Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
142A0129.jpg
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, Direktur Wholesale & International Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba, serta Pendiri Think Policy Andhyta Firselly Utami saat berdiskusi di acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang diselenggarakan IDN Times di IDN HQ, Jakarta, pada Kamis (15/1). (dok. IDN Times)

Intinya sih...

  • Penguatan anggaranriset nasional meningkat 218 persen dalam satu tahun terakhir.

  • Telkom mendorong pengembangan talenta digital melalui berbagai program pendidikan.

  • Pendidikan berkualitas membentuk cara berpikir, memiliki peran penting dalam membentuk literasi, nalar kritis, dan tanggung jawab sosial.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perubahan dunia kerja yang semakin cepat dan berbasis teknologi mendorong penyesuaian dalam sistem pendidikan. Di tengah meluasnya akses belajar dan berkembangnya kecerdasan buatan, pendidikan dituntut untuk tetap relevan, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan zaman.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie bersama Direktur Wholesale & International Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba, serta Pendiri Think Policy Andhyta Firselly Utami.

Dimoderatori oleh Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, ketiga narasumber tersebut berdiskusi dalam acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang diselenggarakan IDN Times di IDN HQ, Jakarta, melalui sesi bertajuk Pendidikan Unggul untuk Pertumbuhan Berkualitas.

1. Pendidikan unggul yang ditopang riset

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie di acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang diselenggarakan IDN Times di IDN HQ, Jakarta, pada Kamis (15/1). (dok. IDN Times)

Stella Christie menegaskan bahwa pendidikan unggul tidak bisa dilepaskan dari peran riset. Menurutnya, riset merupakan fondasi penting untuk membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan sekaligus mendorong pertumbuhan berkualitas.

Ia menyampaikan, anggaran riset nasional mengalami peningkatan signifikan. Dalam satu tahun terakhir, dana riset naik hingga 218 persen, bahkan pemerintah kembali menambah alokasi sebesar Rp4 triliun untuk memperkuat riset dan inovasi di Indonesia.

“Dan ini langsung hangat dari tungku, maksudnya keluar dari istana. Bapak Presiden baru saja menjanjikan tambahan 4 triliun rupiah untuk riset. Barusan, tadi di istana. Jadi ini perhatian yang luar biasa,” katanya.

Namun, Stella menekankan bahwa penguatan riset tidak berhenti pada peningkatan anggaran semata. Tujuan utamanya adalah membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa, peneliti, dan industri agar hasil riset dapat dimanfaatkan secara nyata. “Pendidikan unggul itu bukan hanya soal menghasilkan lulusan, tapi bagaimana menciptakan peluang,” ujar Stella.

Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat pendidikan vokasi dan politeknik, serta mendorong keterlibatan industri secara langsung dalam proses pembelajaran agar hasil pendidikan lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

2. Dunia industri membutuhkan talenta siap kerja

Direktur Wholesale & International Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba di acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang diselenggarakan IDN Times di IDN HQ, Jakarta, pada Kamis (15/1). (dok. IDN Times)

Budi Satria Dharma Purba menambahkan bahwa dunia industri bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi. Karena itu, perusahaan membutuhkan talenta yang tidak hanya memiliki gelar, tetapi juga keterampilan yang relevan dan siap diterapkan.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Telkom mendorong pengembangan talenta digital melalui berbagai program pendidikan. Budi menyebut, Telkom membangun ekosistem pembinaan talenta yang melibatkan sekolah, perguruan tinggi, industri, hingga komunitas.

Sejumlah program yang dijalankan antara lain Digistar, pengembangan AI Center of Excellence, serta platform pembelajaran digital Pijar yang dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar mengajar dan peningkatan kompetensi. Inisiatif tersebut dirancang sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

“Kami melihat talenta bukan dari latar belakang kampusnya, tetapi dari skillset yang dimiliki. Lewat program-program ini, kami ingin memastikan lulusan punya kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri, bukan hanya secara teori,” tambahnya.

Ia pun mengatakan, program-program tersebut tidak hanya bertujuan mendukung pendidikan, tetapi juga menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri, sehingga lulusan dapat lebih siap menghadapi dunia kerja. Menurutnya, kolaborasi jangka panjang antara dunia pendidikan dan industri turut menjadi kunci agar lulusan dapat lebih siap menghadapi dinamika dunia kerja.

3. Pendidikan berkualitas membentuk cara berpikir

Pendiri Think Policy Andhyta Firselly Utami di acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang diselenggarakan IDN Times di IDN HQ, Jakarta, pada Kamis (15/1). (dok. IDN Times)

Sementara itu, Andhyta Firselly Utami menyoroti bahwa pendidikan berkualitas tidak semestinya hanya diukur dari output ekonomi. Menurutnya, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Di tengah banjir informasi dan pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, Andhyta menilai pendidikan menjadi fondasi utama bagi literasi, nalar kritis, dan tanggung jawab sosial. “Pendidikan bukan hanya untuk menyiapkan seseorang bekerja, tetapi juga membentuk bagaimana ia berperan sebagai bagian dari masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan pendidikan formal dalam memberikan nilai tambah yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh pembelajaran mandiri berbasis digital.

Diskusi ini menegaskan bahwa pendidikan unggul perlu terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Penguatan riset, keterlibatan industri, serta pembentukan cara berpikir kritis menjadi elemen penting agar pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menciptakan talenta yang relevan dan berdampak bagi pembangunan nasional. (WEB)

Editorial Team