Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
FSGI: Final Ulang LCC 4 Pilar Bisa Lukai Mental Siswa
LCC Empat Pilar MPR RI 2026 (youtube.com/@MPRRIOfficial)
  • FSGI menolak rencana MPR RI mengulang final LCC Empat Pilar Kalimantan Barat karena dinilai bisa melukai psikologis siswa dan menjadikan peserta korban kesalahan juri.
  • Dewan Pakar FSGI menilai pengulangan lomba tidak adil bagi siswa, seharusnya evaluasi diarahkan pada dewan juri yang dianggap tidak profesional serta berpotensi menyebabkan pemborosan anggaran.
  • FSGI memperingatkan keputusan final ulang bisa memicu gugatan hukum dari sekolah pemenang dan menimbulkan kerugian psikis maupun materi bagi peserta serta institusi terkait.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada lomba cerdas cermat di Kalimantan Barat, tapi banyak orang marah karena juri dianggap salah menilai. MPR mau bikin finalnya diulang supaya adil, tapi guru-guru dari FSGI bilang jangan, nanti anak-anak bisa sedih dan stres. Sekolah yang sudah menang takut kalah lagi. Sekarang MPR masih diminta pikir ulang rencananya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun terjadi polemik, situasi ini menunjukkan adanya kepedulian tinggi terhadap keadilan dan kesejahteraan siswa. FSGI secara tegas mengingatkan pentingnya melindungi hak psikologis peserta didik, sementara MPR berupaya menjaga kepercayaan publik terhadap lomba. Perdebatan terbuka ini mencerminkan kesadaran bersama untuk memperbaiki sistem penjurian agar lebih profesional dan transparan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meminta Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI membatalkan rencana mengulang final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat. FSGI menilai keputusan tersebut justru berpotensi melukai psikologis peserta didik dan menjadikan siswa sebagai korban atas kesalahan dewan juri.

Ketua Umum FSGI, Fahriza Marta Tanjung menilai pengulangan final bisa picu tekanan mental baru bagu peserta. Dikhawatirkan hasil lomba ulang justru memunculkan juara berbeda dan meninggalkan trauma psikologis bagi siswa yang telah berkompetisi.

“Namun, jika diulang justru itu terkesan menyelamatkan MPR, namun kembali menjadkan anak-anak peserta lomba sebagai korban kebijakan yang mengabaikan hak dan psikologi anak,” ujarnya kepada IDN Times, Jumat (15/5/2026).

Ssbelumnya, MPR memutuskan menggelar final ulang usai polemik penjurian viral di media sosial. MPR beralasan langkah itu asalah demi jaga kepercayaan publik dan memastikan LCC Empat Pilar jadi ruang edukatif generasi muda.

1. Tak pantas terima dampak ketidakprofesionalan juri

LCC Empat Pilar MPR RI 2026 (youtube.com/@MPRRIOfficial)

Selain itu Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti menilai keputusan tersebut bukan solusi yang tepat.

“Ini sepintas merupakan kebijakan yang adil, padahal berpotensi kuat memunculkan pro dan kontra serta tidak mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak,” ujar Retno

FSGI menilai kemenangan SMAN 1 Sambas tidak seharusnya dibatalkan karena kesalahan juri. Menurut Retno, peserta sudah berjuang keras hingga mencapai babak final dan tidak pantas menerima dampak dari ketidakprofesionalan dewan juri.

2. Anak tak layak untuk dihukum dengan pertandingan ulang

Pimpinan MPR RI dalam jumpa pers terkait polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar di Kalbar. (IDN Times/Amir Faisol)

Retno mengatakan, peserta didik tidak bersalah sehingga tidak layak untuk dihukum dengan pertandingan ulang. Menurut dia, evaluasi dan sanksi semestinya diarahkan kepada dewan juri yang dinilai membuat citra lomba dan nama baik MPR tercoreng.

FSGI juga menyoroti potensi pemborosan anggaran apabila final harus digelar ulang. Menurut mereka, biaya yang dikeluarkan negara, sekolah, hingga orang tua peserta tidak sedikit.

3. Berpotensi digugat secara hukum

Ucapan permohonan maaf dari MC LCC. (IDN Times/istimewa).

Tak hanya itu, FSGI mengingatkan seluruh sekolah finalis memiliki hak menolak pertandingan ulang. Bahkan, SMAN 1 Sambas sebagai pihak yang kemenangannya dibatalkan disebut berpotensi menggugat MPR RI melalui jalur hukum.

”Jadi, sebaiknya MPR mempertimbangkan kembali keputusannya untuk mengulang final LCC di Provinsi Kalimantan Timur, karena akan menimbulkan banyak masalah, mulai dari psikis peserta, kerugian perdata bagi sekolah yang sudah ditetapkan kemenangannya, masalah anggaran yang harus dikeluarkan lagi, dan berpotensi digugat secara hukum. Jadi lombanya tidak perlu diulang, namun MPR wajib pastikan bahwa kejadian serupa tidak akan pernah terulang di kemudian hari,” kata Retno.

Polemik LCC 4 Pilar mencuat setelah jawaban SMAN 1 Pontianak dinilai salah oleh juri, sementara jawaban serupa dari SMAN 1 Sambas dinyatakan benar. Keputusan itu viral dan memicu kecaman publik terhadap penjurian MPR RI. Di tengah rencana final ulang, SMAN 1 Pontianak resmi menyatakan tidak akan ikut lomba ulang.

Editorial Team