Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Asal-Usul Takjil Sampai Bisa Jadi Tradisi Wajib di Bulan Ramadan
Sejumlah warga membeli makanan siap saji di pasar takjil Ramadhan Delight Jalan Andi Mappanyukki, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (1/3/2025). (ANTARA FOTO/Hasrul Said)

Intinya sih...

  • Takjil berasal dari hadis Nabi Muhammad dan merupakan makanan untuk berbuka puasa yang disegerakan, telah ada di Nusantara sejak lama, dan pernah menjadi medium dakwah Wali Songo.

  • Muhammadiyah memiliki peran besar dalam mempopulerkan takjil serta seremoni kultural lain di dalam Ramadan, meskipun awalnya mendapat tentangan dari kelompok tradisional.

  • Untuk berburu takjil di Jakarta, pilih lokasi terdekat, buat daftar makanan yang ingin dicari, bandingkan harga antar pedagang, dan belilah secukupnya sesuai kebutuhan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Selain menjalankan ibadah puasa, bulan suci Ramadan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tradisi berburu takjil. Setiap sore menjelang waktu berbuka, berbagai lokasi di seluruh penjuru tanah air, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, berubah menjadi pusat jajanan dengan deretan pedagang yang menjajakan aneka makanan dan minuman untuk berbuka.

Fenomena tahunan ini telah mengakar kuat dalam keseharian masyarakat muslim Indonesia, menjadikan takjil sebagai komoditas yang dinantikan sekaligus bagian dari semarak ibadah di bulan penuh berkah.

Meskipun istilah takjil sudah terdengar akrab di telinga, tidak banyak yang mengetahui sejarah panjang di balik tradisi yang menjadi agenda wajib masyarakat Indonesia selama bulan Ramadan ini. Lantas, bagaimana sebenarnya asal-usul takjil hingga bisa mengakar kuat seperti sekarang? Berikut ulasan selengkapnya.

1. Mengenal apa itu takjil?

ilustrasi makan takjil dalam porsi kecil (freepik.com/freepik)

Dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, istilah takjil diambil dari hadis Nabi Muhammad riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi, "Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan (ajjalu) berbuka." Istilah 'menyegerakan' dalam hadis tersebut, dalam bahasa Arab memiliki akar kata ajjala–yu'ajjilu–ta'jilan yang bermakna 'momentum', 'tergesa-gesa', atau 'mempercepat'.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kemudian mengistilahkan takjil sebagai makanan untuk berbuka puasa yang disegerakan. Dalam tataran budaya, praktik menyegerakan berbuka ini dimiliki oleh setiap bangsa Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan kekhasan kulinernya masing-masing.

Lebih jauh, catatan sejarah menunjukkan tradisi takjil telah ada di Nusantara sejak lama. Snouck Hurgronje dalam laporannya berjudul De Atjehers setelah mengunjungi Aceh pada 1891-1892 mencatat masyarakat lokal telah mengadakan buka puasa bersama di masjid dengan menyantap ie bu peudah atau bubur pedas.

Sementara, Muhammadiyah juga mencatat takjil pernah menjadi medium dakwah yang digunakan Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di bumi Nusantara. Meskipun takjil dikenal sebagai bagian dari perintah Nabi dan diadaptasi dalam berbagai budaya yang berbeda, pada masa-masa awal tersebut praktik ini masih menjadi kebudayaan lokal yang belum populer secara luas di seluruh wilayah.

2. Peran Muhammadiyah dalam mempopulerkan takjil

Ilustrasi penjual takjil (Unplash/Umar ben)

Lebih jauh, Profesor Munir Mulkhan dalam bukunya yang berjudul Kiai Ahmad Dahlan – Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan (2010) mencatat  Muhammadiyah memiliki peran besar dalam mempopulerkan takjil beserta seremoni kultural lain dalam Ramadan.

Munir mencatat Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid mempopulerkan tradisi mengakhirkan makan sahur menjelang waktu subuh tiba, dan menggelar takjil untuk menyegerakan kaum muslimin berbuka. Sebagaimana usaha Kiai Ahmad Dahlan membawa ajaran Islam yang kerap mendapat tentangan dari kelompok tradisional, upaya mempopulerkan takjil dan mengakhirkan sahur pun tidak luput dari tuduhan miring.

Kiai Dahlan bahkan pernah dituduh sebagai 'Kiai Kafir' karena dianggap membawa praktik yang berbeda.

"Cara Muhammadiyah memenuhi ibadah puasa di atas waktu itu menyebabkan pengikut Muhammadiyah dicap tidak tahan lapar, tapi saat ini cara pengikut Muhammadiyah itu sudah menjadi tradisi puasa semua warga muslim di Indonesia," catat Munir dalam bukunya.

Meski demikian, takjil pada masa kini telah berkembang menjadi semacam kultur baru bagi masyarakat Indonesia. Tradisi ini bahkan mengalami modernisasi dengan maraknya unggahan video pendek di media sosial yang mempopulerkan istilah baru, yakni 'war takjil'.

3. Tips berburu takjil di Jakarta

Ilustrasi momen berburu takjil (Unplash/Umar ben)

Bagi kamu yang ingin berburu takjil di ibu kota, beberapa tips berikut dapat diterapkan agar pengalaman berburu takjil berjalan lancar. Pertama, tentukan lokasi terdekat dari tempatmu seperti Pasar Bendungan Hilir (Benhil), Jalan Panjang, Blok M Square, Kramat Raya, atau kawasan sekitar Masjid Agung Al-Azhar. Memilih lokasi yang dekat dengan tempat tinggal atau jalur pulang kerja akan menghemat waktu dan tenaga.

Kedua, sebelum pergi, buat daftar makanan yang ingin dicari agar belanja lebih terarah dan tidak kehabisan stok. Referensi menu bisa didapatkan dari media sosial atau video pendek yang diunggah warga untuk rekomendasi takjil kekinian.

Ketiga, bandingkan harga antar pedagang jika menemukan produk yang sama. Menanyakan harga terlebih dahulu dapat membantu kamu memilih pedagang dengan harga yang sesuai budget, terutama jika berburu takjil dilakukan setiap hari selama Ramadan.

Terakhir, belilah secukupnya sesuai kebutuhan agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Selain itu, prinsip ini sejalan dengan nilai Ramadan yang mengajarkan kesederhanaan dan menghindari pemborosan.

Editorial Team