Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Golkar: RI Tak Perlu Keluar dari BoP Tapi Harus Tegas Sikapi Agresi Israel-AS
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Idrus Marham mendesak pemerintah Indonesia bersikap tegas terhadap agresi militer Israel dan AS, tanpa harus keluar dari Dewan Perdamaian Gasa (BoP).
  • Ia menilai keikutsertaan Indonesia di BoP penting untuk memperjuangkan penyelesaian konflik secara diplomatik sesuai prinsip bebas aktif dan nilai Dasasila Bandung.
  • Idrus juga mendorong Presiden Prabowo menjadi pelopor dunia Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina serta memperkuat posisi Indonesia sebagai jembatan perdamaian global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar, Idrus Marham, mendorong pemerintah lebih bersikap tegas menyikapi eskalasi di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS), tanpa harus keluar dari Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP).

Menurut Idrus, Indonesia perlu menyampaikan pernyataan resmi yang menegaskan ketidaksetujuan terhadap agresi militer yang dilakukan AS dan Israel. Sikap ini penting sebagai penegasan posisi politik luar negeri Indonesia, sekaligus menjadi pengingat diplomatik atas keterlibatan Indonesia dalam BoP.

Di sisi lain, sikap ini menunjukkan konsistensi Indonesia dalam memegang teguh prinsip bebas aktif—sebuah doktrin yang sejak awal menempatkan Indonesia sebagai kekuatan diplomasi nonblok.

"Pernyataan tegas tidak setuju atas penyerangan tersebut penting, sebagai peneguhan prinsip politik luar negeri kita. Namun, ketidaksepakatan itu tidak serta-merta harus dimaknai dengan keluar dari forum internasional," ujar Idrus kepada wartawan, Selasa (3/3/2026).

1. RI harus bersikap tegas atas konflik Timur Tengah

Politikus Partai Golkar Idrus Marham usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (31/1/2024). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

Menurutnya, keluar dari BoP bukan perkara sulit bagi Indonesia. Tapi sikap ini tidak memberi dampak kondusif bagi arah penyelesaian konflik. Justru di sinilah letak kecerdasan diplomasi yang diharapkan dari Indonesia.

"Bagaimana Indonesia tetap hadir dalam forum BoP, namun dengan suara yang tegas, jernih dan tidak ambigu," kata dia.

Menurut dia, absensi total atau memilih langkah keluar, itu juga terlalu spontan dan justru menutup ruang pengaruh yang selama ini susah payah dibangun. Ia mengaatakan, sebagai negara muslim terbesar dan anggota G20, maka modal ini mestinya dikapitalisasi untuk menjadikan setiap forum internasional sebagai panggung perjuangan, bukan sekadar ajang diplomasi emosional.

Idrus menegaskan, strategi politik luar negeri Indonesia harus tetap berpijak pada nilai-nilai konstitusi, khususnya amanat Pembukaan UUD 1945, prinsip Dasasila Bandung, serta doktrin politik luar negeri bebas aktif. Dalam konteks itu, Indonesia tidak boleh terseret arus konflik, tetapi juga tidak boleh diam terhadap pelanggaran prinsip kemanusiaan dan hukum internasional.

2. RI harus manfaatkan BoP kutuk AS dan Israel

Politikus Partai Golkar, Idrus Marham (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Idrus menjelaskan, prinsip dasar keterlibatan Indonesia dalam BoP sejak awal adalah memperkuat jalur diplomasi untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Karena itu, menurut dia, langkah penyerangan yang ditempuh AS dan Israel secara diametral bertentangan dengan tujuan forum tersebut.

“Kalau orientasinya penyelesaian secara diplomatik, maka cara-cara militer jelas bertolak belakang. Justru karena kita ada di dalam, kita bisa menunjukkan sikap tegas, menyatakan tidak setuju berdasarkan nilai dasar Dasa sila Bandung, konstitusi, dan prinsip dasar politik luar negeri,” kata mantan Menteri Sosial itu.

Idrus memahami, desakan terhadap pemerintah untuk keluar dari BoP lahir dari semangat moral yang patut dihargai. Namun, keputusan diplomatik sejatinya tidak cukup hanya dilandasi emosionalitas yang begitu spontan.

3. Indonesia tak perlu tergesa-gesa keluar dari BoP

Ketua Dewan Pembina Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar, Idrus Marham (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Menurut Idrus, dalam tradisi diplomasi Indonesia yang bebas aktif, selama ini sikap tegas tidak pernah diperlihatkan dengan cara lepas tangan. Sebaliknya, justru dengan penguatan sikap dan peran yang efektif mengendalikan arah perdamaian.

Berangkat dari dasar pemikiran ini, Idrus berpandangan Indonesia tidak perlu tergesa-gesa dan serta merta keluar dari forum, urgensi tetap di BoP justru bisa mempertegas posisi politik di dalamnya.

"Yang penting sikapnya tegas. Tidak setuju, tetapi tetap memanfaatkan ruang diplomasi yang ada," ujarnya.

Idrus juga mendorong Presiden Prabowo Subianto menjadi pelopor pemimpin dunia Islam dalam memperjuangkan penyelesaian masalah kemanusiaan dan kemerdekaan Palestina. Momentum krisis ini harus dijadikan peluang untuk mempertegas posisi Indonesia sebagai jembatan perdamaian dunia global.

“Kita harus bebas dalam menentukan sikap, tetapi aktif memperjuangkan perdamaian dunia," kata dia.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah Indonesia keluar dari BoP karena dinilai tidak efektif menghadirkan perdamaian, terutama dalam isu Palestina.

Editorial Team