Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kematian Prajurit di Kapal Perang Dianggap Janggal, TNI AL Buka Suara
Ilustrasi KRI Ki Hajar Dewantara-364 ketika sedang bersandar. (Dokumentasi TNI AL)
  • KLD Ghofirul Kasyi ditemukan meninggal di KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat, setelah sebelumnya mengaku sering dipukul senior dan ingin pindah kapal karena tak tahan perlakuan tersebut.
  • TNI AL menyatakan hasil visum menunjukkan tidak ada tanda kekerasan, melainkan luka leher yang sesuai dengan ciri gantung diri, sehingga disimpulkan kematian akibat mengakhiri hidup sendiri.
  • Keluarga menolak kesimpulan TNI AL dan meyakini Ovy tidak mungkin bunuh diri karena dikenal bermental kuat; jenazahnya tetap dimakamkan secara militer di Bangkalan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada seorang prajurit muda namanya Ovy. Dia kerja di kapal TNI AL dan sering bilang ke orang tuanya kalau dia dipukul sama seniornya. Lalu Ovy meninggal di kapal itu, dan keluarganya sedih karena wajahnya ada lebam. TNI AL bilang Ovy meninggal karena gantung diri, tapi keluarganya tidak percaya dan masih bingung sampai sekarang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Prajurit TNI Angkatan Laut (AL), Kelasi Dua (KLD) Ghofirul Kasyi ditemukan meninggal dunia di KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 pada 26 April 2026. Namun, pihak keluarga menilai kematian prajurit berusia 22 tahun itu janggal.

Ayah Ghofirul, Mahbub Madani mengatakan kejanggalan bermula pada Februari 2026, ketika putranya mendapat penempatan tugas di KRI Radjiman Wedyodiningrat. Di kapal bantu rumah sakit itu, prajurit TNI yang akrab disapa Ovy itu menjalani masa orientasi selama tiga bulan.

Sejak mendapat penempatan tugas, Ovy sering mengirimkan pesan kepada Ibunya. Bahkan, sebulan setelah ditempatkan di kapal militer, Ovy mengaku ingin pindah kapal.

"Anak saya mengaku dipukul seniornya. Bukan hanya satu, tapi sampai puluhan orang," ujar Mahbub Senin, 4 Mei 2026.

"Bahkan, dia bilang tidak kuat dan ingin pindah ke kapal di Surabaya. Saat itu, kapalnya dia di Jakarta," sambungnya.

Kejanggalan semakin terlihat pada akhir Maret, saat pihak keluarga didatangi dua orang yang mengaku sebagai senior Ovy. Dua orang tersebut mengaku mencari Ovy karena diduga kabur dari kapalnya.

"Dua orang itu mengaku komandan di kapalnya, mencari anak saya. Katanya anak saya kabur dari kapal," tutur Mahbub.

Namun, sehari setelah dua orang tersebut datang ke rumah keluarga, orangtua Ovy kembali mendapatkan telepon dari salah satu seniornya, dan memberitahukan Ovy meninggal dunia.

1. Wajah jenazah Ovy dipenuhi luka lebam

Ilustrasi - TNI Angkatan Laut (TNI AL) kembali memperkuat kerja sama pertahanan kawasan dengan menggelar latihan bersama atau Passing Exercise (PASSEX) bersama Angkatan Laut Malaysia di perairan Laut Jawa, Sabtu (4/4/2026) (dok. Dispenal)

Lebih lanjut, jenazah Ovy tiba di rumah duka di Kabupaten Bangkalan, Madura, pada Senin 27 April 2026 sekitar pukul 01.30 WIB. Peti jenazah sempat dibuka sedikit agar keluarga bisa melihat wajah Ovy.

"Di situ saya melihat wajah anak saya lebam-lebam. Itu saja sudah sangat aneh bagi saya," ujar Mahbub.

Mahbub pun teringat putranya pernah mengeluh selama bertugas di kapal bantu rumah sakit sering dipukul seniornya TNI AL.

"Yang memukul bukan hanya satu, tetapi puluhan orang," tutur dia.

Itu sebabnya, Ovy mengaku tidak kuat dan ingin pindah kapal di Surabaya. Penganiayaan itu, kata Mahbub, berlangsung hampir setiap malam.

"Ovy itu bilang kalau siang dia kerja dan malamnya dibantai. Dia selalu tidur jam 2 dan jam 3 sudah dibangunkan lagi. Anak saya juga kerap mengirim pesan minta tolong pada kami," katanya.

2. TNI AL sebut Ovy meninggal karena bunuh diri

Ilustrasi. Kapal Rumah Sakit TNI, KRI dr Radjiman Wedyodinigrat 992 saat bersandar di Pelabuhan Batu Ampar, Kota Batam (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)

Komando Armada I TNI Angkatan Laut (AL) kemudian angkat bicara untuk memberikan klarifikasi soal kematian Kelasi Dua Ghofirul Kasyi. Kepala Dinas Penerangan Koarmada I, Kolonel (P) Ary Mahayasa mengatakan berdasarkan hasil visum et repertum yang dikeluarkan Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Mintoharjo Jakarta pada 26 April 2026, tidak ditemukan lebam akibat kekerasan benda tumpul di tubuh Ovy.

"Juga tidak ditemukan pendarahan pada area selangkangan, sebagaimana informasi yang beredar. Pemeriksaan visum tersebut juga dihadiri oleh keluarga almarhum," ujar Ary dalam keterangan, Selasa (5/5/2026).

Alih-alih akibat tindak kekerasan, Ary menyebut, terdapat luka di bagian leher yang menunjukkan luka tekan yang melingkar. "Luka itu disertai pengelupasan kulit ari yang pola dan karakteristiknya secara medis identik dengan luka gantung," katanya.

Maka itu, kata Ary, hasil pemeriksaan medis menyimpulkan penyebab kematian KLD Ovy murni akibat mengakhiri hidup, bukan disebabkan tindak kekerasan seniornya.

"Luka lebam pada jenazah yang terlihat sebelum dimakamkan adalah livor mortis, di mana merupakan salah satu tanda pasti kematian yang disebabkan oleh berhentinya sirkulasi darah. Sehingga sel darah merah (eritrosit) mengendap ke bagian tubuh terendah, akibat pengaruh gaya gravitasi," tutur dia.

3. Keluarga KLD Ovy tak percaya putranya meninggal karena akhiri hidup

Ilustrasi jenazah. (IDN Times/Sukma Shakti)

Namun, Mahbub menolak keterangan TNI AL bahwa putranya meninggal dunia akibat akhiri hidup. Ia yakin putranya itu sosok yang punya mental kuat.

"Bagi kami itu hal yang mustahil dilakukan anak saya. Dia itu orangnya tegar, dan dia juga ikut bela diri, jadi mentalnya cukup kuat. Pilihan bunuh diri bagi dia rasanya tidak mungkin," katanya.

Jenazah KLD Ghofirul sudah dimakamkan dengan upacara militer di TPU Kemayoran, Bangkalan, pada 27 April 2026. Padahal, berdasarkan Peraturan Panglima TNI Nomor 46 Tahun 2020, tentang Tata Cara Upacara Militer, prajurit TNI yang meninggal karena akhiri hidup tak berhak mendapatkan pemakaman secara militer.

Editorial Team