Hobi tak selalu soal kesenangan semata. Di era social commerce, hobi bisa menjadi ladang peluang ekonomi. Hal ini dibuktikan Nala Natasya, yang sukses mengubah kegemarannya pada dunia kecantikan dan fashion menjadi bisnis reseller luxury dengan penjualan yang mencengangkan.
Dalam satu kesempatan, ia berhasil menjual 60 tas branded hanya dalam delapan jam, tanpa promosi besar-besaran.
Sejak 2013, Nala gemar mengoleksi makeup dan skincare dari berbagai brand ternama. Aktivitasnya tak sekadar membeli, tapi juga mengikuti tren terbaru, berburu promo, dan mencoba produk yang viral di media sosial. Dari kebiasaan itu, Nala mulai dikenal lingkar pertemanannya sebagai “konsultan pribadi” untuk urusan kosmetik dan skincare.
“Dari 2014 teman-teman sudah sering tanya foundation yang cocok apa, skincare yang lagi bagus apa. Tapi dulu masih santai, belum fokus,” ujarnya.
Kebiasaan ini menumbuhkan keahlian yang tak ternilai: memahami karakter produk premium dan menjalin relasi dengan sales associate. Seiring waktu, ia menyadari potensi bisnis dari hobinya.
Pada 2025, ia memutuskan serius membangun bisnis melalui akun media sosial barunya, Beauty by Natasya, meski harus memulai dari nol setelah akun lamanya sempat terkena banned.
Dalam dunia social commerce, jumlah pengikut tidak selalu menentukan kesuksesan. Nala memilih kualitas audiens daripada kuantitas. Dari sekitar seribu pengikut yang tumbuh organik, ia menekankan engagement dan kepercayaan sebagai fondasi bisnisnya.
Pendekatan Nala sederhana namun konsisten: memberikan ulasan jujur berdasarkan pengalaman pribadi, transparan soal kondisi produk, dan menjaga komunikasi terbuka dengan pembeli. Strategi ini terbukti ampuh dalam membangun reputasi di tengah maraknya bisnis reseller luxury.
“Yang paling penting itu engagement dan trust,” katanya.
