Bogor, IDN Times - Kota Bogor menyambut program ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, ribuan orang berkumpul di Lapangan Botani Square untuk melakukan aksi nyata pembersihan kota.
Tak tanggung-tanggung, Menteri Lingkungan Hidup (LH) turun langsung memantau progresnya.
Aksi bersih-bersih atau yang akrab disebut Korpe (Kerja Bakti) kali ini benar-benar masif. Titik kumpul yang dipusatkan di Lapangan Botani Square dipadati lebih dari 1.030 peserta.
Uniknya, aksi ini tidak hanya melibatkan personel TNI, Polri, dan ASN, tapi juga mengajak rekan media untuk ikut terjun langsung. Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menegaskan semangat ini harus sampai ke tingkat wilayah terkecil.
"Lurah itu adalah 'Wali Kota kecil'. Silakan turunkan apa yang menjadi kebijakan dari pusat ke daerah hingga ke wilayah terkecil. Camat-camat tentu akan membantu sebagai koordinator di lapangan," tegas Dedie, Senin (16/2/2026).
Bogor Pionir Program ASRI Presiden, 1.030 Peserta Turun ke Jalan

Intinya sih...
Kota Bogor siap bangun infrastruktur Waste to Energy (PSEL) di Galuga
Program ASRI sebagai respons cepat terhadap kampanye kebersihan nasional yang digagas Presiden
Kerja bakti akan dilakukan dua kali seminggu, dan model kolaborasi di Bogor diharapkan menular ke daerah lain
1. Bakal punya teknologi Waste to Energy pertama
Bukan sekadar sapu-sapu jalanan, kata Dedie, Kota Bogor tengah bersiap melakukan lompatan besar dengan membangun infrastruktur Waste to Energy atau sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Galuga. Saat ini, prosesnya sedang dalam tahap tender Danantara bersama kementerian terkait.
"Insyaallah tahun ini kita akan mendapatkan program dari pemerintah pusat, yaitu Waste to Energy. Kota Bogor tidak boleh lengah dan harus terus berkomitmen," ujar Dedie, optimis.
2. Implementasi program ASRI instruksi Presiden
Gerakan ini merupakan respons cepat terhadap kampanye kebersihan nasional. Menteri Lingkungan Hidup menyebutkan gerakan ini adalah arahan langsung dari Presiden Prabowo agar daerah mulai lebih bijak mengelola sampah.
Bogor dipilih karena dinilai memiliki pondasi tata kelola sampah yang paling baik dibanding daerah lain. Hal ini diperkuat dengan keberadaan 170 bank sampah dan 30 TPS 3R yang mampu mengolah 20-35 persen timbulan sampah dari hulu.
3. Kerja bakti dua kali seminggu
Ke depan, Hanif mengatakan, pemandangan warga yang kerja bakti tidak akan hanya muncul di momen tertentu saja. Berdasarkan koordinasi dengan Mendagri, akan ada instruksi bagi daerah untuk melaksanakan kerja bakti rutin: dua kali dalam seminggu.
Hanif berharap model kolaborasi di Bogor ini bisa menular ke kota-kota lain di Indonesia. "Model seperti ini yang melibatkan seluruh komponen masyarakat akan menjadi gerakan besar di semua daerah, mengikuti contoh dari Bogor," kata dia.