Jakarta, IDN Times – Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti menanggapi soal dinamika Indonesia melalui cermin revolusi dunia, mulai dari Arab Spring hingga revolusi-revolusi besar di Eropa. Ia menilai, sejarah tidak pernah memberi jawaban instan, tetapi selalu menyuguhkan pola.
Menurut Azis, kegagalan banyak negara Arab pasca-Arab Spring bukan semata karena gejolak politik, melainkan karena negara gagal menata ulang kelembagaan dan orientasi ekonominya. Pergantian rezim tidak diikuti perubahan cara kerja negara dalam menjawab kebutuhan dasar warga, seperti pekerjaan, harga kebutuhan pokok, dan keadilan birokrasi.
“Negara berubah wajah, tetapi cara kerjanya nyaris sama. Akibatnya, revolusi hanya menjadi siklus tanpa ujung,” kata Azis dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan revolusi di Inggris dan Prancis yang tidak berhenti pada penggantian penguasa. Revolusi di Eropa justru mengunci perubahan politik dengan reformasi kelembagaan jangka panjang yang menopang kepastian hukum, agenda ekonomi, dan kesejahteraan warga.
