Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jemaah haji mencari batu kerikil di Muzdalifah, Makkah (IDN Times/Sunariyah)
Jemaah haji mencari batu kerikil di Muzdalifah, Makkah (IDN Times/Sunariyah)

Intinya sih...

  • Aturan Arab Saudi melarang jemaah haji Indonesia jalan kaki dari Muzdalifah ke Mina.

  • Pemerintah Indonesia telah memfasilitasi transportasi penuh untuk jemaah.

  • Skema Murur dan Tanazul untuk Urai Kepadatan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Fase pergerakan jemaah haji dari Muzdalifah menuju Mina sering menjadi titik kritis karena tingginya potensi kelelahan. Menyikapi hal ini, Kasatops Armuzna 2025, Harun Ar Rasyid, menegaskan larangan keras bagi jemaah haji Indonesia untuk melakukan perjalanan kaki (Haji Masian) pada rute tersebut.

Dalam keterangannya di hadapan peserta Diklat PPIH, Rabu (21/1/2026), Harun memaparkan sejumlah kebijakan terkait pergerakan jemaah di fase Armuzna.

1. Transportasi Sudah Disediakan, Jalan Kaki Dilarang

Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Harun menegaskan bahwa aturan dari Kementerian Haji Arab Saudi tidak memperbolehkan jemaah berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina demi keselamatan. Pemerintah Indonesia pun telah memfasilitasi transportasi penuh.

"Kalau untuk jalan kaki tentunya tidak diperbolehkan karena memang ada aturan tersendiri dari Kementerian Haji Arab Saudi. Kita juga sudah memfasilitasi jemaah bergerak dari Muzdalifah dengan kendaraan," tegas Harun.

2. Skema Murur dan Tanazul untuk Urai Kepadatan

Tenda-tenda jemaah haji di Mina, Arab Saudi. (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Untuk mengatasi kepadatan ekstrem di Muzdalifah yang sempat menjadi isu tahun-tahun sebelumnya, Kemenhaj tahun ini akan kembali menerapkan skema Murur (melintas Muzdalifah tanpa turun) dan Tanazul (pindah ke hotel tanpa mabit).

"Rencana untuk Murur dan Tanazul akan kita laksanakan tahun ini. Bapak Menteri juga akan melaksanakan proyek itu. Kami anggap itu lebih efektif untuk mengurai kepadatan jemaah di Muzdalifah maupun di Mina," jelas Harun.

Meski demikian, Harun menyebut angka pasti jumlah jemaah yang akan mengikuti skema ini masih dalam tahap finalisasi data.


3. Optimisme di Bawah Kementerian Baru

Menhaj Irfan Yusuf Resmi Buka Diklat PPIH 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta (Dok. Kemenhaj RI)

Menghadapi musim haji pertama di bawah naungan kementerian baru (Kementerian Haji dan Umrah), Harun mengaku optimistis. Ia menilai pelatihan petugas (Diklat PPIH) yang berlangsung selama 20 hari dengan sistem semi-militer sangat membantu kesiapan mental petugas di lapangan.

"Tugas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina ini lumayan berat. Dengan adanya latihan yang difokuskan cukup lama, ini bisa memberikan pembekalan maksimal kepada 1.600 petugas. Insyaallah semua akan diberikan kemudahan," pungkasnya.

Editorial Team