Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menteri Wihaji
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji saat diwawancarai di lokasi DASHAT Kota Bogor, Rabu (28/1/2026). IDN Times/Linna Susanti.

Intinya sih...

  • Melibatkan ibu-ibu setempat dan ahli gizi

    • DASHAT melibatkan ibu-ibu di lingkungan RW untuk memasak makanan sehat dengan bimbingan ahli gizi Puskesmas.

  • Memastikan makanan tidak "nyasar" ke suami

    • BKKBN melakukan pengawasan ketat agar makanan tambahan yang dikirim benar-benar dikonsumsi oleh target sasaran.

  • Dipersiapkan untuk wilayah terpencil (3T)

    • Program ini akan diperluas ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bogor, IDN Times - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden mulai memasuki babak baru.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan uji coba melalui program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) di Kota Bogor.

Tak hanya menyasar anak sekolah, program ini punya misi khusus untuk menjaga gizi kelompok rentan lainnya.

Selama ini publik lebih mengenal MBG untuk anak sekolah. Namun, BKKBN melalui program DASHAT ingin memastikan kelompok yang lebih krusial, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di bawah dua tahun (Baduta), tetap mendapatkan asupan gizi yang tepat.

Menteri Wihaji menekankan bahwa menu yang diberikan tidak bisa disamakan dengan menu anak sekolah karena kebutuhan nutrisinya berbeda.

"Supaya membedakan, karena asupan gizi yang dibutuhkan juga berbeda. Kita uji coba membuat DASHAT untuk memastikan menu bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD tersedia," ujar Menteri Wihaji, Rabu (28/1/2026).

1. Melibatkan ibu-ibu setempat dan ahli gizi

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji saat diwawancarai di lokasi DASHAT Kota Bogor, Rabu (28/1/2026). IDN Times/Linna Susanti.

Keunikan dari DASHAT adalah pemberdayaan masyarakat lokal. Dapur ini tidak dikelola oleh katering besar, melainkan oleh ibu-ibu di lingkungan RW setempat. Hal ini bertujuan agar masakan terasa lebih personal namun tetap sehat karena didampingi oleh tenaga profesional.

"Kita libatkan masyarakat desa setempat, termasuk di wilayah sini. Dimasak oleh ibu-ibu, yang didampingi oleh ahli gizi Puskesmas untuk memastikan nanti asupan gizinya sesuai kebutuhan," tambahnya.

2. Memastikan makanan tidak "nyasar" ke suami

Ilustrasi sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (ANTARA FOTO/Muhammad Mada)

Salah satu tantangan dalam program pemberian makanan tambahan adalah memastikan target sasaran benar-benar mengonsumsinya. BKKBN melakukan pengawasan ketat agar makanan yang dikirim ke rumah tidak justru dimakan oleh anggota keluarga lain yang tidak termasuk kategori penerima manfaat.

"Jangan sampai setelah di-drop lalu ditinggal, yang makan malah suaminya, yang makan orang lain. Inilah yang mau kita pastikan," tegas Wihaji.

3. Dipersiapkan untuk wilayah terpencil (3T)

Ilustrasi menu MBG siswa SD di Kecamatan Sukawati, Gianyar. (IDN Times/Yuko Utami)

Uji coba di Kota Bogor ini merupakan langkah awal sebelum program ini dibawa ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). BKKBN berencana bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjangkau daerah yang sulit diakses oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Nanti setelah ini kita pengen jangkau pulau yang terluar. Misalnya di Kabupaten Natuna, di situ ada desa yang memang sedikit penduduknya, tapi kan mereka juga warga negara Indonesia, berhak mendapatkan MBG," tutupnya.






Editorial Team