Comscore Tracker

Pengorbanan Guru SD Gunung Brintik Susuri Makam Demi Cari Murid Baru

Tawarkan pendidikan malah dituduh warga 

Semarang, IDN Times - Suasana SD Xaverius Pangudi Luhur (PL) Gunung Brintik, yang berada di puncak bukit Randusari, Semarang, Jawa Tengah, pagi itu tampak lengang. Semua ruangan kelas kosong, lantaran selama pandemik para siswa diwajibkan belajar dari rumah.

Hanya ada beberapa bocah yang sedang asyik bermain di areal pekuburan yang mengitari sekolahan tersebut.

"Mau ke mana, dik?" tanya IDN Times sembari menghampiri bocah tersebut.

"Ini mau ambil buku pelajaran. Dipakai buat belajar di rumah," kata Edo, salah satu bocah sembari menenteng tumpukan buku pelajaran.

1. Siswa SD Gunung Brintik rindun ingin masuk sekolah lagi

Pengorbanan Guru SD Gunung Brintik Susuri Makam Demi Cari Murid BaruSuasana kampung Gunung Brintik Semarang berada di tengah kuburan. Fariz Fardianto/IDN Times

Edo, siswa kelas VI SD PL Gunung Brintik ini mampir ke sekolah bersama adiknya. Sekadar menengok aktivitas di sekitar sekolahnya.

"Nanti maunya tetap sekolah di sini. Kangen sama suasana di kelasnya," ucapnya.

Siswa lainnya juga memendam perasaan serupa. Satria Mahardika mengaku suasana sekolah di SD Gunung Brintik membuatnya rindu bersama teman-temannya.

2. Curhat guru SD Gunung Brintik kesulitan mencari murid saat tahun ajaran baru

Pengorbanan Guru SD Gunung Brintik Susuri Makam Demi Cari Murid BaruSeorang guru saat menemui siswa agar mau sekolah ke SD Gunung Brintik Semarang. Fariz Fardianto/IDN Times

Veronica Suharti, guru SD Xaverius PL Gunung Brintik, mengatakan saat ini sekolahnya masih kesulitan mencari siswa baru. Lokasi sekolah yang berada di tengah kuburan membuat banyak orang tua siswa enggan mendaftarkan anaknya untuk mengenyam pendidikan di sana.

"Cari murid di sini memang susah-susah gampang. Kita harus bergerak sesuai hati nurani. Pokoknya tekad kita murni membantu anak biar bisa sekolah dengan layak," katanya kepada IDN Times, Rabu (17/6).

Baca Juga: Tahun Ajaran Baru, Kemendikbud: Sekolah Tak Perlu Tuntaskan Kurikulum

3. Guru-guru harus jemput bola ke rumah-rumah warga untuk menjaring murid baru

Pengorbanan Guru SD Gunung Brintik Susuri Makam Demi Cari Murid BaruMenyusuri gang sempit harus dilakoni guru SD Gunung Brintik agar sampai ke rumah warga. Fariz Fardianto/IDN Times

Suharti mengaku harus door to door ke rumah warga sekitar Bergota untuk merayu anak-anaknya agar mau sekolah di SD Gunung Brintik.

Aktivitas jemput bola ke rumah-rumah warga ini sudah dia lakoni selama sembilan tahun terakhir. Ada 11 guru yang disebar untuk menjaring murid baru. Mulai dari menyusuri gang sempit di Randusari, Kampung Bergota Kalang hingga Wonosari bawah.

Suharti yang bertugas mengajar siswa kelas III selama ini kebagian jatah menyambangi rumah warga di Gunung Brintik. Dia mendapat tugas mencari informasi calon siswa baru. 

4. Tak jarang harus naik turun menyusuri jalanan di TPU Bergota

Pengorbanan Guru SD Gunung Brintik Susuri Makam Demi Cari Murid BaruPenampakan ribuan kuburan di TPU Bergota yang mengitari SD Gunung Brintik. Fariz Fardianto/IDN Times

Jalan yang harus dilalui Suharto pun sangat terjal. Ia dan rekan-rekannya kerap naik turun menyusuri jalanan di TPU Bergota agar bisa sampai ke rumah warga. "Jalannya kan muter, naik turun ke Bergota. Dapat lima gang sudah ngos-ngosan. Seringnya saya datangi rumah warga dari jam delapan sampai jam dua belas siang," tuturnya.

"Tapi ini masih ada beberapa RT yang belum didatangi. Besok kayaknya saya mau jalan ke kampung dekat kamar mayat RS Kariadi. Di sana ternyata banyak rumah warga juga," lanjutnya.

5. Sering kali dicurigai ingin mempengaruhi kepercayaan yang dianut anak-anak mereka

Pengorbanan Guru SD Gunung Brintik Susuri Makam Demi Cari Murid BaruSuasana kampung Gunung Brintik Semarang berada di tengah kuburan. Fariz Fardianto/IDN Times

Suharti mengatakan tatkala menyambangi rumah warga, tak jarang ia dituduh hendak mengkristenkan anaknya. Sebab, SD Gunung Brintik bernaung di Yayasan Pangudi Luhur identik dengan komunitas Katolik. Baginya, orang yang berpandangan seperti itu punya pemikiran yang sempit.

"Kalau pas door to door itu tahunya anak mereka dikatolikkan. Soalnya mereka ngertinya kita kan dari Yayasan Pangudi Luhur. Padahal saat belajar di kelas, kita selalu tekankan mengenai budi pekerti. Lha wong di SD Brintik juga banyak anak-anak Muslim kok," ujar perempuan 58 tahun itu.

6. Banyak warga Gunung Brintik yang pilih tak sekolahkan anak karena masalah ekonomi

Pengorbanan Guru SD Gunung Brintik Susuri Makam Demi Cari Murid BaruIDN Times/Wira Sanjiwani

Tantangan lainnya yang Suharti temui di lapangan, mayoritas warga Gunung Brintik mengalami kesulitan keuangan. Kebanyakan warga Gunung Brintik bekerja sebagai penggali kubur, buruh bangunan dan pekerjaan serabutan lainnya.

Kondisi inilah membuat mereka tak mau menyekolahkan anak-anaknya. Tak ayal ketika mampir ke rumah orang tua siswa, ia mendapati siswanya berangkat dengan bekal ala kadarnya. Lantaran terhimpit kesulitan keuangan, orang tuanya hanya memberi uang saku semampunya tanpa mau mengantar ke sekolah.

"Soalnya kemampuan ekonomi orang tuanya di bawah rata-rata. Makanya semua murid yang sekolah di SD Brintik gak pernah dipungut biaya. Yang penting anaknya tetap semangat masuk sekolah," terangnya.

Baca Juga: Mendikbud: 94 Persen Siswa Masih Belajar di Rumah selama Pandemik

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya