Sejumlah literatur menyebut suku Sawang merupakan nelayan dan penyelam. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai navigator laut yang andal. Kehidupan suku Sawang berstatus nomaden. Hal tersebut membuat suku Sawang bagian sejarah Bangka Belitung yang bertahan.
“Titik Temu Belitung menjadi pertemuan kehidupan di laut dan darat. Gambarannya bisa dilihat dari beragam seni dan budaya yang ditampilkan. Hal ini menjadi cermin harmoniasi seluruh aspek yang ada di Belitung. Kami optimistis, Titik Temu Belitung akan menjadi event dengan skala internasional,” ungkap Bupati Belitung Sahani Saleh, Minggu (30/6).
Sahani menjelaskan, Belitung kaya dengan budaya bahari. Potensi tersebut tentu akan dioptimalkan. Tujuannya sebagai daya tarik wisata. Dengan menonjolkan keunikan, Bupati yakin pergerakan wisatawan akan makin positif ke Belitung.
Salah satu keunikan yang ditonjolkan ialah suku Sawang yang eksotis. Suku tersebut menggantungkan penuh kehidupannya di laut. Bila cuaca laut kurang bersahabat, suku Sawang lebih suka menghabiskan waktunya di atas perahu rumahnya. Untuk berkomunikasi, mereka menggunakan bahasa Sekak. Bahasa tersebut masuk dalam rumpun Melayu, tapi dialeknya berbeda.
“Kekuatan bahari Belitung memang unik dan menarik. Kehadiran mereka makin menguatkan daya tarik event. Bagaimanapun, Titik Temu Belitung menjadi bagian branding pariwisata di sini. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih atas support besar Kemenpar. Event ini akan terus berkembang,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung Hermanto.