Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pendistribusian bantuan logistik kepada warga terdampak banjir di beberapa titik lokasi wilayah Kota Bekasi
Pendistribusian bantuan logistik kepada warga terdampak banjir di beberapa titik lokasi wilayah Kota Bekasi, Senin (19/1). (Dok. BPBD Kota Bekasi)

Intinya sih...

  • Banjir di Karawang dipicu hujan intensitas tinggi, meluapnya Sungai Citarum dan Sungai Cibeet

  • 2.413 jiwa mengungsi di wilayah Karawang, 13.841 jiwa terdampak banjir

  • Hujan deras dan angin kencang di Kota Bekasi menyebabkan satu orang meninggal terseret banjir

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia hingga 20 Januari 2026. Data tersebut berdasarkan hasil pemantauan Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB pada periode 19 Januari 2026 hingga 20 Januari 2026 pukul 07.00 WIB. Salah satu kejadian utama dilaporkan terjadi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

"Kejadian bencana yang tercatat masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan angin kencang," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1/2026).

Abdul menjelaskan, banjir dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan meluapnya Sungai Citarum dan Sungai Cibeet. Banjir tersebut berdampak pada 27 desa di 12 kecamatan dan satu kelurahan.

“Peristiwa bermula saat hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan meluapnya Sungai Citarum dan Sungai Cibeet, sehingga air masuk ke permukiman warga pada Minggu (18/1) pukul 09.00 WIB,” kata Abdul.

1. Banjir dipicu hujan dengan intensitas tinggi sehingga Sungai Citarum dan Sungai Cibeet meluap

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau langsung lokasi terdampak banjir di Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat, Senin (19/1/2026) (dok. Setwapres)

Adapun kecamatan terdampak meliputi Karawang Timur, Telukjambe Timur, Pangkalan, Telukjambe Barat, Karawang Barat, Jayakerta, Cilebar, Rawamerta, Rengasdengklok, Lemahabang, Cilamaya Wetan, dan Klari.

Dari sisi dampak penduduk, Abdul menyebut, ribuan warga terdampak. Kelompok rentan juga terdampak, terdiri atas 374 balita, 86 bayi, dan 77 lansia.

“Petugas mencatat sebanyak 4.304 Kepala Keluarga (KK) atau 13.841 jiwa terdampak,” ujarnya.

2. Ada 2.413 jiwa mengungsi di beberapa lokasi pengungsian di wilayah Karawang

Pendistribusian bantuan logistik kepada warga terdampak banjir di beberapa titik lokasi wilayah Kota Bekasi, Senin (19/1). (Dok. BPBD Kota Bekasi)

BNPB juga mencatat, langkah penanganan telah dilakukan di lapangan saat banjir dengan melakukan asesmen, evakuasi warga yang terjebak banjir, serta pendistribusian logistik. Tercatat, sebanyak 2.413 jiwa mengungsi di beberapa lokasi pengungsian di wilayah Karawang. Hingga Senin (19/1/2026), kondisi banjir belum sepenuhnya surut.

“Banjir masih merendam wilayah terdampak dengan Tinggi Muka Air (TMA) bervariasi antara 10 hingga 200 sentimeter,” ujarnya.

3. Hujan deras disertai angin kencang di Kota Bekasi, satu orang meninggal terseret banjir

Proses evakuasi warga terdampak banjir di wilayah Kabupaten Karawang, Senin (19/1). (Dok. BPBD Kota Bekasi)

Selain Karawang, banjir juga terjadi di Kota Bekasi, Jawa Barat. Abdul menyebut, hujan deras disertai angin kencang memicu banjir dan pohon tumbang.

“Satu orang warga dilaporkan meninggal dunia akibat terseret banjir, sementara 197 warga lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman,” kata dia.

Menurut Abdul, petugas telah melakukan evakuasi warga, penanganan pohon tumbang, distribusi logistik, serta air bersih.

“Saat ini, kondisi banjir telah surut dan seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.”

Editorial Team