Jakarta, IDN Times - Sutradara film Pesta Babi, Dandhy Laksono, merespons pertanyaan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak soal sumber dana untuk memproduksi film mengenai pembukaan hutan adat di Papua. Menurut Dandhy, anggaran untuk membiayai film berdurasi 95 menit itu bersumber dari patungan sejumlah lembaga. Mulai dari Greenpeace, media Jubi, Pustaka Bentala hingga Watchdoc.
Patungan dan upaya bersama itu tidak selalu diwujudkan dalam bentuk uang. Ada pula urunan peralatan untuk syuting. Sejumlah lembaga yang ikut terlibat dalam kolaborasi film tersebut kemudian disebut di materi promosi.
"Di film Pesta Babi dan semua nama orangnya jelas, teman-teman bisa melihat logo-logo yang ada di poster film. Itu lah para kolaborator, lembaga-lembaga yang patungan untuk membiayai film ini," ujar Dandhy kepada IDN Times, Rabu (20/5/2026), dengan mengirimkan tautan wawancara berisi responsnya atas keingintahuan publik mengenai sumber dana produksi.
Ia menambahkan, semua kru termasuk dirinya sendiri bekerja probono alias tidak dibayar untuk membuat film Pesta Babi. "Misalnya Watchdoc, itu kan lembaga kecil. Lembaga itu gak punya duit. Maka, dia menyumbang dalam bentuk kamera dan cameraman. Jadi, itu lah bentuk urunannya, dalam bentuk orang dan alat," imbuhnya.
Sementara, teman-teman lainnya yang memiliki sumber pendanaan finansial akan menyumbang transportasinya. "Tapi, sekali lagi gak ada honor. Kami mengerjakan ini dengan gotong royong, patungan. Kami percaya usaha ini akan lebih membuat filmnya passionate," tutur dia.
