Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dokter Anak Soroti Orang Tua Mudah Panik karena Internet
Dokter spesialis anak dr. Yesi Oktavia Dewi (Dok/Istimewa)

  • Arus informasi kesehatan anak di internet membuat banyak orang tua lebih tahu, tapi juga lebih mudah panik karena sulit membedakan informasi valid dan menyesatkan.
  • Penggunaan gadget berlebihan pada anak mulai berdampak pada pola tidur, fokus, emosi, hingga interaksi sosial, menjadi perhatian serius bagi dokter dan keluarga.
  • Pendekatan emosional dinilai penting dalam penanganan pasien anak agar mereka merasa aman, nyaman, dan memiliki pengalaman positif saat berobat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Derasnya arus informasi kesehatan anak di media sosial dan internet memicu fenomena baru di ruang praktik dokter. Banyak orang tua datang dengan pengetahuan lebih luas, tetapi di saat yang sama lebih mudah panik sebelum anak diperiksa secara medis.

Dokter spesialis anak, Yesi Oktavia Dewi, mengatakan kondisi tersebut kini semakin sering ditemui dalam praktik sehari-hari. Menurutnya, kemudahan akses informasi membuat orang tua lebih aktif mencari referensi kesehatan. Namun, tidak semua informasi sesuai dengan kondisi anak.

“Sekarang orang tua datang dengan informasi yang jauh lebih banyak dibanding beberapa tahun lalu. Tapi kadang karena terlalu banyak membaca, mereka justru jadi lebih cemas,” ujar dr. Yesi, dikutip Senin (18/5/2026).

Fenomena ini menjadi tantangan baru di dunia kesehatan anak. Dokter tidak lagi hanya berperan memberikan diagnosis dan pengobatan, tetapi juga membantu meredakan kecemasan keluarga pasien.

“Kadang yang dibutuhkan orang tua bukan cuma jawaban medis, tapi juga rasa tenang karena merasa didengarkan,” katanya.

1. Orang tua sulit menyaring informasi kesehatan anak

ilustrasi IGD Rumah Sakit (pexels.com/Pixabay)

Menurut dr. Yesi, banjir informasi kesehatan di era digital membuat banyak keluarga kesulitan memilah mana informasi yang valid dan mana yang menyesatkan.

Tidak sedikit orang tua yang datang ke dokter dalam kondisi sudah terlalu khawatir setelah membaca berbagai artikel, unggahan media sosial, hingga pengalaman pengguna lain di internet.

Kondisi ini menunjukkan literasi digital kesehatan masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Informasi yang tidak terverifikasi berpotensi memperburuk kecemasan orang tua dan memengaruhi keputusan penanganan anak.

Di sisi lain, dokter dituntut lebih komunikatif agar keluarga pasien merasa aman dan memperoleh penjelasan yang utuh.

2. Penggunaan gadget pada anak kian sulit dikendalikan

Dokter spesialis anak dr. Yesi Oktavia Dewi (Dok/Istimewa)

Selain persoalan informasi digital, dr. Yesi juga menyoroti penggunaan gadget pada anak yang semakin sulit dibatasi.

Menurutnya, screen time berlebih mulai berdampak pada berbagai aspek tumbuh kembang anak, mulai dari pola tidur, kemampuan fokus, hingga kestabilan emosi.

Ia mengungkapkan, semakin banyak anak yang mengalami ketergantungan pada gadget. Dampaknya terlihat dari meningkatnya tantrum, gangguan waktu istirahat, hingga kesulitan berinteraksi tanpa layar digital.

Fenomena ini menjadi alarm bagi keluarga di tengah masifnya penggunaan perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pendekatan emosional jadi kunci penanganan anak

Ilustrasi IGD. (IDN Times/Besse Fadhilah)

Di tengah perkembangan teknologi kesehatan yang semakin modern, dr. Yesi menegaskan pendekatan emosional tetap menjadi faktor penting dalam penanganan pasien anak.

Menurutnya, pengalaman anak saat bertemu dokter dapat membentuk pandangan mereka terhadap dunia kesehatan hingga dewasa.

“Anak biasanya lebih mengingat bagaimana mereka diperlakukan dibanding penjelasan medis yang diberikan. Pengalaman mereka saat bertemu dokter itu penting,” ujarnya.

Karena itu, suasana pemeriksaan yang nyaman dinilai penting agar anak tidak merasa takut ketika datang ke rumah sakit atau klinik.

“Sebab pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan obat untuk sembuh, tetapi juga rasa nyaman agar mereka merasa aman dan dicintai,” kata dia.

Editorial Team