Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tanda Sepatu Running Sudah Aus dan Berbahaya Dipakai Lari
ilustrasi sepatu running (pexels.com/Atlantic Ambience)

Sepatu running sering dianggap masih layak pakai selama bentuk luarnya belum rusak parah. Padahal, kondisi bagian dalam sepatu justru lebih menentukan kenyamanan dan keamanan saat berlari. Banyak pelari tetap memakai sepatu lama tanpa sadar bahwa performanya sudah jauh menurun dan mulai membahayakan tubuh.

Kebiasaan memaksakan sepatu yang sudah aus dapat memicu rasa nyeri pada kaki, lutut, bahkan pinggang karena daya redamnya gak lagi optimal. Hal seperti ini sering muncul perlahan sehingga banyak orang menganggapnya sekadar rasa lelah biasa setelah olahraga. Karena itu, memahami tanda sepatu running yang sudah gak layak pakai menjadi hal penting agar aktivitas lari tetap aman dan nyaman, yuk pahami bersama.

1. Sol bawah mulai tipis dan licin

ilustrasi pria menggunakan sepatu trail running (unsplash.com/Deon Collison)

Bagian sol bawah menjadi area yang paling cepat mengalami keausan karena terus bergesekan dengan permukaan jalan. Ketika pola tapak mulai hilang dan terasa licin, kemampuan sepatu mencengkeram permukaan ikut menurun drastis. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko tergelincir, terutama saat berlari di jalan basah atau area dengan permukaan halus.

Selain memengaruhi grip, sol yang sudah tipis juga membuat pijakan terasa lebih keras saat kaki menyentuh tanah. Daya redam benturan menjadi jauh berkurang sehingga tekanan langsung terasa pada telapak kaki dan lutut. Jika kondisi seperti ini terus dipaksakan, tubuh dapat mengalami ketegangan otot dan cedera ringan yang muncul secara perlahan.

2. Bantalan sepatu terasa keras

ilustrasi sneakers running (pexels.com/Aman Jakhar)

Salah satu fungsi utama sepatu running adalah meredam benturan saat kaki menghantam permukaan jalan. Ketika bantalan mulai kehilangan elastisitas, sensasi empuk yang dahulu terasa nyaman perlahan menghilang. Sepatu akhirnya terasa keras meskipun secara tampilan luar masih terlihat cukup bagus.

Perubahan ini biasanya mulai terasa setelah pemakaian dalam jarak tempuh yang cukup tinggi. Kaki menjadi lebih cepat pegal dan tubuh terasa lebih lelah setelah berlari. Banyak pelari mengabaikan tanda ini karena menganggap stamina sedang menurun, padahal sumber masalahnya berasal dari bantalan sepatu yang sudah melemah.

3. Bentuk sepatu mulai miring

ilustrasi sepatu running (pexels.com/Dayne F)

Sepatu running yang sudah lama digunakan sering mengalami perubahan bentuk pada bagian tengah dan tumit. Salah satu tandanya terlihat dari posisi sepatu yang mulai miring ketika diletakkan di permukaan datar. Perubahan kecil seperti ini menunjukkan bahwa struktur penopang kaki sudah gak lagi stabil.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi postur tubuh saat berlari karena distribusi tekanan menjadi gak seimbang. Langkah kaki perlahan berubah tanpa disadari dan dapat memicu nyeri pada area lutut atau pergelangan kaki. Dalam jangka panjang, kebiasaan memakai sepatu dengan struktur miring dapat meningkatkan risiko cedera sendi.

4. Bagian atas sepatu mulai longgar

ilustrasi sepatu trail running (unsplash.com/Deon Collison)

Bagian upper pada sepatu running berfungsi menjaga posisi kaki tetap stabil selama bergerak. Ketika materialnya mulai melar atau longgar, kaki menjadi kurang terkunci dengan baik saat berlari. Akibatnya, pergerakan kaki di dalam sepatu terasa lebih goyah dan gak stabil.

Kondisi ini sering memicu gesekan berlebih yang menyebabkan lecet pada tumit atau jari kaki. Selain itu, langkah lari juga terasa kurang presisi karena kaki gak lagi mendapat dukungan optimal dari sepatu. Hal seperti ini dapat mengurangi kenyamanan sekaligus meningkatkan risiko cedera ringan saat latihan rutin.

5. Kaki lebih sering terasa sakit setelah lari

ilustrasi kaki sakit (pexels.com/Katya Wolf)

Tubuh biasanya memberi sinyal ketika sepatu sudah gak lagi mampu menopang aktivitas lari dengan baik. Salah satu tanda paling umum adalah munculnya rasa sakit pada kaki, betis, atau lutut setelah berlari meskipun jarak tempuh gak terlalu jauh. Rasa nyeri ini sering muncul secara perlahan sehingga banyak orang mengabaikannya.

Ketika sepatu kehilangan kemampuan menopang dan meredam benturan, tekanan pada tubuh otomatis meningkat. Otot dan sendi akhirnya bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan selama berlari. Jika rasa sakit mulai sering muncul setelah latihan, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa sepatu sudah waktunya diganti.

Sepatu running yang terlihat masih bagus belum tentu aman digunakan untuk aktivitas lari rutin. Banyak bagian penting pada sepatu mengalami penurunan fungsi sebelum kerusakan terlihat jelas dari luar. Karena itu, memperhatikan tanda-tanda keausan menjadi langkah penting agar pengalaman berlari tetap nyaman, aman, dan menyenangkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy