfumery bisa ditelusuri hingga sekitar 5.000 tahun lalu ketika manusia membakar resin, kayu, dan rempah sebagai bagian dari ritual. Catatan sejarah menyebut Tapputi dari Mesopotamia sebagai pembuat parfum pertama yang terdokumentasi. Praktik penggunaan aroma ini juga berkembang di Mesir, India, Cina, hingga wilayah Yunani dan Romawi.

Di Mesir kuno, aroma punya makna sakral sekaligus simbol kemewahan. Minyak wangi digunakan dalam upacara keagamaan, proses penguburan, dan kehidupan sehari-hari kalangan bangsawan. Dari sinilah perfumery mulai bergeser dari ritual spiritual menuju bagian dari gaya hidup.

3. Perkembangan perfumery di Prancis dan pengaruh dunia Islam

ilustrasi perfumery (freepik.com/DC Studio)

Dilansir dari Lothantique, perfumery mengalami lonjakan besar di Prancis pada abad ke-17, terutama pada masa Raja Louis XIV yang dikenal dengan julukan Perfumed Court. Parfum digunakan secara masif di lingkungan istana, dari pakaian, ruangan, hingga perabot, sebagai bagian dari gaya hidup bangsawan. Kota Grasse kemudian berkembang sebagai pusat perfumery karena produksi bahan baku dan keahlian peracik aroma.

Di luar Eropa, perfumery juga berkembang lewat pendekatan yang lebih ilmiah. Dilansir dari Anthony Marmin, ilmuwan Arab dan Persia pada masa Islamic Golden Age mengembangkan teknik distilasi yang memungkinkan aroma diekstraksi secara lebih murni dan presisi. Fondasi ilmiah inilah yang kemudian menjadi salah satu pilar penting dalam evolusi perfumery modern.

4. Perfumery modern sebagai industri dan ekspresi memori

ilustrasi perfumery (pexels.com/Lewis Ashton)

Perfumery modern berada di persimpangan antara seni, sains, dan memori manusia. Parfum dirancang sebagai rangkaian molekul yang membentuk pengalaman emosional, bukan sekadar aroma yang enak dicium. Seorang perfumer dituntut memiliki kepekaan artistik sekaligus pemahaman ilmiah.

Di era industri, perfumery berkembang menjadi pasar global bernilai miliaran dolar. Produksi massal dan bahan sintetis memungkinkan aroma direplikasi secara konsisten dalam skala besar. Di saat yang sama, muncul kembali gerakan artisanal yang menekankan cerita, identitas, dan hubungan personal dengan aroma.

Apa itu perfumery pada akhirnya bukan sekadar praktik meracik wangi, melainkan cerminan perubahan budaya manusia dari masa ke masa. Dari ritual kuno hingga industri modern, aroma selalu hadir sebagai medium ekspresi dan ingatan. Jadi, apakah kamu tertarik menjelajahi dunia perfumery dan mengasah indra penciumanmu sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team