Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pedagang beras di Pasar Legi Solo.
Pedagang beras di Pasar Legi Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Intinya sih...

  • Pemerintah Orde Baru fokus di bidang pertanian meningkatkan produksi beras

  • Indonesia swasembada pangan pada 1984

  • Stok beras nasional tahun 1984 capai 3 juta ton

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden RI Prabowo Subianto menyebut, cadangan beras Indonesia saat ini melampaui rekor yang pernah dicapai pada masa Orde Baru (Orba) di pemerintahan Presiden Soeharto.

Pada era Orde Baru, stok beras pemerintah disebut sempat mencapai hingga 2 juta ton.

Presiden Prabowo menyatakan, cadangan beras yang tersimpan di gudang-gudang pemerintah saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan taklimat kepada jajaran Kabinet Merah Putih dalam agenda retreat pemerintahan di Hambalang, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).

"Saya juga cukup merasa besar hati, bangga, bahwa hari ini cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Republik Indonesia," katanya.

Menurut Prabowo, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto stok beras sempat berada di kisaran 2 juta ton. Sementara saat ini, cadangan beras yang dikuasai pemerintah melampaui angka 3 juta ton. Dia menyebut, jumlah itu menjadi yang terbesar yang pernah dicapai.

"Di pemerintahan Presiden Soeharto, kita di puncaknya pernah punya cadangan beras di gudang pemerintah 2 juta ton. Hari ini, cadangan beras kita di gudang pemerintah lebih dari 3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia," ujar Prabowo.

Lantas benarkah catatan tersebut?

1. Pemerintah Orde Baru fokus di bidang pertanian meningkatkan produksi beras

Satgas Pangan Polres PPU saat melakukan pengecekan beras di gudang distributor (IDN Times/Ervan)

Berdasarkan data dari situs milik Museum Kepresidenan, salah satu fokus perhatian pemerintah Orde Baru adalah di bidang pertanian, yakni meningkatkan hasil produksi beras.

Pada masa awal pemerintahan Orde Baru, Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia. Upaya peningkatan hasil produksi beras selanjutnya ditempuh melalui intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Selanjutnya pemerintah melalui program Bimbingan Massal (BIMAS) berupaya mendorong peningkatan hasil produksi beras.

Program BIMAS kemudian dikembangkan menjadi BIMAS Gotong Royong yang melibatkan peran swasta nasional serta swasta asing. Tujuan dari Bimbingan Massal Gotong Royong yakni untuk meningkatkan produksi beras nasional dengan memberi bantuan pupuk serta pestisida pada petani.

Program BIMAS Gotong Royong kemudian disempurnakan menjadi Bimas Nasional melalui Keputusan Presiden No 95 Tahun 1969. Melalul Bimas Nasional, petani memperoleh Intensifikasi Masal (INMAS) serta Intensifikasi Khusus (INSUS). Selain menggerakkan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, pemerintah juga menerapakan diversifikasi pertanian dengan menggabungkan teknologi dan pertanian.

2. Indonesia swasembada pangan pada 1984

Penerima Bansos saat mengambil bantuan pangan beras. IDN Times/Riyanto.

Program serta kebijakan yang diberlakukan pada masa pemerintahan Soeharto tersebut berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada pangan pada 1984. Indonesia selanjutnya mampu menjadi negara pengekspor pangan setelah sebelumnya hanya mengandalkan impor.

Atas keberhasilan Indonesia menjadi negara swasembada pangan, pada 1985 Soeharto diundang oleh Direktur Jenderal Food an Agriculture Organization (FAO), Edward Saouma, untuk hadir dalam Forum Dunia pada tanggal 14 November 1985 di Roma, Italia untuk memaparkan keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada pangan.

Dalam kesempatan tersebut, Soeharto menyampaikan, keberhasilan pembangunan pangan merupakan hasil dari kerja raksasa suatu bangsa.

Pada agenda yang sama di Roma, Italia, Soeharto atas nama rakyat Indonesia menyerahkan bantuan berupa 100.000 ton padi kepada korban kelaparan di sejumlah negara Afrika. Bantuan tersebut merupakan sumbangan dari kaum petani Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa negara-negara yang sedang membangun dapat meningkatkan kemampuannya sendiri.

3. Stok beras nasional tahun 1984 capai 3 juta ton

Pengecekan beras oleh Satgas Pangan Jawa Barat. IDN Times/Debbie Sutrisno

Adapun, data dari situs resmi milik Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian mencatat, berdasarkan data historis, stok beras nasional pada periode Januari sampai Mei 1984 tercatat sebesar 3.029.049 ton, dengan jumlah penduduk Indonesia saat itu diperkirakan 160 juta jiwa.

Dengan demikian, pernyataan Prabowo soal stok beras pemerintah saat Orba sempat berada di angka 2 juta ton adalah keliru.

Editorial Team