Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Di Ambang Selat Hormuz, DPR Ingatkan Dampak Global Energi
Anggota Komisi II DPR Fraksi Gerindra sekaligus Anggota Pansus Penyelesaian Konflik Agraria DPR, Azis Subekti (dok. Istimewa)
  • Azis Subekti menyoroti meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan minyak dunia dan berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global jika terganggu.
  • Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, dan Arab Saudi memiliki kepentingan berbeda dalam menjaga atau memanfaatkan situasi geopolitik di kawasan Teluk Persia.
  • DPR mengingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi, inflasi global, serta tekanan sosial dan politik di berbagai negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Anggota Komisi II DPR, Azis Subekti, menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia, khususnya di Selat Hormuz. Ia mengingatkan, kawasan ini bukan sekadar titik konflik regional, melainkan urat nadi energi global yang menentukan stabilitas dunia.

Menurutnya, sejarah telah berulang kali menunjukkan wilayah jalur energi hampir tak pernah benar-benar tenang. Dari Terusan Suez hingga Selat Malaka, kawasan-kawasan ini selalu menjadi pusat tarik-menarik kepentingan global.

1. Selat Hormuz jadi titik rawan dunia

Tampilan satelit Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/Envisat satellite/ESA)

Azis menjelaskan, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga menjalar ke ekonomi global.

“Jika ia tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan demamnya,” ujarnya

Ia menambahkan, lonjakan harga energi bisa memicu inflasi yang berdampak langsung pada masyarakat luas. Bahkan, dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengguncang stabilitas politik di berbagai negara.

Dalam konteks konflik yang melibatkan Iran, Israel, hingga bayang-bayang keterlibatan Amerika Serikat, Azis menilai para pemimpin dunia kini berada dalam posisi yang sama: mengamati satu peta konflik dengan kepentingan berbeda.

2. Kepentingan global bertabrakan di Teluk

ilustrasi perang (IDN Times/Aditya Pratama)

Azis memaparkan bagaimana negara-negara besar membaca situasi ini dari sudut pandang masing-masing. Di Washington, Donald Trump melihat stabilitas Hormuz sebagai bagian dari arsitektur global yang harus dijaga sejak pasca-Perang Dunia II.

Sementara itu, di Beijing, Xi Jinping lebih menekankan pentingnya stabilitas energi. Sebagai importir minyak terbesar, China berkepentingan menjaga jalur pasokan tetap aman tanpa harus terlibat konflik militer.

Di sisi lain, Vladimir Putin melihat krisis ini sebagai ruang manuver geopolitik. Keterlibatan Amerika di Timur Tengah dinilai dapat mengalihkan fokus dari kawasan lain sekaligus mendorong kenaikan harga energi global.

Adapun di kawasan Teluk, Salman bin Abdulaziz Al Saud menghadapi dilema antara menahan pengaruh Iran dan menjaga stabilitas regional. Sementara Masoud Pezeshkian dan Benjamin Netanyahu sama-sama memainkan strategi masing-masing dalam konflik yang terus memanas.

3. Dunia diminta waspada dampak ekonomi

Ilustrasi ekonomi terguncang (IDN Times/Arief Rahmat)

Azis menilai, jika merujuk pada pola konflik Timur Tengah, perang besar kemungkinan tidak akan langsung terjadi dalam bentuk invasi darat. Namun, eskalasi konflik berpotensi meluas ke berbagai kawasan seperti Lebanon, Suriah, hingga Laut Merah.

Yang perlu diwaspadai, kata dia, justru dampak ekonominya.

“Kejutan terbesar justru bisa datang dari ekonomi,” katanya.

Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, harga energi global bisa melonjak tajam dan memicu tekanan sosial di banyak negara. Sejarah, lanjut Azis, menunjukkan bahwa krisis energi kerap menjadi pemicu perubahan politik domestik yang tak terduga.

Ia pun menegaskan, dunia saat ini berada di titik krusial. Banyak negara memantau situasi yang sama, namun dengan kepentingan berbeda-beda.

“Siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang memegang denyut dunia,” ujarnya.

Editorial Team