Ilustrasi sedang melakukan rukuk (pexels.com/Alena Darmel)
Begitu pentingnya salat hingga disebut sebagai tiang agama. Kedudukannya begitu fundamental dalam kehidupan seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ
“Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keistimewaan salat terlihat dari beberapa hal berikut:
Pertama kali dihisab pada hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan pertama yang dihisab adalah salat. Jika baik salatnya, baik pula seluruh amal lainnya.
Diterima langsung saat Isra Mi’raj. Awalnya diwajibkan 50 waktu, lalu diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara lima puluh.
Pembeda antara iman dan kufur. Nabi bersabda bahwa perjanjian antara seorang Muslim dan kekufuran adalah salat.
Selain sebagai kewajiban, salat juga menjadi sarana memohon pertolongan dan menghadirkan ketenangan di tengah kesulitan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 45:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Ayat ini menunjukkan bahwa salat bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan sumber kekuatan spiritual. Bagi orang yang khusyuk, salat justru menjadi ruang ketenangan, tempat mengadu dan memohon pertolongan kepada Allah.
Dalam praktiknya, salat yang dilakukan dengan khusyuk mampu menjadi terapi ruhani. Ia membersihkan dosa, mengangkat derajat, melatih disiplin waktu, serta membentuk akhlak. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Ankabut ayat 45:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dengan demikian, salat bukan sekadar kewajiban formal, tetapi inti dari pembinaan iman dan akhlak. Ia menghubungkan hamba dengan Tuhannya, sekaligus membentuk karakter yang disiplin, tenang, dan terjaga dari perbuatan tercela.