Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bersama Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla memimpin kerja bakti massal “Jaga Jakarta Bersih” di Cipinang Melayu, Jakarta Timur/dok Humas Pemprov DKI
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bersama Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla memimpin kerja bakti massal “Jaga Jakarta Bersih” di Cipinang Melayu, Jakarta Timur/dok Humas Pemprov DKI

Intinya sih...

  • Warga Jakarta harus bertanggung jawab diri sendiri: JK menilai, sebagai warga Jakarta, masyarakat memiliki kewajiban moral untuk ikut menjaga kebersihan kota.

  • Gorong-gorong dan selokan harus dibersihkan: Banjir terjadi ketika volume air yang masuk jauh lebih besar dibandingkan dengan air yang dapat dialirkan keluar.

  • Dampak banjir ke masyarakat kecil: Banjir lebih banyak menimpa masyarakat kecil yang tinggal di kawasan padat dan bantaran sungai.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, meminta masyarakat tidak menyalahkan Gubernur Jakarta Pramono Anung jika banjir merendam Jakarta.

JK menilai, semua warga Jakarta harus bertanggung jawab dengan menjaga kebersihan dimulai dari diri sendiri.

"Pokoknya kalau banjir, jangan marahi Gubernur, marahi diri sendiri. Kenapa rumah saya tidak bersih? Kenapa selokan saya tidak bersih? Kenapa buang sampah di sungai? Lihat apa yang diangkut itu, semua sampah," ucap Jusuf Kalla kawasan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Minggu (8/2/2026).

1. Warga Jakarta harus bertanggung jawab jaga kebersihan kota

Aksi kerja bakti massal “Jaga Jakarta Bersih” di Cipinang Melayu, Jakarta Timur./dok Pemprov DKI

JK menilai, sebagai warga Jakarta, masyarakat memiliki kewajiban moral untuk ikut menjaga kebersihan kota. Sebab dampak banjir pada akhirnya akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kita ini warga Jakarta. Harus bertanggung jawab dan bekerja untuk kebersihan kota kita. Jadi kita membantu Gubernur berarti membantu diri sendiri. Karena yang mengotori Jakarta kita juga, yang membersihkan harus kita juga,” katanya

2. Gorong-gorong dan selokan harus dibersihkan

Wagub Rano Karno mengecek aksi Kerja Bhakti/ dok Pemprov DKI

Lebih lanjut, JK menjelaskan, banjir terjadi ketika volume air yang masuk jauh lebih besar dibandingkan dengan air yang dapat dialirkan keluar. Kondisi ini, menurutnya, semakin parah ketika sungai, gorong-gorong, dan selokan dipenuhi sampah.

“Banjir itu air yang masuk lebih banyak daripada yang keluar. Yang masuk tidak bisa diatasi karena musim hujan. Tentu ada juga usaha untuk memindahkan hujan itu. Maka di mana jalan keluarnya? Ya di sungai-sungai itu, gorong-gorong, selokan. Itu jalan keluarnya. Itu yang harus dibersihkan supaya air itu begitu datang, dia keluar. Jadi itulah banjir kalau kurang keluar,” jelasnya.

3. Dampak banjir ke masyarakat kecil

BPBD DKI cek banjir Jakarta. (Dok. BPBD DKI)

JK juga mengingatkan bahwa banjir lebih banyak menimpa masyarakat kecil yang tinggal di kawasan padat dan bantaran sungai. Sementara itu, warga di kawasan elite relatif lebih aman dari genangan.

“Jangan lupa, begitu banjir yang kena lebih banyak rakyat kecil. Orang di Menteng, di Kebayoran, di Pondok Indah tidak kena banjir. Yang kena rakyat kecil. Jadi kita harus bertanggung jawab untuk itu. PMI sejak lama juga meminta hal ini dilakukan secara bersama-sama,” ujar Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum PMI.

Editorial Team