Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Barisan peserta diklat PPIH Arab Saudi 2026 di lapangan Makodau I, Jakarta Timur, Jumat (30/01/2026) (Dok. Media Center Haji)
Barisan peserta diklat PPIH Arab Saudi 2026 di lapangan Makodau I, Jakarta Timur, Jumat (30/01/2026) (Dok. Media Center Haji)

Intinya sih...

  • Peran petugas haji sebagai wajah negara di mata dunia

  • Disiplin sebagai fondasi utama dalam menjalankan tugas

  • Kekuatan restu keluarga sebagai dukungan spiritual dan psikologis

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sebanyak 1.600 peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun 2026 resmi dikukuhkan menjadi petugas haji. Pengukuhan ini menandai berakhirnya masa penggemblengan fisik, mental, dan materi yang telah berlangsung selama kurang lebih 20 hari.

​Upacara pengukuhan berlangsung khidmat dengan dipimpin langsung oleh Menteri Haji dan Umrah RI, M. Irfan Yusuf Hasyim, selaku Inspektur Upacara. Bertindak sebagai Komandan Upacara adalah Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

​Meski telah resmi dikukuhkan, tugas para petugas belum berhenti di sini. Mereka dijadwalkan akan menjalani masa pembekalan lanjutan secara daring selama satu minggu ke depan. Hal ini dilakukan sebagai pemantapan akhir sebelum mereka diterbangkan untuk melayani Tamu Allah di Tanah Suci pada periode April hingga Juni mendatang.

1. Wajah negara di mata dunia

Upacara pengukuhan berlangsung khidmat dengan dipimpin langsung oleh Menteri Haji dan Umrah RI, M. Irfan Yusuf Hasyim, selaku Inspektur Upacara. (Dok. Media Center Haji)

Dalam amanatnya, Menteri Irfan Yusuf Hasyim menegaskan bahwa penyelenggaraan haji adalah amanah besar negara yang menyangkut kehormatan bangsa dan kewibawaan Indonesia di kancah internasional. Mengingat Indonesia merupakan negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia, peran petugas menjadi sangat strategis.

​"Saudara-saudara adalah wajah negara di hadapan jemaah. Saudara-saudara adalah wajah negara di hadapan dunia," tegas Menteri Irfan dalam pidatonya.

​Ia mengingatkan bahwa kinerja petugas tidak hanya dinilai dari pekerjaan teknis yang diselesaikan, tetapi juga dari sikap, keteguhan, dan kepekaan dalam melayani. Di tengah tantangan fisik dan emosional yang tinggi di Tanah Suci, petugas dituntut untuk tetap tenang dan bertanggung jawab.

2. Disiplin sebagai fondasi utama

Peserta Diklat PPIH saling mengucapkan selamat atas pengukuhan mereka sebagai petugas haji (IDN Times/Yogie Fadila)

​Menteri Irfan menekankan bahwa kemampuan teknis semata tidak cukup untuk menjadi petugas haji yang baik. Integritas dan kedisiplinan disebutnya sebagai fondasi utama yang tidak bisa ditawar.

​"Disiplin dalam mematuhi regulasi, disiplin dalam menjalankan peran, disiplin waktu, serta disiplin menjaga etika. Tanpa disiplin, pelayanan akan kehilangan arah," ujarnya.

​Ia juga berpesan agar "etika melayani" menjadi pegangan setiap petugas. Melayani jemaah, menurutnya, adalah upaya menjaga martabat manusia dan menghadirkan negara secara nyata saat jemaah membutuhkan bantuan.

3. Kekuatan restu keluarga

Peserta Diklat PPIH saling mengucapkan selamat atas pengukuhan mereka sebagai petugas haji (IDN Times/Yogie Fadila)

​Menutup pidatonya, Menteri Irfan menyoroti aspek spiritual dan dukungan psikologis bagi para petugas. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tugas di Tanah Suci juga sangat bergantung pada kekuatan batin yang bersumber dari keluarga.

​"Mintalah doa dan ridho dari keluarga sebelum berangkat. Dengan itu, tugas yang berat akan terasa lebih ringan dan dijalani dengan ketenangan," pesannya.

​Upacara ditutup dengan pernyataan resmi pengukuhan petugas haji untuk musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, diiringi doa agar seluruh petugas diberikan kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan pengabdian tersebut.

Editorial Team