Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi celana jeans sobek-sobek
ilustrasi celana jeans sobek-sobek (unsplash.com/Jon Tyson)

Intinya sih...

  • Denim lahir sebagai pakaian kerja kelas pekerja abad ke-19

  • Perubahan makna denim lewat film dan budaya populer awal abad ke-20

  • Jeans menjadi simbol perlawanan generasi muda pascaperang

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Asal usul celana jeans sobek-sobek sering memicu rasa ingin tahu karena busana ini terlihat bertentangan dengan gagasan pakaian rapi dan layak pakai. Fenomena tersebut muncul dari pertemuan sejarah kerja keras, perubahan kelas sosial, serta dinamika budaya populer lintas dekade.

style="text-align: justify;">Asal usul celana jeans sobek-sobek bukan sebtas tren melainkan hasil proses panjang yang melibatkan beragam faktor mulai ekonomi, musik, politik, hingga identitas antargenerasi. Mari menelusuri jejak perkembangan serta sejarah jeans sobek-sobek secara runtut.

1. Denim lahir sebagai pakaian kerja kelas pekerja abad ke-19

ilustrasi celana jeans sobek-sobek (unsplash.com/David Trinks)

Denim pertama kali dikenal luas pada abad ke-19 di Amerika Serikat ketika revolusi industri mendorong lahirnya kelas pekerja baru di sektor tambang, pertanian, dan pabrik. Kain ini dipilih karena karakteristiknya tebal, tahan gesekan, serta relatif nyaman dipakai dalam waktu lama, sehingga menjawab kebutuhan buruh yang menghadapi kondisi kerja berat setiap hari. Popularitas denim semakin meningkat setelah Levi Strauss dan Jacob Davis mematenkan celana berpaku tembaga pada 1873, karena detail tersebut membuat pakaian kerja menjadi jauh lebih awet.

Sobekan pada celana denim pada masa ini sama sekali tidak dimaknai sebagai gaya atau ekspresi diri. Lubang, robekan, serta serat kain yang terurai dipahami sebagai tanda pemakaian ekstrem sekaligus simbol keterbatasan ekonomi, sebab banyak keluarga pekerja hidup dengan pendapatan rendah dan tidak mampu sering mengganti pakaian. Jeans sobek menjadi penanda status sosial, bukan  estetika, sehingga keberadaannya justru dilekatkan pada kemiskinan dan para pekerja kasar.

2. Perubahan makna denim lewat film dan budaya populer awal abad ke-20

ilustrasi celana jeans sobek-sobek (unsplash.com/Omar)

Pandangan terhadap denim mulai bergeser pada dekade 1920-an dan 1930-an seiring berkembangnya industri film Hollywood. Aktor dan aktris film koboi tampil mengenakan jeans dalam narasi kehidupan barat Amerika yang keras, bebas, dan maskulin, sehingga publik mulai melihat denim sebagai simbol petualangan dan keberanian. Representasi tersebut secara perlahan mengangkat citra jeans dari sekadar pakaian buruh menjadi busana kasual yang memiliki nilai simbolik.

Perang Dunia II mempercepat transformasi tersebut karena tentara Amerika membawa jeans ke berbagai negara sebagai pakaian santai saat waktu luang. Denim kemudian diasosiasikan dengan identitas Amerika, modernitas, serta kemakmuran pascaperang. Meski demikian, robekan pada jeans masih dianggap bukan bagian dari kemiskinan.

3. Jeans menjadi simbol perlawanan generasi muda pascaperang

ilustrasi celana jeans sobek-sobek (unsplash.com/Brad Switzer)

Dekade 1950-an menghadirkan perubahan besar dalam makna jeans ketika generasi muda mulai menggunakannya sebagai bentuk resistensi terhadap nilai konservatif. Film yang menampilkan tokoh pemberontak memperkuat citra jeans sebagai busana anak muda yang menolak kepatuhan akan norma sosial. Pakaian ini tidak lagi netral, melainkan sarat makna sikap dan identitas pemberontakan.

Gerakan tandingan pada 1960-an semakin menegaskan posisi jeans sebagai simbol anti-kemapanan. Kaum hippie memodifikasi denim melalui bordir, tempelan, dan pewarnaan manual untuk mengekspresikan solidaritas dengan kelas pekerja serta kritik terhadap kapitalisme. Walau robekan belum menjadi pusat perhatian seperti saat ini, gagasan mempersonalisasi jeans membuka jalan bagi pemaknaan baru terhadap ketidaksempurnaan sebuah kain.

4. Punk rock mengubah robekan menjadi pernyataan ideologis

ilustrasi celana jeans sobek-sobek (unsplash.com/Keagan Henman)

Transformasi paling krusial dalam asal usul celana jeans sobek-sobek terjadi pada 1970-an melalui gerakan punk rock di Inggris dan Amerika Serikat. Komunitas ini memandang pakaian sebagai medium protes terhadap konsumerisme, tatanan sosial, dan industri mode. Robekan, peniti, serta kain yang dibiarkan rusak dipilih secara sadar untuk menunjukkan kemarahan dan keterasingan dari sistem.

Desainer seperti Vivienne Westwood dan tokoh musik punk menjual busana yang sengaja disobek, sehingga jeans berlubang beralih dari kondisi tidak sengaja menjadi simbol ideologis. Praktik do it yourself memperkuat pesan bahwa nilai sebuah busana tidak ditentukan oleh kesempurnaan, melainkan oleh sikap pemakainya. Pada titik ini, robekan berubah fungsi dari tanda kemiskinan menjadi bahasa perlawanan.

5. Dari subkultur ke arus utama mode global

ilustrasi celana jeans sobek-sobek (unsplash.com/David Trinks)

Memasuki 1980-an dan 1990-an, industri mode mengadopsi estetika jeans sobek ke dalam produk komersial. Desainer ternama memproduksi denim yang telah melalui proses distressing, acid wash, serta perobekan terkontrol untuk produksi massal. Selebritas dan musisi populer mempercepat penerimaan publik akan fashion item  satu ini, sehingga simbol perlawanan perlahan beralih menjadi tren mode.

Gerakan grunge pada 1990-an kembali menekankan kesan lusuh dan tidak terawat sebagai sikap anti-fashion. Meski akhirnya gerakan grunge juga mulai diterima pasar. Hingga kini, jeans sobek hadir dalam berbagai variasi potongan dan gaya, sering kali diproduksi secara massal.

Asal usul celana jeans sobek-sobek menunjukkan bahwa pakaian tidak selalu lahir dari kebutuhan estetika semata, melainkan juga dari tekanan sosial, kondisi ekonomi, serta kegelisahan generasi pada masanya. Jeans yang awalnya dipandang sebagai simbol keterbatasan justru berubah menjadi medium ekspresi yang sarat sikap dan keberanian bersuara. Semoga, informasi ini bisa menambah pengetahuan baru buat kamu mengenai jeans sobek-sobek, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team