Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo (Dok. PLN)
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa dengan beroperasinya kedua PLTA tersebut, bauran EBT di sistem kelistrikan Sulawesi akan meningkat menjadi 38,38 persen. Selain itu, menurutnya pengoperasian kedua pembangkit EBT ini pun menjadi bukti kolaborasi strategis antara PLN dengan produsen listrik swasta (IPP) dalam mempercepat transisi energi di Tanah Air.
"Dalam mengakselerasi pembangunan EBT, PLN tak bisa sendiri. Perlu adanya kolaborasi dan sinergi baik bersama BUMN maupun swasta. Kedua proyek ini menjadi bukti nyata dari kolaborasi apik pengembangan EBT dalam skala besar," ungkap Darmawan.
Lebih jauh Darmawan menjelaskan, rencananya PLTA yang memanfaatkan arus sungai Poso ini akan dimaksimalkan sebagai pembangkit peaker yang akan dioperasikan selama waktu beban puncak, yaitu pukul 17.00 sampai dengan 22.00 dengan Exclusive Commited Energy sebesar 1.669 GWh per tahun.
Pembangkit ramah lingkungan ini telah terinterkoneksi dengan saluran transmisi 275 kV ke Provinsi Sulawesi Selatan. Tak hanya itu, PLTA Poso juga telah tersambung dengan saluran transmisi 150 kV dari pembangkit ke Kota Palu, Sulawesi Tengah.
"Pengoperasian PLTA Poso Peaker sangat penting karena banyaknya industri smelter yang masuk ke Sulawesi, khususnya di Sulawesi Tengah. Smelter ini butuh pasokan listrik yang andal," paparnya.