Comscore Tracker

Pakar Epidemiologi: Perlu Ada Payung Hukum yang Mengatur New Normal

Perlu ada sanksi hukum yang jelas ketika tak pakai masker

Surabaya, IDN Times - Sejumlah daerah mulai bersiap menerapkan new normal atau normal baru dalam waktu dekat. Pemerintah pusat maupun daerah juga terus mematangkan konsep tatanan hidup baru.

Namun, sebelum kebijakan new normal diterapkan, Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), dr. Windhu Purnomo menekankan beberapa catatan penting.

1. Penerapan new normal belum laik di Surabaya

Pakar Epidemiologi: Perlu Ada Payung Hukum yang Mengatur New NormalIlustrasi New Normal (IDN Times/Arief Rahmat)

Menurut Windhu, new normal belum laik diterapkan di Surabaya Raya, sebab menurut kurva epidemi tingkat penularan masih satu.

Sementara, berdasarkan anjuran WHO dan Bappenas, new normal boleh diterapkan apabila tingkat penularan di bawah satu selama 14 hari atau dua pekan berturut-turut.

"Selama itu belum, jangan. Kalau sudah bagus (silakan) new normal life," ujarnya kepada IDN Times, Minggu (7/6).

Baca Juga: Koalisi Warga Kawal New Normal: Jangan Jadi New Abnormal

2. Perlu payung hukum untuk mendukung penerapan new normal

Pakar Epidemiologi: Perlu Ada Payung Hukum yang Mengatur New NormalReceptionist Hotel Inaya Putri menerima telepon (IDN Times/Ayu Afria)

Windhu mengatakan, setelah tingkat penularan sudah sesuai kriteria, dia berharap ada payung hukum untuk mendukung penerapan new normal. Seperti halnya UU Lalu Lintas, ketika pengendara tidak sesuai aturan maka akan ditilang. Misalnya tidak memakai helm maupun melanggar rambu-rambu lalu lintas.

"Harus ada UU kalau new normal. Tidak pakai masker ada sanksinya, seperti UU lalin itu nanti," ucap dia.

3. Pakar khawatir melihat perilaku masyarakat yang belum patuh protokol kesehatan

Pakar Epidemiologi: Perlu Ada Payung Hukum yang Mengatur New NormalIlustrasi New Normal (IDN Times/Arief Rahmat)

Keinginan Windhu ini bukan tanpa dasar. Dia khawatir setelah melihat berita di salah satu stasiun televisi swasta yang menunjukkan aktivitas warga di Pasar Pabean Surabaya. Di sana terlihat para pedagang dan pembeli berkerumun, beberapa di antaranya tidak memakai masker.

"Warga sangat tidak patuh. Anehnya pemda sudah melonggarkan. Buktinya salat Jumat kemarin, masjid sudah boleh buka. Kemudian mal sudah disiapkan new normal life. Pasar sudah bebas begitu," katanya.

"Di Pasar Pabean sebelah Utara berjubel, penjualnya tidak pakai masker," dia menambahkan.

4. Menyambut new normal masyarakat harus patuh dulu pada protokol kesehatan

Pakar Epidemiologi: Perlu Ada Payung Hukum yang Mengatur New NormalProtokol New Normal (Dok.IDN Times/Istimewa)

Windhu pun berharap kepada masyarakat agar melaksanakan protokol kesehatan sebelum penerapan new normal. Hal ini sebagai langkah membiasakan diri untuk menyambut tatanan baru. Sebab, pandemik COVID-19 memang belum diketahui waktu berakhirnya.

"Cepat lambatnya kita gak tahu. Harus new normal betul. Bermasker kalau keluar, di rumah saja kalau gak perlu, jaga jarak di luar, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir. Jangan berkerumun. Sampai nanti betul nol kasusnya. Harus berpirlaku baru," kata Windhu.

Baca Juga: Sambut Era New Normal, Transjakarta Perpanjang Jam Operasional

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya