Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Peluncuran Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta.
Peluncuran Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/2/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Intinya sih...

  • Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 turun ke kategori "agak terlindungi", dengan penurunan signifikan pada pilar stakeholder media dan individu jurnalis.

  • Indeks diharapkan menjadi rujukan untuk membangun kemerdekaan pers, memastikan jurnalis bekerja dengan aman, dan hak-hak masyarakat untuk mendapatkan informasi terpenuhi.

  • Kerja sama diperlukan untuk melindungi kebebasan pers, dengan pergeseran ancaman dari kekerasan langsung di lapangan menjadi ancaman struktural dan praktik sensor di ruang redaksi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 menunjukkan kondisi jurnalis di Indonesia masih berada dalam kategori “agak terlindungi”, meski mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Indeks tahun ini berada di angka 59,5, turun sekitar 0,9 hingga 1 poin dari 2024.

Berdasarkan analisis hasil survei yang digelar Populix, Policy and Society Research Manager Populix Nazmi Tamara menjelaskan, pengalaman kekerasan jurnalis turun hingga 10,77 poin. Namun di sisi lain, pengetahuan jurnalis terkait risiko dan upaya pencegahan meningkat sekitar 20 poin.

“Jadi dibanding 2024, jurnalis lebih tahu akan risiko dan lebih tahu bagaimana upaya preventifnya,” ujar Nazmi dalam acara Peluncuran Indeks Keselamatan Jurnalis 2025, di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/2/2026).

1. Terjadi penurunan besar pada pilar stakeholder media dan individu jurnalis

Peluncuran Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/2/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Adapun survei melibatkan 655 responden, yang didominasi berada di Jawa sebesar 47 persen, disusul Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua, serta Maluku dan Maluku Utara. Responden dinilai telah mewakili berbagai wilayah dan provinsi di Indonesia.

“Dari sisi sebaran, kita banyak melihat surveinya dari wilayah Jawa sebesar 47 persen, lalu Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan terakhir Papua serta Maluku dan Maluku Utara,” ujarnya.

Nazmi menyebutkan, meski masih berada dalam kategori yang sama sejak 2023, terjadi penurunan nilai indeks yang cukup signifikan pada beberapa pilar. Penurunan terbesar terjadi pada pilar stakeholder media dan individu jurnalis.

“Nah, yang mengalami penurunan paling banyak ini dari sisi stakeholder media, lalu juga dari individu,” katanya.

Sementara itu, pilar negara dan regulasi mencatat kenaikan tipis, didorong oleh membaiknya persepsi jurnalis terhadap peran penegak hukum dan regulasi yang berlaku.

2. Indeks diharapkan jadi rujukan bangun kemerdekaan pers

Peluncuran Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/2/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Tifa, Oslan Purba menjelaskan, pers merupakan salah satu pilar demokrasi yang penting. Dia mengatakan, saat ini mungkin terjadi perbedaan pendapat tentang apakah Indonesia sedang mengalami penurunan demokrasi, terjadi rekresi demokrasi, tapi dia tahu bahwa Indonesia saat ini sedang tidak berada dalam situasi yang baik-baik saja.

"Mudah-mudahan ini (Indeks Keselamatan Jurnalis 2025) bisa menjadi satu ruang diskusi dan bisa menjadi referensi, rujukan bagi kita untuk membuat kebijakan yang lebih baik, terutama untuk membangun kemerdekaan pers, membangun media yang independen dan yang tak kalah penting adalah untuk memastikan jurnalis bekerja dengan aman agar hak-hak masyarakat untuk mendapatkan informasi bisa terpenuhi," kata dia.

3. Perlu kerja sama lindungi kebebasan pers

Peluncuran Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/2/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Adapun Chargés d’Affaires ad interim of the Kingdom of the Netherlands to Indonesia, Adriaan Palm menjelaskan, saat jurnalis bekerja secara bebas, masyarakat menjadi lebih berperan, mereka memiliki informasi yang lebih bergantung, dan kepercayaan bisa terbangun.

"Kebebasan pers tidak bisa diambil secara tersendiri di mana-mana di dunia, dan tindakan kolektif diperlukan. Mengumpulkan masyarakat dan belajar dari satu sama lain adalah elemen utama diplomasi. Dan saya berharap dalam diskusi panel, yaitu pemerintahan, akademisi, dan masyarakat yang telah mencapai proses pembuatan kebijakan terhadap kebebasan dan media di Indonesia," ujarnya.

4. Pemerintah soroti tren penurunan Indeks Keselamatan Jurnalis

Peluncuran Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/2/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Direktur Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nursodik Gunarjo, menyoroti tren penurunan Indeks Keselamatan Jurnalis dari tahun ke tahun serta masih tingginya pengalaman kekerasan terhadap jurnalis.

“Bahwa ada kecenderungan bahwa skor indeks ini dari tahun ke tahun ini menurun. Ini saya kira sangat menjadi perhatian kita semua,” ujar Nursodik.

Dia juga menilai, terjadi pergeseran ancaman dari kekerasan langsung di lapangan menjadi ancaman struktural, termasuk praktik sensor di ruang redaksi.

“Perlindungan jurnalis itu tidak cukup berhenti pada aturan dan regulasi, tapi jauh yang lebih penting adalah dalam praktik sehari-hari,” katanya.

Pemerintah, lanjut Nursodik, berkomitmen memperkuat perlindungan jurnalis, termasuk menyusun regulasi untuk melindungi karya jurnalistik dari penyalahgunaan teknologi kecerdasan imitasi (AI).

Editorial Team