Comscore Tracker

Bayar Diyat Rp15,2 Miliar, TKI Asal Majalengka Lolos dari Hukuman Mati

Eti binti Toyib 19 tahun mendekam di penjara Arab Saudi

Majalengka, IDN Times - Eti binti Toyib Anwar, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Majalengka, Jawa Barat, akhirnya berhasil lolos dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi. Eti dibebaskan setelah Pemerintah Republik Indonesia membayarkan uang diyat atau denda sebesar 4 juta riyal atau Rp15,2 miliar sesuai tuntutan keluarga sekaligus ahli waris korban.

Eti yang sudah 19 tahun mendekam di penjara Saudi, divonis bersalah meracuni sang majikan, Faisal al-Ghamdi hingga tewas pada 2001 lalu.

Keluarga Eti di Majalengka mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, Presiden Joko 'Jokowi' Widodo dan semua pihak yang telah membantu pembebasan anak mereka dari hukuman pancung.

1. Keluarga tak sabar menunggu kepulangan Eti ke tanah air

Bayar Diyat Rp15,2 Miliar, TKI Asal Majalengka Lolos dari Hukuman MatiIDN Times/Andra Adyatama

Kakak korban, Misnan mengaku seluruh keluarga sangat bahagia mendengar kabar pembebasan tersebut. Saat ini, mereka sangat menunggu kepulangan Eti ke tanah air untuk kembali berkumpul di Majalengka.

"Kami berterima kasih kepada pemerintah Indonesia dan semua pihak yang telah membantu Eti,  kami keluarga di sini sangat bahagia," kata Misnan kakak TKI Eti saat ditemui di rumahnya di Desa Cidadap Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka, Sabtu (13/7).

Misnan mengaku tahu Eti batal dihukum mati dari berita di televisi, wartawan yang datang ke rumah beserta camat dan kepala desa. "Surat resminya dari Kemenlu atau Disnaker Majalengka sih belum nerima," ungkap Misnan.

2. Tebusan uang diyat Eti berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia

Bayar Diyat Rp15,2 Miliar, TKI Asal Majalengka Lolos dari Hukuman Mati(Agus Maftuh Dubes RI untuk Arab Saudi (kanan)) Dok. KBRI Riyadh

Informasi yang dihimpun Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Arab Saudi yang berhasil membebaskan seorang TKI asal Majalengka, pembebasan Eti binti Toyib Anwar dari jeratan hukuman mati berlangsung alot.

Termasuk masalah uang tebusan (diyat) sebesar 4 juta riyal atau setara dengan Rp15,2 miliar. Kasus Eti bermula sejak 2001 dan ia pun sudah menjalani masa penahanan selama 19 tahun.

Pembebasan Eti ini adalah berkat kerja keras Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel karena telah berhasil melakukan komunikasi dan negosiasi, serta mengkoordinir penggalangan dana untuk tebusan.

Eti merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Kota Taif, Arab Saudi. Ia dituduh menjadi penyebab majikan sakit dan meninggal dunia. Keluarga majikan menuntut hukuman mati atau qishas diberikan kepada Eti. 

Sementara itu, Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengatakan, penggalangan dana diyat untuk menyelamatkan Eti telah berhasil mencapai jumlah yang diminta ahli waris.

"Setelah negosiasi yang panjang dan alot, keluarga majikan bersedia memaafkan dengan meminta diyat sebesar 4 juta riyal," jelas Agus Maftuh dalam keterangan persnya.

Agus Maftuh mengungkapkan penggalangan dana yang dilakukan KBRI Saudi merupakan bentuk pelayanan kepada WNI yang berada di Saudi. Menurutnya, dana yang bisa dikumpulkan merupakan hasil tabarru` (sumbangan) dari para dermawan berbagai pihak di Indonesia.

Terkait sumber pengumpulan dana itu, diketahui, Rp12,5 miliar atau 80 persen dari jumlah diyat tebusan yang diminta ahli waris korban merupakan sumbangan dari Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU).

"Dana Rp12,5 miliar tersebut dihimpun oleh LAZISNU selama 7 bulan dari para dermawan santri, dari kalangan pengusaha, birokrat, politisi, akademisi, dan komunitas filantropi," ungkap Agus Maftuh.

Secara khusus, ia menyampaikan banyak terima kasih kepada LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq Sadaqah Nahdlatul Ulama) yang telah memberikan sumbangan sebesar Rp12,5 miliar atau 80 persen dari jumlah diyat tebusan yang diminta ahli waris korban.

Baca Juga: Bebas dari Hukuman Mati, Kenapa Siti Aisyah Bisa Didakwa Lagi?

3. Eti dituduh meracuni Majikan

Bayar Diyat Rp15,2 Miliar, TKI Asal Majalengka Lolos dari Hukuman Mati(Poster yang menuntut agar Saudi menghentikan praktik hukuman mati) IDN Times/Dimas

Pejabat Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Chairil Anwar dari Kemenlu mengatakan TKI asal Desa Cidadap Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka, Eti binti Toyib yang dipenjara sejak 2002 yang dituduh meracuni majikan dan terancam hukuman mati harus membayar uang diyat (uang darah) yang diminta keluarga majikan sebesar 30 juta riyal atau Rp107 miliar agar diampuni dan tidak dieksekusi.

"Kita sudah upaya pendekatan dan menyewa pengacara dan mendatangkan keluarga 2015 dan 2016. Bulan September 2017 ini keluarga korban bersedia memberi maaf cuma ada syaratnya yang berat minta uang diyat 30 juta riyal atau Rp107 miliar," kata Chairil Anwar saat mengunjungi rumah keluarga Eti binti Toyib Anwar di Desa Cidadap Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka.

Baca Juga: Berkat TKI, Indomie Populer di Arab Saudi

4. ASN Pemprov Jawa Barat kumpulkan sedekah untuk bayar diyat TKI Eti

Bayar Diyat Rp15,2 Miliar, TKI Asal Majalengka Lolos dari Hukuman MatiIDN Times/Galih Persiana

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah berupaya semaksimal mungkin turut membebaskan Eti dari ancaman hukuman mati atau qisas.

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, pada Mei 2019 dirinya mendapat laporan dari Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah menerima surat dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk Jeddah perihal penggalangan dana diyat untuk membebaskan Eti dari hukuman mati.

“KJRI berkoordinasi dengan Lajnah Awfu Taif untuk memastikan dana diyat buat Eti yang ditransfer Pemerintah via KBRI Riyadh telah masuk ke penanggung jawab rekening di sana, yaitu Kantor Gubernur Riyadh,” tutur Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, Jumat (12/7).      

Keluarga al-Ghamdi mengajukan uang tebusan atau dana diyat kepada hakim yang mengadili Eti. Awalnya, lanjut Emil, hakim memutuskan dana diyat sebesar 30 juta riyal. Namun setelah melalui proses panjang, diyat turun menjadi 5 juta riyal. “Dan setelah dinegosiasikan lagi disepakati diyat 4 juta riyal,” sebut Emil. 

Emil menceritakan, sejak kesepakatan itu, KJRI berupaya menggalang dana untuk membayar diyat 4 juta riyal atau sekitar Rp15,2 miliar. Pemerintah berpacu dengan waktu, karena jika dana diyat tersebut tidak terpenuhi maka Eti akan dihukum mati dengan cara dipancung.
 
“Pemdaprov Jabar tidak tinggal diam. Kami pun menggalang dana untuk pembebasan Ety. Pada bulan Ramadan lalu saya bertemu dengan Dubes Arab Saudi meminta pengampunan untuk Ety,” katanya.

Emil menyebutkan, beberapa upaya yang dilakukan dengan mengumpulkan sedekah ASN Pemdaprov Jabar melalui rekening Jabar Peduli yang dilakukan dua tahap. Tahap pertama terkumpul Rp1 miliar dan sudah ditransfer. Tahap kedua terkumpul Rp400 juta.

Namun karena diyat keburu terpenuhi, dana tahap kedua ini masih ada di rekening Jabar Peduli. “Karena dana diyat sudah terpenuhi, sedekah yang Rp400 juta dari ASN tetap tersimpan di rekening Jabar Peduli,” kata Emil.

Emil juga telah meminta Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jabar dan pihak perbankan terutama Bank BJB agar dapat mengeluarkan sedekahnya.

“Kami juga selalu berkoordinasi dengan Pemkab Majalengka untuk penggalangan dana ini,” katanya.

Hingga kini, Disnakertrans Jabar tetap berkomunikasi dengan KJRI untuk menunggu proses administrasi Mahkamah Pengampunan sampai akhirnya Eti binti Toyib Anwar dapat dipulangkan ke tanah air. “Semoga cepat-cepat bisa pulang ke Majalengka,” ucap Emil.

Baca Juga: Marak TKI Ilegal hingga Meninggal, Apa yang Dilakukan Pemerintah?

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya