Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Keajaiban Salat: Menghidupkan Hati dan Menghubungkan Hamba dengan Tuhannya
Ilustrasi salat (IDN Times/Dwi Agustiar)
  • Salat dijelaskan sebagai tiang agama dan kewajiban utama umat Muslim yang memiliki kekuatan spiritual besar dalam membentuk kepribadian, menenangkan jiwa, serta menjadi sumber ketenangan dan pertolongan hidup.
  • Makna salat mencakup doa, penghambaan, dan komunikasi langsung dengan Allah SWT; bukan sekadar gerakan fisik, tetapi bentuk kesadaran penuh untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada-Nya.
  • Al-Qur’an dan hadis menegaskan salat sebagai kewajiban pokok bagi setiap Muslim, menjadi fondasi utama Islam yang harus dijaga pelaksanaannya dalam segala kondisi kehidupan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Salat merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Dalam buku The Miracle of Ibadah karya H. Amirullah Syarbini yang diterbitkan oleh RuangKata, dijelaskan bahwa salat bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan formal, melainkan ibadah yang memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk kepribadian, menenangkan jiwa, dan mengantarkan manusia pada kesuksesan dunia dan akhirat.

Perintah salat bahkan diberikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada peristiwa Isra Mi’raj, tanpa perantara Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan salat dalam Islam.

1. Salat ibadah paling istimewa, menghubungkan hamba dengan Tuhannya

Ilustrasi sedang melakukan rukuk (pexels.com/Alena Darmel)

Begitu pentingnya salat hingga disebut sebagai tiang agama. Kedudukannya begitu fundamental dalam kehidupan seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ

“Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keistimewaan salat terlihat dari beberapa hal berikut:

  • Pertama kali dihisab pada hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan pertama yang dihisab adalah salat. Jika baik salatnya, baik pula seluruh amal lainnya.

  • Diterima langsung saat Isra Mi’raj. Awalnya diwajibkan 50 waktu, lalu diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara lima puluh.

  • Pembeda antara iman dan kufur. Nabi bersabda bahwa perjanjian antara seorang Muslim dan kekufuran adalah salat.

Selain sebagai kewajiban, salat juga menjadi sarana memohon pertolongan dan menghadirkan ketenangan di tengah kesulitan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”

Ayat ini menunjukkan bahwa salat bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan sumber kekuatan spiritual. Bagi orang yang khusyuk, salat justru menjadi ruang ketenangan, tempat mengadu dan memohon pertolongan kepada Allah.

Dalam praktiknya, salat yang dilakukan dengan khusyuk mampu menjadi terapi ruhani. Ia membersihkan dosa, mengangkat derajat, melatih disiplin waktu, serta membentuk akhlak. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Ankabut ayat 45:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan demikian, salat bukan sekadar kewajiban formal, tetapi inti dari pembinaan iman dan akhlak. Ia menghubungkan hamba dengan Tuhannya, sekaligus membentuk karakter yang disiplin, tenang, dan terjaga dari perbuatan tercela.

2. Makna salat sebagai doa, penghambaan, dan komunikasi dengan Allah

Ilustrasi salat Idul Fitri (ANTARA FOTO)

Secara bahasa, kata salat (الصلاة) berarti doa. Makna ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT pada QS. At-Taubah ayat 103, ketika Allah memerintahkan Nabi untuk mendoakan kaum mukmin:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

Kata wa shalli ‘alaihim (وَصَلِّ عَلَيْهِمْ) dalam ayat tersebut bermakna “berdoalah untuk mereka”, yang menunjukkan bahwa secara bahasa, salat memiliki arti doa.

Secara istilah, para ulama mendefinisikan salat sebagai rangkaian ucapan dan gerakan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, disertai syarat serta rukun yang telah ditetapkan. Dengan demikian, salat bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bentuk penghambaan total kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. Thaha ayat 14:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama salat adalah li dzikri (لِذِكْرِي) untuk mengingat Allah. Artinya, salat adalah ruang komunikasi antara hamba dan Tuhannya, tempat seorang Muslim menghadirkan kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam hidupnya.

Makna mendalam salat mencakup:

  • Pengakuan ketundukan total kepada Allah.

  • Sarana zikir dan mengingat Allah secara sadar.

  • Media pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab.

Salat tidak hanya menggerakkan tubuh, tetapi juga menghidupkan hati. Ketika seorang Muslim berdiri, rukuk, dan sujud dengan kesadaran penuh, ia sedang membangun koneksi spiritual yang mendalam dengan Tuhannya.

3. Ayat dan hadis yang menganjurkan salat

ilustrasi orang salat (pexels.com/Alena Darmel)

Kewajiban salat ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Salah satunya:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Allah juga berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua salatmu dan (peliharalah) salat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Sementara itu, dalam hadis disebutkan:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun atas lima perkara: syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari Muslim)

Ayat dan hadis tersebut menunjukkan bahwa salat bukan hanya ritual ibadah, tetapi fondasi utama kehidupan seorang muslim. Bahkan dalam kondisi sakit sekalipun, salat tetap wajib dilaksanakan sesuai kemampuan.

Editorial Team