Bogor, IDN Times - Keluarga Ferry Irawan, salah satu korban insiden kecelakaan pesawat ATR 42-500 telah mengikuti proses identifikasi jenazah. Anak dan saudara kandung Ferry dikabarkan telah bertolak menuju Makassar untuk menjalani prosedur medis.
Menurut Ketua RT06/RW03 Kelurahan Cikaret, Ari Fakhrizal, pihak keluarga melakukan tes DNA guna mencocokkan data antemortem dengan dua jenazah yang baru saja ditemukan tim SAR.
"Putra dan kakaknya, kakak Pak Ferry yang perempuan dan dua saudaranya itu sudah menuju ke Makassar. Mereka sedang melakukan tes antemortem atau DNA terkait dengan penemuan korban yang sementara ini baru dua orang," kata Ari saat ditemui, Rabu (21/1/2026).
Keluarga Pastikan Tes DNA Ferry Irawan Korban Pesawat ATR 42-500

Intinya sih...
Korban dalam perjalanan dinas saat insiden terjadi, ditemukan seragam kerja korban di lokasi kejadian.
Pekerjaan sebagai pengawas membuatnya sering bepergian, frekuensi kehadirannya di rumah berkurang.
Sering menginap di kantor demi kejar penerbangan pagi, menunjukkan dedikasi terhadap pekerjaan.
1. Korban dalam perjalanan dinas saat insiden terjadi
Berdasarkan informasi yang diterima pihak RT, Ferry berada di dalam pesawat tersebut dalam rangka menjalankan tugas pekerjaan. Hal ini diperkuat dengan temuan seragam kerja yang diduga milik korban di lokasi kejadian.
"Saya dapat foto terkait baju dinas Pak Ferry yang baru ditemukan kemarin. Itu memang perjalanan dinas," ungkap Ari.
2. Pekerjaan sebagai pengawas membuatnya sering bepergian
Sebagai seorang pengawas, Ferry memiliki mobilitas yang sangat tinggi. Kesibukannya ini membuat frekuensi kehadirannya di lingkungan rumah berkurang dalam beberapa tahun terakhir, karena ia harus melakukan perjalanan dinas ke luar daerah hampir setiap pekan.
"Selepas menjabat sebagai pengawas, intensitas di masyarakat berkurang karena pekerjaannya luar biasa sibuk. Beliau sering ke luar kota," tambahnya.
3. Sering menginap di kantor demi kejar penerbangan pagi
Dedikasi Ferry terhadap pekerjaannya terlihat dari cara ia mengatur waktu. Mengingat rumahnya di Bogor, ia sering memilih menginap di kantor dinasnya jika ada jadwal penerbangan pagi, agar tidak terlambat menuju bandara.
"Kadang beliau tidur di kantor dinasnya. Karena kalau dari Bogor ke tempat dinas untuk mengejar pesawat yang berangkat pagi, waktunya tidak terkejar," jelas Ari.