Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyediakan layanan Bus Shalawat gratis selama jemaah berada di Kota Suci (dok. Kemenag)
Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyediakan layanan Bus Shalawat gratis selama jemaah berada di Kota Suci (dok. Kemenag)

Intinya sih...

  • Kepastian Jadwal dan Peran Ketua Regu

  • Jarak Dekat Tetap Diantar

  • Skema Murur dan Tanazul Masih Digodok

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kabar baik bagi jemaah haji Indonesia tahun 1447 H/2026 M. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menyiapkan terobosan baru dalam manajemen transportasi untuk menghapus ketidakpastian jadwal keberangkatan, khususnya saat fase puncak haji.

Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Transportasi Haji, Syarif Rahmat, mengungkapkan bahwa tahun ini pihaknya menyusun jadwal pergerakan yang sangat rinci untuk setiap kelompok terbang (kloter).

"Tahun ini kita akan menyusun jadwal pergerakan jemaah setiap kloter yang rigid di sana. Jadi nanti tidak ada lagi tahun 2026 ini jemaah yang berangkat ke Arafah tidak tahu kapan berangkatnya, (hanya) nunggu di lobi dari pagi ternyata berangkatnya siang atau malam," ujar Syarif di sela-sela Diklat PPIH Arab Saudi, Kamis (22/01/2026).

Berikut adalah tiga poin utama strategi transportasi haji 2026.

1. Kepastian Jadwal dan Peran Ketua Regu

Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Transportasi Haji, Syarif Rahmat (IDN Times/Yogie Fadila)

Syarif menegaskan bahwa ketidakpastian jadwal yang kerap membuat jemaah kelelahan menunggu di lobi hotel akan dipangkas. Jadwal keberangkatan dari Makkah menuju Arafah akan disusun sedetail mungkin.

Untuk memastikan kelancaran di lapangan, wewenang kendali pergerakan akan didistribusikan hingga level terkecil. "PIC (Person in Charge) pergerakan itu adalah Ketua Regu. Mereka hanya mengelola 10 orang," jelasnya. Dengan lingkup yang lebih kecil, pergerakan jemaah diharapkan lebih lincah dan terorganisir.

2. Layanan Bus Shalawat: Jarak Dekat Tetap Diantar

Bus Shalawat ramah Lansia di Makkah, Selasa, (4/6/2024). IDN Times/Faiz Nashrillah

Terkait layanan transportasi harian di Makkah atau Bus Shalawat, Syarif memastikan pemerintah Indonesia memberikan pelayanan "plus". Sesuai aturan Arab Saudi, layanan ini sebenarnya wajib hanya bagi jemaah yang tinggal lebih dari 2.000 meter dari Masjidil Haram. Namun, Indonesia menerapkan kebijakan berbeda.

"Kebijakan pemerintah Indonesia setiap tahunnya memberikan seluruh layanan shalawat itu bagi seluruh jemaah dengan jarak berapapun, walaupun kurang dari 2.000 meter tetap diberikan," ungkap Syarif.

Bus ini akan beroperasi 24 jam penuh sejak kedatangan jemaah hingga tanggal 5 Zulhijah. Untuk memudahkan, setiap jemaah akan dibekali kartu rute yang warnanya dan nomornya sama persis dengan stiker di bus. "Itu memudahkan jemaah untuk mengenali dan mengingat rute masing-masing," tambahnya.

3. Skema Murur dan Tanazul Masih Digodok

Suasana menjelang wukuf di Padang Arafah, Saudi Arabia, Sabtu (15/6/2024)/(Dok. MCH 2024)

Untuk transportasi puncak haji (Masyair) yang meliputi rute Makkah-Arafah-Muzdalifah-Mina, Kemenhaj tengah mematangkan skema Murur (melintas Muzdalifah tanpa turun) dan Tanazul (kembali ke hotel). Skema ini disiapkan untuk mengurai kepadatan ekstrem.

Meski demikian, Syarif menyebut desain final skema ini baru bisa diputuskan setelah proses pelunasan biaya haji selesai.

"Murur dan Tanazul itu baru bisa didesain ketika pelunasan sudah selesai, (agar tahu) profil jemaah seperti apa. Dan harus dikonsultasikan dengan pihak Dewan Kehormatan di Arab Saudi. Kalau tidak mendapat izin, tidak bisa dilakukan," tutupnya.

Topics

Editorial Team