Pemantauan hilal awal Ramadan 1447 Hijriah di Observatorium Unismuh Makassar, Selasa (17/2/2026). (IDN Times/Asrhawi Muin)
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi'i mengatakan, seluruh ormas Islam di Indonesia sebenarnya memiliki kesamaan pandangan mengenai kewajiban berpuasa (Qad'i). Namun, perbedaan sering muncul dalam metode penentuan waktu pelaksanaannya (Ijtihadi).
"Begini, sebenarnya kan dalam sidang isbat ini kita inginkan ada kesamaan bagi seluruh umat Islam di Indonesia dalam penetapan awal Ramadan. Tetapi kita kan sama tahu, lebih 90 ormas Islam di Indonesia ini punya kesamaan dalam ibadah yang Qad'i, tapi memang masih ada perbedaan dalam ibadah yang sifatnya Ijtihadi. Dalam berpuasa ini kan yang Qad'i itu adalah puasanya, gak boleh gak puasa," ujar Romo di Jakarta, Rabu (18/3/2026).
"Tapi kapan itu dimulai? Itu ada Ijtihad yang mungkin antara ormas yang satu dengan yang lain, ada perbedaan-perbedaan. Sebenarnya sidang isbat ini kan dimaksudkan untuk mengeliminasi perbedaan-perbedaan itu. Kalau kita lihat, ini kan sidang isbat tiap tahun," sambungnya.
Menurut Romo Syafi'i, sidang isbat bukan sekadar ritual penetapan tanggal Hijriah, melainkan momen penting untuk mempertemukan berbagai pandangan ilmiah dari para pakar dan tokoh agama. Pemerintah bertindak sebagai fasilitator yang memegang mandat penetapan waktu ibadah.
Sederhana aja kok, memutuskan kapan awal Ramadan, nanti kapan awal Syawal. Tapi ada substansi orang tidak lihat. Saya melihat dalam sidang isbat ini ada silaturahmi yang digelorakan, karena diundang semua tokoh Islam, ormas Islam, para pakar," ucap dia.
Pada tahun ini, awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah berbeda. Muhammadiyah melaksanakan ibadah puasa sehari lebih dulu dibanding pemerintah.
Untuk 1 Syawal 1447 H, diprediksi akan terjadi perbedaan. Meski demikian, baik dari pemerintah maupun Muhammadiyah, sama-sama mengimbau untuk saling menghormati perbedaan dalam menyikapi perbedaan awal bulan Hijriah.