Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
142A0400.jpg
Sesi “Pengelolaan Sampah Jadi Energi untuk Pertumbuhan Berkualitas” di rangkaian acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang dipersembahkan IDN Times, Kamis (15/01/2026). (Dok. Herka Yanis)

Intinya sih...

  • Proyek WTE sejak awal dirancang Danantara sebagai kerja gotong royong lintas lembaga.

  • Danantara dan para mitra memilih teknologi insinerasi bersih (clean incineration) yang sudah lazim dipakai di berbagai negara.

  • Di tengah tuntutan investasi berprinsip environmental, social, and governance (ESG), WTE menjadi salah satu skema yang dinilai menjawab kebutuhan tersebut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Krisis sampah di Indonesia makin terasa. Hal ini tampak dari TPA yang kian penuh, masalah bau menyengat, hingga banjir yang tersumbat sampah. Di tengah tekanan itu, pengelolaan sampah jadi energi (waste to energy/WTE) mulai diposisikan sebagai solusi yang menghubungkan isu lingkungan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi yang lebih berkualitas, termasuk untuk kebutuhan listrik yang terus naik.

Direktur Investasi Danantara Investment Management, Fadli Rahman mengatakan bahwa proyek WTE sejak awal dirancang Danantara sebagai kerja gotong royong lintas lembaga. “Yang jelas yang pertama, ini bukan hanya Danantara yang mengerjakan. Bahwa kalau kita lihat dari peraturan Presiden ini adalah kolaborasi dari seluruh pihak. Baik itu Kemenko Pangan, Kementerian LH, Kemendagri, dan juga pemda-pemda terkait, termasuk PLN pastinya,” ujarnya.

Hal ini dipaparkan dalam sesi “Pengelolaan Sampah Jadi Energi untuk Pertumbuhan Berkualitas” di rangkaian acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang dipersembahkan IDN Times, Kamis (15/01/2026). 

Di hadapan mayoritas audiens Gen Z dan milenial, Danantara sendiri menjelaskan peran mereka dalam mengawal investasi proyek pembangkit listrik tenaga sampah di berbagai daerah. Selain dalam topik ini, beberapa pembicara ambil bagian di sesi lain SAT, seperti Rosan Perkasa Roeslani Menteri Investasi/CEO Danantara dan Febriany Eddy Managing Director Business 3 Danantara Indonesia.

1. 4 kota siap bangun pembangkit listrik tenaga sampah

Fadli Rahman, Director Investments Danantara Investment Management dalam sesi “Pengelolaan Sampah Jadi Energi untuk Pertumbuhan Berkualitas” di rangkaian acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang dipersembahkan IDN Times, Kamis (15/01/2026). (Dok. Herka Yanis)

Peran Danantara dalam proyek ini dimulai ketika sebuah kota secara resmi menyatakan siap membangun pembangkit listrik tenaga sampah. Kemudian Danantara mengawal proses pemilihan investor yang akan menanam modal jangka panjang. 

Hingga akhir 2025, sudah ada empat kota yang menyatakan siap menjadi lokasi awal proyek WTE. “Dan di bulan Oktober-November kemarin, yang menyatakan sudah saya siap untuk dibangun ada empat kota. Kota yang pertama adalah Bogor, kemudian ada Denpasar, Jogja, dan juga ada Bekasi,” papar Fadli.

Tahap berikutnya adalah mengawal pelaksanaan agar segera masuk fase berikutnya. “Dan tentunya, kalau kita lihat balik lagi, yang di beberapa kota ini, itu target kita pastikan ada di bulan Maret, dan bertahap April dan lain sebagainya,” ujarnya. Proyek ini sejalan dengan rencana pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga sampah di berbagai kota.

Bagi investor, proyek pengelolaan sampah jadi energi menawarkan kombinasi kelayakan finansial dan dampak keberlanjutan. “Selain aspek ini tentunya harus bisa dibiayai, kalau dibiayai harus ada sedikit komersial aspeknya. Tapi kenapa ini menarik? Karena selain ada aspek komersialitasnya, ada juga aspek ESG, environment dan sosialnya,” kata Fadli. 

Di tengah tuntutan investasi berprinsip environmental, social, and governance (ESG), WTE menjadi salah satu skema yang dinilai menjawab kebutuhan tersebut.

2. Bukan semata profit, tapi kemanusiaan

Fadli Rahman, Director Investments Danantara Investment Management dalam sesi “Pengelolaan Sampah Jadi Energi untuk Pertumbuhan Berkualitas” di rangkaian acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang dipersembahkan IDN Times, Kamis (15/01/2026). (Dok. Herka Yanis)

Di sisi lain, kenyataan di lapangan menunjukkan hal memprihatinkan. Di banyak TPA, sampah rumah tangga dan kota dikumpulkan, dipadatkan, lalu ditimbun tanah berulang kali selama bertahun-tahun. Dari jauh, bukit sampah yang tertutup rumput mungkin tampak seperti bukit hijau biasa. Padahal, ancaman kesehatan jangka panjang justru bersembunyi di balik permukaan.

“Jadi bukit itu isinya bukan batu, tapi sampah dan hijau, karena rumputnya menjalar Tapi teman-teman semua, di balik rumput yang hijau itu masih menghasilkan air lindi, namanya air sampah yang hitam, selama 20 tahun,” jelasnya.

Air lindi beracun dan gas metana dari TPA meningkatkan risiko kanker, asma, hingga gangguan pernapasan bagi warga sekitar. Karena itu, bagi Fadli, nilai utama proyek ini bukan semata megawatt listrik yang dihasilkan, melainkan nyawa yang diselamatkan. “Jadi ini yang kita selamatkan. Ini adalah masalah kemanusiaan. Ini bukan lagi masalah profit, ini adalah masalah kemanusiaan,” tuturnya.

3. Memperhatikan dampak sosial

Sesi “Pengelolaan Sampah Jadi Energi untuk Pertumbuhan Berkualitas” di rangkaian acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang dipersembahkan IDN Times, Kamis (15/01/2026). (Dok. Herka Yanis)

Untuk menjawab tantangan tersebut, Danantara dan para mitra memilih teknologi insinerasi bersih (clean incineration) yang sudah lazim dipakai di berbagai negara. Teknologi yang akan dipakai adalah insinerasi bersih (clean incineration) yang telah digunakan 80 persen negara di dunia. 

“Insinerasi di Cina sudah dibangun lebih dari seribu plants. Di Jepang juga sudah dibangun ratusan plants, hampir sampai seribu. Consistently di setiap negara, 80-90 persen adalah insinerasi,” jelasnya. 

Dengan teknologi ini, sampah diolah di suhu sangat tinggi dengan sistem filtrasi berlapis, sehingga emisi yang keluar harus memenuhi standar lingkungan yang ketat.

Dampak sosial di sekitar TPA juga menjadi perhatian Danantara. Ratusan pemulung selama ini menggantungkan hidup di tengah paparan gas metana, risiko longsor, dan kebakaran. Transformasi TPA menjadi pembangkit listrik tenaga sampah, menurut Fadli, harus memperhatikan mereka. 

“Ada di beberapa lokasi tuh ada 600-700 pemulung yang hidup di sana. Setiap hari ke depannya, kita akan lebih selektif melihat, oh bisa gak nih menjadi tenaga kerja kita? Itu satu. Jadi ini ada juga aspek penciptaan lapangan kerja. Selain investasi, selain membersihkan lingkungan, dan mengembangkan ekonomi juga, lokal ekonomi, juga tadi ada aspek sosialnya dan penciptaan lapangan kerja,” kata Fadli.

Selain itu, baginya, perlu adanya pada kolaborasi dan kesediaan semua pihak mengambil peran, dari pemerintah, investor, NGO, sampai warga biasa. “Ibarat itu semua tangan harus sama-sama menyelesaikan ini. Mau itu recycling, reducing, reusing, insinerasi, gasifikasi, RDF, semuanya. Karena ini adalah masalah manusia,” tutup Fadli.

Lewat proyek pengelolaan sampah menjadi energi yang digerakkan Danantara bersama para pemangku kepentingan, pengurangan sampah bukan lagi sekadar wacana. Pengelolaan sampah yang lebih modern diharapkan melahirkan lingkungan yang lebih sehat dan masa depan yang lebih layak bagi generasi muda Indonesia. (WEB)

Editorial Team