Bogor, IDN Times - Insiden ambruknya atap sekolah kembali terjadi di Kabupaten Bogor. Kali ini, musibah menimpa SMAN 2 Gunung Putri pada Jumat (23/1/2026) dini hari. Menanggapi kejadian yang terus berulang, Pemerintah Kabupaten Bogor mengambil langkah tegas untuk melakukan audit menyeluruh.
Peristiwa ambruknya atap SMAN 2 Gunung Putri terjadi sekitar pukul 04.30 WIB, dan belum ada aktivitas belajar mengajar di dalam kelas, sehingga tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
"Peristiwa terjadi sekitar pukul 04.30 WIB. Peristiwa tersebut dilaporkan guru Tata Usaha (TU) yang menginap di sekolah," ujar Kepala Sekolah SMAN 2 Gunung Putri, Dede Sahidin.
Atap SMAN 2 Gunung Putri Ambruk, Pemkab Bogor Audit Massal Sekolah

Intinya sih...
Ambruknya atap SMAN 2 Gunung Putri adalah kejadian ketiga dalam 5 bulan terakhir di Kabupaten Bogor, menimbulkan kekhawatiran akan kualitas material bangunan sekolah.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyoroti kemiripan desain bangunan yang rusak dan meminta audit menyeluruh untuk mencegah korban jiwa di sekolah lain.
Pemerintah Kabupaten Bogor mengambil langkah tegas dengan melakukan audit menyeluruh untuk mendeteksi potensi kerusakan pada bangunan sekolah lain sebelum terjadi korban jiwa.
1. Kejadian ketiga dalam 5 bulan terakhir
Ambruknya atap SMAN 2 Gunung Putri menambah daftar panjang rapor merah infrastruktur pendidikan di Kabupaten Bogor. Tercatat, ini adalah SMA Negeri ketiga yang mengalami kerusakan struktur dalam kurun waktu lima bulan terakhir.
Sebelumnya, pada September 2025, plafon SMKN 1 Cileungsi ambruk saat kegiatan belajar mengajar berlangsung meski cuaca tidak sedang hujan. Disusul kemudian pada November 2025, insiden serupa menimpa SMKN 1 Gunung Putri. Tren ini memicu kekhawatiran besar mengenai kualitas material bangunan sekolah di wilayah tersebut.
2. Bupati Bogor soroti kemiripan desain bangunan yang rusak
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyoroti pola kerusakan yang terjadi. Menurutnya, beberapa sekolah yang mengalami insiden serupa memiliki kemiripan dalam hal material dan desain struktur atap, terutama penggunaan baja ringan.
Meskipun status SMA saat ini berada di bawah wewenang provinsi, Rudy menegaskan, sejarah pembangunan awal sekolah-sekolah tersebut masih berkaitan dengan Pemkab Bogor sehingga audit tetap perlu dilakukan.
"Struktur pada bagian atap bangunan sekolah yang ambruk di beberapa lokasi memiliki kemiripan material dan desain. Kita harus akui itu, maka kami minta dilakukan audit secara menyeluruh," tegas Rudy.
3. Langkah antisipasi: Audit menyeluruh untuk cegah korban
Pemkab Bogor tidak ingin menunggu jatuh korban jiwa untuk bertindak. Audit ini bertujuan untuk mendeteksi dini potensi kerusakan pada bangunan sekolah lain di seluruh wilayah Kabupaten Bogor sebelum jatuh korban dari pihak siswa maupun pengajar.
Rudy menekankan bahwa rangkaian kejadian ini adalah peringatan keras untuk melakukan perbaikan dan pengawasan konstruksi yang lebih ketat.
"Tuhan masih baik dengan kita, robohnya subuh, tidak ada jam pendidikan. Tetapi kita diberikan kesempatan melakukan perbaikan dan antisipasi," pungkas Rudy.
Saat ini, pihak sekolah telah melaporkan kejadian ini ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan (KCD) Wilayah I Kabupaten Bogor untuk tindak lanjut perbaikan, agar kegiatan belajar mengajar tetap bisa berjalan kondusif.