Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hasto: Konferensi Asia Afrika Jadi Dasar RI Konsisten Bela Palestina
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Hasto Kristiyanto menegaskan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina berakar pada semangat Konferensi Asia Afrika 1955 yang menegaskan pentingnya perdamaian dan pelaksanaan resolusi PBB.
  • Ia menilai konsistensi politik luar negeri Indonesia harus dijaga agar tetap berpijak pada sejarah perjuangan anti-kolonialisme dan relevan menghadapi dinamika geopolitik global masa kini.
  • Hasto juga menyoroti peran Megawati Soekarnoputri dalam membawa semangat KAA di forum internasional sebagai bagian dari upaya dekolonialisasi modern dan penguatan posisi ideologis Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan sikap Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina tidak berdiri sebagai respons emosional sesaat, melainkan berakar kuat pada konstitusi dan hukum internasional yang lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955. Pernyataan itu disampaikan dalam pembukaan Seminar Nasional bertema relevansi Gerakan Asia Afrika di tengah dinamika geopolitik global.

Menurut Hasto, KAA bukan hanya forum diplomasi biasa, tetapi tonggak sejarah ketika negara-negara Asia-Afrika secara kolektif menetapkan posisi terhadap isu global, termasuk Palestina. Ia mengingatkan bahwa dalam komunike politik KAA, dukungan terhadap hak bangsa Arab atas Palestina telah dinyatakan secara eksplisit sebagai bagian dari komitmen menjaga perdamaian dunia.

"Dalam komunike KAA, sangat jelas disebutkan bahwa adanya ketegangan di Timur Tengah akibat masalah Palestina adalah bahaya bagi perdamaian dunia. KAA menyerukan pelaksanaan resolusi PBB dan penyelesaian damai. Inilah hukum internasional yang kita ciptakan sendiri melalui Semangat Bandung," ujar Hasto saat peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

1. Indonesia punya tanggung jawab moral

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan (IDN Times/Lia Hutasoit)

Dia menilai, posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten membela Palestina merupakan refleksi dari identitas historis sebagai bangsa yang pernah melawan kolonialisme. Dalam konteks ini, Indonesia disebut memiliki tanggung jawab moral untuk tetap berada di garis depan dalam memperjuangkan keadilan global.

2. Penting jaga konsistensi politik luar negeri

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bersama Dedy Sitorus dan Charles Honoris (IDN Times/Aryodamar)

Hasto juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi arah politik luar negeri Indonesia di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks. Tanpa pijakan sejarah yang kuat, menurutnya, arah diplomasi nasional berpotensi kehilangan orientasi.

Lebih jauh, ia mengaitkan pemikiran geopolitik Bung Karno dengan kondisi global saat ini. Konsep koeksistensi progresif yang diperkenalkan dinilai masih relevan sebagai pendekatan untuk meredam konflik internasional tanpa meninggalkan perjuangan terhadap keadilan sosial.

3. Upaya dekolonialisasi modern

Andreas Hugo Pareira, Hasto Kristiyanto, dan Djarot Saiful Hidayat (IDN Times/Aryodamar)

Dalam forum tersebut, Hasto turut menyoroti peran kepemimpinan nasional, termasuk Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang disebut terus membawa semangat KAA dalam berbagai forum internasional. Upaya tersebut, kata dia, menjadi bagian dari agenda dekolonialisasi modern untuk mencegah ketergantungan baru antarnegara.

Seminar ini menjadi pembuka rangkaian peringatan 71 tahun KAA yang diharapkan dapat memperkuat kembali posisi ideologis Indonesia di panggung global, sekaligus menegaskan bahwa solidaritas terhadap Palestina tetap menjadi mandat sejarah yang tidak berubah oleh waktu.

Editorial Team