Jakarta, IDN Times – Jakarta sore itu masih terasa panas. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 16.28 WIB saat duduk di halte usai meliput peringatan HUT ke-60 Persatuan Tunanetra, pada Minggu (25/1/2026) lalu.
Tak lama, suara langkah-langkah pelan terdengar dari arah trotoar. Tiga penyandang tunanetra berjalan bergandengan tangan mendekati halte. Satu orang di depan memegang tongkat, sementara dua lainnya saling bertaut pada bahu dan lengan, menjaga ritme langkah agar tetap seirama. Disampingnya terlihat laki-laki yang jadi pemandu.
Salah satu dari mereka, Rizka duduk di samping saya, dengan tenang dia bersama dua temanya duduk di halte menunggu Transjakarta. Dia mengatakan, bepergian secara berkelompok sudah menjadi kebiasaan saat menggunakan transportasi umum.
“Biasanya kami memang bergerombol seperti ini. Lebih aman dan saling bantu,” ujarnya.
Menurut Rizka, kehadiran transportasi publik sangat membantu mobilitasnya sehari-hari. Namun, sejak armada bus listrik dioperasikan, ia mengaku harus ekstra waspada.
“Karena kami sehari-hari mengandalkan suara, jadi kadang-kadang kalau di jalan harus lebih waspada. Bus listrik itu senyap, tidak terdengar,” katanya.
Bagi penyandang tunanetra, suara mesin kendaraan menjadi penanda penting untuk memperkirakan jarak dan arah. Tanpa bunyi, mereka harus mengandalkan intuisi, hembusan angin, atau informasi dari orang sekitar.
Tak lama kemudian, bus Transjakarta rute Kampung Melayu–Tanah Abang via Cikini (5M) berhenti di depan mereka. Namun kedatangannya nyaris tak terdeteksi dari suara. Baru setelah pintu terbuka dan terdengar bunyi mekanis halus, mereka menyadari bus telah tiba dan mereka dibimbing oleh pemandu untuk masuk dalam bus listrik Transjakarta.
Pengalaman Rizka terjadi di tengah ambisi besar elektrifikasi transportasi publik Jakarta. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengakselerasi pengadaan bus listrik untuk menekan emisi, dengan target 10.000 unit bus listrik Transjakarta beroperasi pada 2030, sebagaimana dicanangkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
