Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
JK Wanti-wanti Selat Hormuz Ditutup Bisa Bikin Gas Elpiji Langka
Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Jusuf Kalla mengingatkan penutupan Selat Hormuz oleh Iran bisa memicu kelangkaan LPG di Indonesia karena 70 persen pasokan masih bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah.
  • JK menyoroti stok energi nasional, terutama BBM, yang hanya cukup sekitar 20 hari dan masih sangat bergantung pada kondisi perang di Timur Tengah untuk keberlanjutan pasokannya.
  • Ia menilai konflik antara Iran melawan AS dan Israel berpotensi berlangsung lama karena karakter Iran yang tidak mudah menyerah serta dukungan ideologis dan persenjataan yang kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) mengingatkan, Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran usai Negara Mullah itu diserang oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel, bisa berdampak langsung pada pasokan Elpiji (LPG) dalam negeri.

Menurut JK, LPG menjadi komoditas paling rawan karena ketergantungan impor Indonesia yang sangat tinggi, terutama dari kawasan Timur Tengah.

1. Pasokan LPG 70 persen impor

Potret warga antri gas LPG 3 kg di kawasan Palmerah, Jakarta Barat (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

JK menegaskan, persoalan utama yang harus diwaspadai bukan hanya BBM, melainkan LPG. Ia menyebut, sekitar 70 persen kebutuhan LPG Indonesia masih bergantung pada impor.

“Iya jadi yang saya bilang yang paling harus diperhatikan itu LPG. LPG itu 70 persen kita impor, dan banyak dari Timur Tengah, sebagian ada juga dari Amerika. Ini kalau bensin mungkin masih ada alternatifnya ya," kata dia dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times bersama Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, di rumah pribadi JK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).

Menurut JK, berbeda dengan bensin yang masih punya alternatif, LPG tidak memiliki pilihan pengganti bagi masyarakat kecil.

“Ini kalau bensin (langka) mungkin masih ada alternatifnya ya. Kalau tidak bisa beli Pertalite, beli yang lain atau naik kendaraan umum atau apa. Tapi kalau elpiji tidak ada, masa memasak rakyat kecil bagaimana?” katanya.

2. Stok BBM hanya 20 hari, situasi masih bergantung perang

Suasana SPBU di kawasan Senayan, Jalan Hang Lekir I, Jakarta Pusat usai pemerintah menaikkan harga BBM, Sabtu (3/9/2022). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

JK juga menyoroti kondisi stok energi nasional yang disebut hanya cukup sekitar 20 hari. Ia menyebut, angka itu masih relatif aman dalam jangka waktu sangat pendek, namun tetap perlu diwaspadi.

“Nah itu hati-hati dalam waktu dua minggu ini. Karena kita punya stok BBM itu hanya 20 hari,” ucapnya.

Saat ditanya apakah angka tersebut aman, JK menilai kebutuhan BBM masih bisa impor dari negara tetangga, seperti Singapura. Namun untuk jangka panjang, stok BBM tetap bergantung pada bagaimana dinamika peperangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

“Mungkin sekarang kita masih ambil, kalau 21 hari kita masih bisa ambil dari Singapura, selama Singapura masih ada persediaan. Katakanlah bisa dua minggu. Tapi setelah itu ya tergantung perang ini,” tutur JK.

3. Konflik berpotensi berlangsung lama, Iran tak akan mudah menyerah

Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla (JK) dalam acara Ngobrol Seru by Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis di rumah pribadi JK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Lebih lanjut, JK menekankan, peperangan yang terjadi antara AS dan Israel melawan Iran berpotensi berlangsung lama. Sebab, karakter Iran dinilai tidak mudah menyerah.

“Kalau perangnya lama, dan saya yakin Iran tidak akan menyerah, belum (ada) dalam sejarahnya. Iran tidak pernah menyerah, sejak dulu itu, Persia. Ya, tidak pernah menyerah,” katanya.

Ia juga menyinggung faktor ideologis dan dukungan persenjataan yang dimiliki Iran, menjadikan negara ini tidak mudah menyerah.

“Apalagi mereka berdasar kepada agama. Sehingga kalaupun ada yang tewas, syahid. Jadi mereka tidak takut gitu. Memang bisa saja digempur semua persenjataannya, roketnya, dronenya, tapi saya kira disebar juga, dan dia mendapat bantuan sistem persenjataan dari China," ungkap JK.

Pernyataan JK ini menjadi pengingat bahwa eskalasi konflik global tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga langsung menyentuh dapur masyarakat Indonesia, terutama jika jalur vital seperti Selat Hormuz benar-benar terganggu dalam jangka waktu panjang.

Editorial Team