Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Beredar Hoaks Percakapan Kapolda dengan Intel, Polisi Buru Pelaku
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mohammad Fadil Imran (ANTARA Jatim/Willy Irawan)

Jakarta, IDN Times - Polda Metro Jaya memburu penyebar berita bohong yang menyebutkan seolah-olah ada percakapan melalui aplikasi WhatsApp antara Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Irman dengan anggota intel penembak enam orang anggota laskar FPI.

Penyebar berita bohong tersebut membuat seolah-olah percakapan antara Kapolda dengan Intel telah dimuat oleh situs berita detiknews.com

"Nanti akan kami dalami, kami akan lakukan pendalaman, ini semuanya untuk mencari siapa pelakunya. Karena ini sudah beredar luas di media sosial tentang adanya percakapan Kapolda Metro Jaya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, Rabu (9/12/2020).

1. Media tersebut sudah mengonfirmasi ke polisi

ilustrasi hoax (IDN Times/Sukma Shakti)

Yusri mengatakan bahwa percakapan WhatsApp yang seolah-olah dipublikasikan oleh detikdotcom itu hoaks. Pihak media yang bersangkutan juga telah menyatakan tak pernah menulis berita tersebut.

"Saya sudah konfirmasi ke media detikdotcom. Dari media pun menyatakan tidak pernah memberitakan seperti ini dan ini editan, ini di-edit karena media tersebut tidak pernah mengeluarkan berita ini," kata Yusri.

2. Sudah memberikan stempel berita bohong

Berita percakapan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran degan Intel soal penembakan 6 laskar FPI (Dok. Humas Polda Metro Jaya).

Yusri mengatakan saat ini polisi sudah memberikan stempel hoaks pada berita bohong tersebut. Sementara pelaku penyebar berita bohong ini masih terus diburu.

"Kami sudah stempel dan jelaskan ke masyarakat bahwa berita ini tidak benar, pihak media pun sudah sampaikan ke kami bahwa tidak pernah mengeluarkan berita ini," kata Yusri.

3. Upaya memprovokasi masyarakat

Ilustrasi (IDN Times/Helmi Shemi)

Yusri mengatakan berita bohong yang beredar ini ditujukan untuk memprovokasi masyarakat.

"Ini upaya orang yang mau provokasi menyebarkan berita tidak benar dengan menumpangi media yang ada," katanya.

Editorial Team