Petugas kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) saat melakukan uji usap pada pekerja konstruksi untuk uji antigen cepat di lokasi konstruksi, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Ahmedabad, India, Rabu (9/9/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Amit Dave)
Oleh karena itu, kata Charles, langkah Menkes yang akan menggenjot testing dengan metode swab antigen kepada 15-30 orang kontak erat per kasus aktif dalam waktu 72 jam wajib mendapatkan dukungan.
Langkah tersebut dinilai sudah membuahkan hasil baik di India yang berpenduduk 1,4 miliar. Pada September 2020, dengan metode tersebut, India memiliki kasus baru 100 ribu per hari, namun empat bulan kemudian terjun bebas ke sembilan ribu atau terendah dalam 8 bulan terakhir.
"Kami berharap dengan metode testing dan tracing baru, yang berjalan simultan dengan program vaksinasi, bisa meredam penyebaran COVID-19. Tidak boleh ada euforia atau pun kelonggaran protokol kesehatan sebelum COVID-19 benar-benar hilang dari Indonesia,” imbau Charles.
Sebelumnya, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX pada Selasa (9/2/2021), Menkes mengatakan akan menggenjot 3T, khususnya di bagian testing dan tracing.
Mantan Wakil Menteri BUMN itu meniru strategi yang dilakukan oleh India untuk mengurangi laju penularan COVID-19. Caranya dengan melakukan identifikasi secepatnya siapa saja yang melakukan kontak erat dengan orang yang terpapar COVID-19, lalu individu tersebut diisolasi.
"Jadi, saya sudah ingatkan ke Bapak Presiden, ini yang terjadi di India di mana jumlah kasus akan terlihat naik, karena akan lebih banyak yang terlihat. Namun, bapak-ibu tidak perlu panik. Lebih baik kita lihat riilnya (angka COVID-19 di Indonesia) seperti apa, sehingga strateginya benar, daripada kelihatannya sedikit padahal kenyataannya (angka COVID-19) jauh lebih banyak," kata Budi dalam pemaparannya di forum rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR, Selasa (9/2/2021).