Jakarta, IDN Times -Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) memaknai kasus anak yang akhiri hidup di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tak bisa beli pena dan buku jadi sinyal lumpuhnya perlindungan hak anak atas pendidikan, khsususnya bagi mereka yang terkendala karena biaya.
“Di tengah klaim pemerintah tentang anggaran pendidikan yang terus naik, realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa nyawa seorang anak bisa melayang hanya karena harga sebuah buku dan pena yang tak terjangkau,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidkikan Indonesia (JPPI), dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
